Mas Rizky bilang begitu, maka saya bilang: Ahlan, ightarortu bikalamikum, Ya Shohib.
Kembali, kita perlu mendudukkan persoalan "Apakah berdebat demi mencari kebenaran?" Saya bilang, (1) kebenaran misteri tuhan dan prerogatif tuhan, karenanya berdebat berhenti sebab ketenteraman tercapai (2). Mas Umam sudah mengingatkan bahwa diatas kebenaran relatif ada kebenaran universal (Aristotle), diatas dalil dhonny ada qot'i (ushul) Saya menekankan bahwa qot'iyudilalah itu ada ketika ada ijmak, ketika dilalahnya diperselisihkan maka tidak ada qot'iyuddilalah, meski dari dalil qot'i. Mas Rizki menekankan: (1) rujukan yang sama untuk mencapai konvergensi, (2) terukur dan (3) pintu masuknya kepercayaan Mas Rizki juga mengkhawatirkan, jangan sampai sebab frustasi kita mengatakan "kebenaran milik Allah". Dan lagi ketenteraman itu ada dua, ketenteraman nyata dan ghurur. Sudah banyak masukkan yang sangat berharga dan ini menjadi perhatian kita bersama ketika berdebat tentunya. Terlebih dahulu saya ingin menjelaskan "ketenteraman", karena boleh jadi bernilaikan ghurur atau nyata. Ini bermula dari "ingatlah bahwa dengan dzikrullah menenteramkan kalbu". Ini ada dua parameter yang 'bias', satu dzikrullah dan dua ketenteraman kalbu. Dzikrullah nya 'sejati' dan hakikat, tetapi ketenteraman hatinya empirik dan relatif. Karena itu, ayat ini bisa ditafsirkan sebagai tasawuf, bisa juga kedalam ranah ilmu pengetahuan. Dalam ranah ilmu pengetahuan, dimana berdebat bisa diasosiasikan sebagai kegiatan dalam berilmu pengetahuan, ketenteraman kalbu ini terbentuk sebab konsep ilmu pengetahuan yang mendahuluinya dan diyakini oleh masing-masing penuntut ilmu. Lagi-lagi, pelajar dari barat dengan dari timur akan memiliki konsep yang menenteramkan yang berbeda.Untuk mendamaikannya, buang itu jubah kebaratan dan ketimuran, kembali ke hati nurani dan kejujuran. Namun jangan terlalu ngotot bahwa hati nurani dan kejujuran itu bisa dilakukan dengan mudah antar dua pihak yang berdebat sehingga mencapai ketenteraman yang sama, karena ada satu hal yang perlu kita sadari bahwa ketenteraman itu pengalaman ruhani. Lagi-lagi, disini kita terbentur oleh dua fakta bahwa "roh-roh itu militer yang terkena militerisasi, yang sama (korp) akan saling mengenal, yang beda (korp) akan saling mengingkari". Nah, pada fakta roh-roh itu terkena militerisasi, sehingga hanya yang satu korp akan bisa bertemu dalam ketenteraman bersama... maka dalam berdebat... akhirnya perlu mendinginkan kalbu, bahwa "ini urusan hidayah"... doa lah pada akhirnya. Dan tempatkan posisi kita sebagai makhluk tuhan, bukan tuhan itu sendiri. Meskipun hal ini dilakukan dengan orang kafir. Maksud "billatii hiya ahsan" itu tak terbatas dan tidak tertakar oleh teori bahwa yang ahsan ini begini dan begitu..... Ya yang ahsan puncak itu bersandar kepada hidayah Allah. Gusti Allah saja membatasi kata-katanya dengan AHSAN... Yang lebih dari AHSAN? Itu misteri Gusti Allah. Dalam slogan ilmu teknik, "Jangan pernah berkata "Yang Terbaik" tetapi katakanlah "Yang Lebih Baik". Never for the most just for the more. Slogan ini dibangun atas kesadaran bahwa dunia ini dipenuhi oleh open-ended problem. Masalah yang ujungnya tetap terbuka, tidak pernah final. Tidak pernah sampai kepada simpul, yang ada adalah usaha yang terbaik yang pernah dimampui pada suatu kendala tertentu. Optimal bahasa gampangannya. Nah inilah sebetulnya kerendahan diri, inti dari akhlak yang mulia. Inilah kesadaran makna dari ketenteraman. Karena itu dalam ukuran rekayasa/ teknik ada standar, yang pada hakekatnya adalah kesepakatan pihak-pihak yang menjamin 'ketenteraman'. Bukan puncak. Segitu dulu ah. Barangkali ada yang mau menambahkan, monggo. ________________________________ From: "[email protected]" <[email protected]> To: [email protected] Sent: Thu, May 27, 2010 12:26:21 PM Subject: Re: [kmnu2000] Apakah berdebat untuk mencari kebenaran? Ya memang namanya percaya kan rahasianya rahasia, jadi buat pribadi sajalah. saya sendiri ketika nulis email baru juga nyadari saya sendiri terlibat dalam perdebatan dengan muqadimah yang tidak tepat. Tapi dalam kasus debat kusir yg lalu memang ada niatan untuk memperjelas sikap forum, bukan semata-mata reaksionis atas dasar emosi. Karena kita sadari milis ini di ikuti banyak kalangan, jangan sampai kalangan lain salah ekspektasi terhadap NU gara-2 performance anggota Forum. Namanya juga usaha, kalau memang tidak pas, mohon do'a nya saja dan maafkan saya. Rizky Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: sofwan nadi <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Wed, 26 May 2010 21:09:06 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [kmnu2000] Apakah berdebat untuk mencari kebenaran? Betul sekali Mas, Reez. mas Rizki, emank mak nyos. Saya menonjolkan ketenteraman ini karena memang ada yang ghurur. Dan kalau kita mau jujur, ketika kita berdebat sering kali terjebak dalam ghurur. He.he. bukan kita lah, saya aja, bukan Mas. Terus lagi, Mas. Di Alquran disebutkan berdebat itu bukan dengan orang se-kepercayaan. Dg Ahli Kitab. Kalau dengan se-kepercayaan, wonk sudah sama-sama satu ushul ya, jadi hanya menunjukkan informasi, lalu mendiskusikan. Bukan berdebat. Jadi benar kata Mas Reez, pintu masuknya percaya, itu dengan sama-sama se kepercayaan. Kalau dengan yang tidak se-kepercayaan, bisa jadi awal masuknya curiga. Contoh, sama-sama santri NU, satu kepercayaan, satu fam, satu aqoid, satu madzhab, satu kitab lagi. Ribut antara mereka dalam suatu bahtsul masail, masih belum dikategorikan berdebat. Karena hanya mencari info-info dan penguat-penguat saja, sehingga pemahaman disepakati. Apa-apanya sudah sepakat dan sama, hanya mencari pengukuh-pengukuh saja bagi dicapainya pemahaman thd suatu objek baru. Nah kalibrasi itu lagi ada kelompok-kelompoknya. Kalau dengan yang tidak sekepercyaan, ndak bisa dikalibrasi dengan cara yang sama dengan kalau kita dengan sekepercayaan. Nah... makanya saya bilang, berdebat itu ujung-ujungnya berhenti kepada ketenteraman. Kenapa, saya terlalu ceroboh kalau bilang berhentinya pada kebenaran yang tercapai. Karena, ya itu... banyak ghururnya dari pada jujur. ________________________________ From: "[email protected]" <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wed, May 26, 2010 9:05:33 PM Subject: Re: [kmnu2000] Apakah berdebat untuk mencari kebenaran? Menurut saya pintu masuknya ya percaya. Semua teori jika muqadimahnya adalah ketidakpercayaan, curigesyen, underestimate, sebelah mata, lan sapanunggale, apalagi syahwat. Maka kebenaran yang dipaparkan Allah didepan bashirah kita ya tetap akan terhalang hijab hijab berlapis lapis walaupun kebenaran yang