Salam.

Telah berlalu masa sekira 1400 tahunan Baginda Nabi Muhammad dengan kita, 1250 
tahunan Imam Hanafi dengan kita dan sekira 1150 tahunan Imam Syafii dengan 
kita. Zaman pun telah berubah berkali-kali, apalagi bila dihitung sejak Nabi 
Ibrahim kepada masa kita.

Terkadang kita lupa, bahwa Baginda Nabi bukan tukang ramal.Beliau hanya tahu 
masa depan sebab dikabari oleh Allah, kalau tidak, beliau tidak tahu masa depan 
sama sekali. Para imam mujtahid pun bukan para tukang ramal. Tapi kita 
seringkali terperosok memperlakukan sabda-sabda dan fatwa-fatwa mereka ibarat 
ramalan dari para tukang ramal. Apa yang mereka katakan pada hari itu sebagai 
obat dari gejala hari itu untuk mengobati penyakit di hari itu, kita ambil dan 
jadikan resep sebagai obat untuk mengobati gejala dan penyakit di hari ini. 
Seolah-olah para imam itu adalah tukang ramal yang memberi resep untuk obat 
bagi penyakit di masa depan. Memikirkan ini, menandakan bahwa cara pandang kita 
dalam bertauhid perlu diperbaiki.

Kalau kita mau jujur, kaidah yang mengatakan bahwa fatwa berubah dengan tempat 
dan masa... maka kitab-kitab ilmuwan dari masa dahulu, sebagian besar akan 
menjadi musium di hari ini. Namun sebagian kita menjadikan itu semua menjadi 
kitab suci yang dikultuskan semua isinya untuk hari ini.

Fatwa-fatwa di masa purbakala telah diambil oleh sebagian kaum mukminin sebagai 
asas pendirian organisasi yang berminat mengobati penyakit hari ini dengan 
resep di zaman purba. Akibatnya:
- ada orang sakit flu diobati dengan resep sakit encok
- ada orang sakit kepala diobati dengan resep bisul

Kitab-kitab fikih adalah produk pemahaman para ahli  yang digubah pada zaman 
purba dari sumber-sumber firman dan sabda. Bila kita buka sepintas saja, 
khususnya pada bab-bab yang terkait dengan Kafir, maka kita akan menangkap ruh 
zaman masa itu. Pembahasannya hanya mencerminkan keadaan ruh zaman itu yang 
sungguh mengerikan, yang berbeda dengan zaman kini.

Mari kita berlaku jujur: apakah Imam Syafii dapat membayangkan apa yang terjadi 
di zaman ini, bagaimana hubungan agama dengan agama yang lain, bagaimana sistem 
politik negara, bagaimana sistem hubungan antar penduduk dengan negara, 
bagaimana sistem hubungan negara dengan negara yang lain?
Kalau kita menjawab: Ya, Imam Syafii mengetahuinya. 
Maka kita menuduh Imam Syafii sebagai tukang ramal. Dengan begitu tentu saja 
ada cacad pada tauhid kita.

Tulisan ini dan saran yang terkandung didalamnya, sulit kiranya kalau 
diharapkan atau diarahkan kepada organisasi-organisasi gerakan yang lupa zaman.
Karena, melakukan koreksi dan perbaikan kepada "manhaj" yang sudah kadung 
diformulasi baginya tidaklah mudah, apalagi kalau pengikutnya sudah banyak. 
Apalagi para pimpinannya sudah memperoleh banyak "upeti" dari para pengikutnya. 
Bertaubat bukanlah perbuatan yang mudah semudah mengucapkan kalimat 
astaghfirullah.
Kalau sadar dengan kekeliruan... sikap yang memungkinkan hanyalah bersifat 
pribadi, persis seperti Pak KH Zainuddin MZ mengundurkan diri dari PBR yang 
tidak serta-merta diikuti para pengikutnya yang duduk di jajaran pengurus.

Akhirnya, saya pribadi bersyukur kepada Allah Sang maha Perencana yang telah 
menghadirkan NU, Muhammadiyah, Al-Wasliyah, Perti, PUI, Al-Khairat dan 
sejenisnya di bumi Indonesia. Merekalah benteng terakhir yang dapat dipercaya 
sampai hari ini untuk berfikir lebih realistis dalam kaitannya dengan 
keindonesiaan. Semoga.



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke