Betul sekali Mas, Reez. mas Rizki, emank mak nyos. Saya menonjolkan ketenteraman ini karena memang ada yang ghurur. Dan kalau kita mau jujur, ketika kita berdebat sering kali terjebak dalam ghurur. He.he. bukan kita lah, saya aja, bukan Mas.
Terus lagi, Mas. Di Alquran disebutkan berdebat itu bukan dengan orang se-kepercayaan. Dg Ahli Kitab. Kalau dengan se-kepercayaan, wonk sudah sama-sama satu ushul ya, jadi hanya menunjukkan informasi, lalu mendiskusikan. Bukan berdebat. Jadi benar kata Mas Reez, pintu masuknya percaya, itu dengan sama-sama se kepercayaan. Kalau dengan yang tidak se-kepercayaan, bisa jadi awal masuknya curiga. Contoh, sama-sama santri NU, satu kepercayaan, satu fam, satu aqoid, satu madzhab, satu kitab lagi. Ribut antara mereka dalam suatu bahtsul masail, masih belum dikategorikan berdebat. Karena hanya mencari info-info dan penguat-penguat saja, sehingga pemahaman disepakati. Apa-apanya sudah sepakat dan sama, hanya mencari pengukuh-pengukuh saja bagi dicapainya pemahaman thd suatu objek baru. Nah kalibrasi itu lagi ada kelompok-kelompoknya. Kalau dengan yang tidak sekepercyaan, ndak bisa dikalibrasi dengan cara yang sama dengan kalau kita dengan sekepercayaan. Nah... makanya saya bilang, berdebat itu ujung-ujungnya berhenti kepada ketenteraman. Kenapa, saya terlalu ceroboh kalau bilang berhentinya pada kebenaran yang tercapai. Karena, ya itu... banyak ghururnya dari pada jujur. ________________________________ From: "[email protected]" <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wed, May 26, 2010 9:05:33 PM Subject: Re: [kmnu2000] Apakah berdebat untuk mencari kebenaran? Menurut saya pintu masuknya ya percaya. Semua teori jika muqadimahnya adalah ketidakpercayaan, curigesyen, underestimate, sebelah mata, lan sapanunggale, apalagi syahwat. Maka kebenaran yang dipaparkan Allah didepan bashirah kita ya tetap akan terhalang hijab hijab berlapis lapis walaupun kebenaran yang didiskusikan dikoridori oleh ilmu2 ushul fiqh dll. Secara frustasi bisa dikembalikan kepada term "Kebenaran hanya milik Allah". Dan ketentraman yang dijadikan patokan Yai Sofwan, ketentraman yang gimana? Manusia dalam alam Ghurur tenteramnya tidak sama dengan alam Nyata. Jadi ada baiknya kita mengkalibrasi kembali tingkat kepercayaan kita sebelum mendefinisikan kebenaran. Hal tsb penting agar kita bisa memberi kategori suatu produk fiqh mana masuk kategori "dipertimbangkan", mana masuk kategori "harap maklum", mana masuk kategori "tidak benar/bahaya", dan mana yang masuk kategori "benar". Jadi tidak semua disikapi benar salah saja, sehingga perselisihan juga akan lebih intelek lagi. Rizky Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: sofwan nadi <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 25 May 2010 23:42:36 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [kmnu2000] Apakah berdebat untuk mencari kebenaran? Ok Mas. Dalam kaidah-kaidah kebenaran di ushul fiqh, kita mengenal ada dalil qat'i. Ya, ini betul. Malah ada yang lebih tegas, disebut sebagai "dilalah nya qat'i". Yang ini lebih jos dari yang diatas. Tapi Mas ini lebih jos lagi: "Pemaknaan terhadap mafhumnya sudah menjadi Ijmak". Nah ini lebih jos, jos lagi, ya Mas. Jadi begini Mas, adanya dilalah yang qot'i itu benar apabila ada ijmak terhadap pemahamannya. Bila tidak ada ijmak, meskipun orang bilang dilalah nya qat'i, ini mardud Mas. Tidak ada ijmak artinya berselisih. Artinya dilalah nya dipahami berbeda-beda. Kalau begini, tidak ada lagi namanya qat'iyyuddilalah, Mas. Pada yang ijmak, semestinya tidak ada perdebatan bagi kalangan yang mengerti Ushul dan yang menerima Ijmak. Tentu saja bagi Wahhabi yang menolak Ijmak, hal ini tidak berlaku. Maka terjadilah perdebatan meskipun pada yang sudah Ijmak. mengapa? karena yang satu menerima ijmak, yang lainnya menolak ijmak. Kalau ada dua orang berhadapan dengan perbedaan dasar pandangnya, Mas mau bilang apa? Wong, mereka sudah berbeda pegangan. Ketika pondasinya tidak sepaham, ya tidak mungkin kita bilang "kembali ke dalil qat'i". Wong, siapa yang bilang ini dalil qat'i saja sudah berbeda dasar pegangan, lalu bagaimana akan sama-sama sepakat bahwa dalil itu qat'i. Karena itu saya bilang kepada mereka yang tidak segaris pandangan, "kembali kepada tuhan, karena kebenaran prerogatif tuhan". Maksudnya, kita jangan ngeyel, wong kita bukan tuhan kok. Siapa mereka? Mereka itu adalah santri yang menerima Ijmak dengan santri yang menolak Ijmak. Kenapa saya bilang "ketenteraman". Yang menenteramkan santri NU adalah kaidah-kaidah mu'tabar dalam lingkungan madzhab 4. Yang diluar ini semua, tidak menenteramkan santri NU. Berbeda dengan santri Wahhabi, yang menenteramkan mereka adalah kaidah-kaidah yang mereka pegang jadi pedoman. yang diluar ini, bagi mereka tidak menenteramkan. Kalau masih ada, silahkan lanjutkan. ________________________________ From: Umam Zein <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tue, May 25, 2010 8:17:50 AM Subject: Re: [kmnu2000] Apakah berdebat untuk mencari kebenaran? Mungkin bisa dimulai dengan maksud kalimat: "kebenaran adalah misteri tuhan. Nilainya prerogatif tuhan. Penentuannya nanti di pengadilan tuhan.?" Terdengar seperti digenelarisasi begitu saja.. [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