didiskusikan dikoridori oleh ilmu2 ushul fiqh dll. Secara frustasi bisa dikembalikan kepada term "Kebenaran hanya milik Allah". Dan ketentraman yang dijadikan patokan Yai Sofwan, ketentraman yang gimana? Manusia dalam alam Ghurur tenteramnya tidak sama dengan alam Nyata. Jadi ada baiknya kita mengkalibrasi kembali tingkat kepercayaan kita sebelum mendefinisikan kebenaran. Hal tsb penting agar kita bisa memberi kategori suatu produk fiqh mana masuk kategori "dipertimbangkan", mana masuk kategori "harap maklum", mana masuk kategori "tidak benar/bahaya", dan mana yang masuk kategori "benar". Jadi tidak semua disikapi benar salah saja, sehingga perselisihan juga akan lebih intelek lagi. Rizky Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: sofwan nadi <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 25 May 2010 23:42:36 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [kmnu2000] Apakah berdebat untuk mencari kebenaran? Ok Mas. Dalam kaidah-kaidah kebenaran di ushul fiqh, kita mengenal ada dalil qat'i. Ya, ini betul. Malah ada yang lebih tegas, disebut sebagai "dilalah nya qat'i". Yang ini lebih jos dari yang diatas. Tapi Mas ini lebih jos lagi: "Pemaknaan terhadap mafhumnya sudah menjadi Ijmak". Nah ini lebih jos, jos lagi, ya Mas. Jadi begini Mas, adanya dilalah yang qot'i itu benar apabila ada ijmak terhadap pemahamannya. Bila tidak ada ijmak, meskipun orang bilang dilalah nya qat'i, ini mardud Mas. Tidak ada ijmak artinya berselisih. Artinya dilalah nya dipahami berbeda-beda. Kalau begini, tidak ada lagi namanya qat'iyyuddilalah, Mas. Pada yang ijmak, semestinya tidak ada perdebatan bagi kalangan yang mengerti Ushul dan yang menerima Ijmak. Tentu saja bagi Wahhabi yang menolak Ijmak, hal ini tidak berlaku. Maka terjadilah perdebatan meskipun pada yang sudah Ijmak. mengapa? karena yang satu menerima ijmak, yang lainnya menolak ijmak. Kalau ada dua orang berhadapan dengan perbedaan dasar pandangnya, Mas mau bilang apa? Wong, mereka sudah berbeda pegangan. Ketika pondasinya tidak sepaham, ya tidak mungkin kita bilang "kembali ke dalil qat'i". Wong, siapa yang bilang ini dalil qat'i saja sudah berbeda dasar pegangan, lalu bagaimana akan sama-sama sepakat bahwa dalil itu qat'i. Karena itu saya bilang kepada mereka yang tidak segaris pandangan, "kembali kepada tuhan, karena kebenaran prerogatif tuhan". Maksudnya, kita jangan ngeyel, wong kita bukan tuhan kok. Siapa mereka? Mereka itu adalah santri yang menerima Ijmak dengan santri yang menolak Ijmak. Kenapa saya bilang "ketenteraman". Yang menenteramkan santri NU adalah kaidah-kaidah mu'tabar dalam lingkungan madzhab 4. Yang diluar ini semua, tidak menenteramkan santri NU. Berbeda dengan santri Wahhabi, yang menenteramkan mereka adalah kaidah-kaidah yang mereka pegang jadi pedoman. yang diluar ini, bagi mereka tidak menenteramkan. Kalau masih ada, silahkan lanjutkan. ________________________________ From: Umam Zein <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tue, May 25, 2010 8:17:50 AM Subject: Re: [kmnu2000] Apakah berdebat untuk mencari kebenaran? Mungkin bisa dimulai dengan maksud kalimat: "kebenaran adalah misteri tuhan. Nilainya prerogatif tuhan. Penentuannya nanti di pengadilan tuhan.?" Terdengar seperti digenelarisasi begitu saja.. [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
