Ok Mas.
Dalam kaidah-kaidah kebenaran di ushul fiqh, kita mengenal ada dalil qat'i. Ya, 
ini betul.
Malah ada yang lebih tegas, disebut sebagai "dilalah nya qat'i". Yang ini lebih 
jos dari yang diatas.

Tapi Mas ini lebih jos lagi: "Pemaknaan terhadap mafhumnya sudah menjadi 
Ijmak". Nah ini lebih jos, jos lagi, ya Mas.

Jadi begini Mas, adanya dilalah yang qot'i itu benar apabila ada ijmak terhadap 
pemahamannya. Bila tidak ada ijmak, meskipun orang bilang dilalah nya qat'i, 
ini mardud Mas. Tidak ada ijmak artinya berselisih. Artinya dilalah nya 
dipahami berbeda-beda. Kalau begini, tidak ada lagi namanya qat'iyyuddilalah, 
Mas.

Pada yang ijmak, semestinya tidak ada perdebatan bagi kalangan yang mengerti 
Ushul dan yang menerima Ijmak. Tentu saja bagi Wahhabi yang menolak Ijmak, hal 
ini tidak berlaku. Maka terjadilah perdebatan meskipun pada yang sudah Ijmak. 
mengapa? karena yang satu menerima ijmak, yang lainnya menolak ijmak. Kalau ada 
dua orang berhadapan dengan perbedaan dasar pandangnya, Mas mau bilang apa? 
Wong, mereka sudah berbeda pegangan.

Ketika pondasinya tidak sepaham, ya tidak mungkin kita bilang "kembali ke dalil 
qat'i".
Wong, siapa yang bilang ini dalil qat'i saja sudah berbeda dasar pegangan, lalu 
bagaimana akan sama-sama sepakat bahwa dalil itu qat'i.

Karena itu saya bilang kepada mereka yang tidak segaris pandangan, "kembali 
kepada tuhan, karena kebenaran prerogatif tuhan". Maksudnya, kita jangan 
ngeyel, wong kita bukan tuhan kok.

Siapa mereka? Mereka itu adalah santri  yang menerima Ijmak dengan santri  yang 
menolak Ijmak.


Kenapa saya bilang "ketenteraman". Yang menenteramkan santri NU adalah 
kaidah-kaidah mu'tabar dalam lingkungan madzhab 4. Yang diluar ini semua, tidak 
menenteramkan santri NU.
Berbeda dengan santri Wahhabi, yang menenteramkan mereka adalah kaidah-kaidah 
yang mereka pegang jadi pedoman. yang diluar ini, bagi mereka tidak 
menenteramkan.

Kalau masih ada, silahkan lanjutkan.




________________________________
From: Umam Zein <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tue, May 25, 2010 8:17:50 AM
Subject: Re: [kmnu2000] Apakah berdebat untuk mencari kebenaran?

  
Mungkin bisa dimulai dengan maksud kalimat: "kebenaran adalah misteri tuhan. 
Nilainya prerogatif tuhan. 
Penentuannya nanti di pengadilan tuhan.?"
Terdengar seperti digenelarisasi begitu saja..

[Non-text portions of this message have been removed]


 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke