FPI tetap dibutuhkan selama penegak hukum di negara kita belum optimal,,penegak 
hukum di negara  kita masih lemah,,mereka mudah untuk di suap,,baik polri 
maupun kejaksaan,,





________________________________
From: Cepi Al Hakim <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Mon, June 28, 2010 2:56:13 PM
Subject: Bls: [kmnu2000] Tindakan FPI Banyuwangi harus kita lawan bersama

  
MAri kita dukung FPI menghapuskan komunisme dari Tanah Indonesia tercinta...
salam hangat,

Abu Ghibral

--- Pada Sab, 26/6/10, Umar Said <[email protected]> menulis:

Dari: Umar Said <[email protected]>
Judul: [kmnu2000] Tindakan FPI Banyuwangi harus kita lawan bersama
Kepada: "KMNU" <[email protected]>
Tanggal: Sabtu, 26 Juni, 2010, 4:27 AM

 

Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr

yang sampai sekarang sudah dikunjungi  620 230 kali

= = = =   = = =   = = =

Tindakan FPI Banyuwangi harus

kita lawan  bersama

Berikut di bawah ini disajikan pernyataan (statement) Dr Ribka Tjiptaning

dan berita Antara tentang tindakan FPI (Front Pembela Islam) Banyuwangi yang

dengan menggunakan kekerasan telah membubarkan pertemuan antara

anggota-anggota Komisi IX DPR (bidang Kesehatan dan Tenaga Kerja) dengan

masyarakat, dengan alasan bahwa pertemuan itu adalah suatu kegiatan

berselubung  untuk menumbuhkan semangat komunisme lagi karena banyak peserta

dari luar Kabupaten Banyuwangi yang datang, Menurut Ketua FPI Banyuwangi,

pertemuan itu merupakan acara temu kangen bekas anggota PKI dan

keturunannya, sehingga pertemuan tersebut harus dibubarkan.

Untuk itu, lanjut dia, FPI bersama organisasi masyarakat Islam di Banyuwangi

membubarkan acara tersebut untuk menjaga kondusivitas keamanan di kabupaten

paling timur Pulau Jawa itu.

"Kami mengantisipasi tumbuhnya bibit PKI baru karena gerakan PKI pada tahun

1965 berawal dari Kabupaten Banyuwangi," katanya menambahkan.

Mengingat seriusnya tindakan destruktif FPI Banyuwangi dalam peristiwa ini

bagi persatuan bangsa, yang bertentangan dengan Pancasila dan  Bhinneka

Tunggal Ika seperti yang selalu dianjurkan oleh Bung Karno dan Gus Dur, maka

akan disajikan sebuah tulisan tersendiri mengenai berbagai hal yang

berkaitan dengan peristiwa ini.

Sebab, peristiwa FPI Banyuwangi ini sebenarnya mempunyai dimensi yang tidak

kecil, dan yang ada hubungannya juga dengan politik dan praktek-praktek Orde

Baru, yang anti-Bung Karno dan anti-komunis.Pernyataan Ketua FPI Banyuwangi

bahwa pertemuan itu merupakan acara temu kangen bekas anggota PKI dan

keturunannya, sehingga pertemuan tersebut harus dibubarkan, sepenuhnya

mencerminkan satunya atau persamaan antara pandangan FPI dengan  rejim

militer Suharto mengenai  masalah ini.

Tindakan FPI Banyuwangi yang destruktif bagi persatuan bangsa dan karenanya

juga mencemarkan nama Islam ini perlu kita lawan bersama dengan berbagai

cara dan jalan, demi kebaikan bangsa beserta anak cucu kita di kemudian

hari. Kita tidak boleh membiarkan FPI terus-menerus menyebarkan racun dan

merusak sendi-sendi demokrasi, dan menghancurkan dasar-dasar Republik

Indonesia, yang telah dibangun dengan susah-payah oleh para perintis

kemerdekaan.

Paris, 26 Juni 2010

1.. Umar Said

= = ==   = = = ==

Statement Dr. Ribka Tjiotaning :

TOLAK POLITIK ANTI DEMOKRASI,

TOLAK POLITIK DISKRIMINATIF

Pada tanggal 21 Juni sampai dengan 23 Juni 2010, Komisi IX yang membidangi

Kesehatan dan Tenaga Kerja melakukan Kuker (Kunjungan Kerja) ke Propinsi

Jawa Timur. Rombongan Komisi IX DPR RI tersebut dipimpin langsung oleh

Ketua Komisi, dr Ribka Tjiptaning.

Kuker tersebut bertujuan memantau langsung pelayanan kesehatan dan

kebijakan ketenagakerjaan berbagai kota di Jawa Timur. Sekaligus ingin

menghimpun secara langsung aspirasi dan masukan masyarakat.

Pada tanggal 24 Juni seharusnya jadwal Kuker sudah selesai, tetapi banyak

elemen masyarakat berbagai kota di Jatim ingin bertemu dengan Ketua Komisi

IX DPR RI. Selama ini Ketua Komisi IX menerapkan kebijakan yang tidak

birokratis kepada elemen masyarakat yang berkeinginan menyampaikan

aspirasinya. Walau sudah selesai jadwal resmi, Ketua Komisi dr Ribka

Tjiptaning beserta Rieke Dyah Pitaloka dan Nursuhud (semuanya anggota

Fraksi PDIP)

mau menerima undangan tersebut.

Mereka bertiga tanggal 23 berkunjung ke Pondok Pesantren Al Qodiri 1, yang

diasuh KH Ach Muzakki Syah. Kunjungan rombongan ini diterima dan disambut

meriah oleh ribuan santri. Pada tanggal 24 Juni kami bertiga berencana

bertemu dengan PPNI (Persatuan Perawat Indonesia) dan IBI (Ikatan Bidan

Indonesia) pada pukul 13.00 WIB di Banyuwangi. Pada pukul 10.00 kami

bertemu  terlebih dahulu dengan masyarakat di satu rumah makan di Kelurahan

Pakis, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Intiya Ketua Komisi IX memberi

materi

tentang hak masyarakat untuk memperoleh kesehatan secara gratis, dan juga

sosialisasi RUU BPJS yang sedang dibahas di DPR.

Acara tersebut dibubarkan secara paksa oleh Ormas Islam  : Front Pembela

Islam Banyuwangi, Jawa Timur bersama Forum Umat Beragama, dan LSM Gerak.

Polisi yang berada di sana justru turut membubarkan seperti permintaan dan

tututan ormas tersebut. Mereka menuduh acara tersebut adalah pertemuan

kader komunis.

Atas peristiwa ini, kami menyatakan sikap :

1. Bahwa yang dilakukan Front Pembela Islam Banyuwangi, Jawa Timur bersama

Forum Umat Beragama, dan LSM Gerak merupakan tindakan anti demokrasi dan

melanggar HAM.

2. Hapuskan sikap politik diskriminatif. Meniadakan satu kelompok dalam

realita kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti kebijakan yang

diskriminatif terhadap korban ’65 merupakan tindakan yang tidak menghargai

pluralisme, tidak toleran, dan tidak berbudaya.

3. Aparat yang turut membubarkan acara tersebut cermin kegagalan

pemerintahan SBY dalam mereformasi tubuh Polri.

Dengan begitu, saya akan melaporkan tindakan pelanggaran HAM tersebut ke

Komnasham pada Senin tanggal 28 Juni 2010.

Jakarta, 25 Juni 2010

Dr Ribka Tjiptaning

* * *

FPI Bubarkan Sosialisasi Kesehatan Komisi IX DPR

Kamis, 24 Juni 2010

Banyuwangi (ANTARA News) - Front Pembela Islam (FPI) bersama Forum

Banyuwangi Cinta Damai dan LSM Gerak membubarkan acara sosialisasi kesehatan

gratis yang digelar Komisi IX DPR di salah satu rumah makan di Kelurahan

Pakis, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis.

"Ini ada komunitas anggota PKI (Partai Komunis Indonesia). Kenapa ada di

sini?" kata Ketua FPI Banyuwangi, Aman Faturahman, kepada sejumlah peserta

pertemuan yang terkejut melihat kehadiran anggota FPI itu.

Acara sosialisasi kesehatan gratis itu dihadiri Ketua Komisi IX DPR, dr.

Ribka Tjiptaning Proletariati dan anggota Komisi IX, Rieke Dyah Ayu

Pitaloka.

Melihat suasana yang semakin memanas, panitia segera mengevakuasi Ribka dan

Rieke ke kantor DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Jalan

Jaksa Agung Suprapto, Banyuwangi.

Menurut Ketua FPI Banyuwangi, pertemuan itu merupakan acara temu kangen

bekas anggota PKI dan keturunannya, sehingga pertemuan tersebut harus

dibubarkan.

"Sosialisasi kesehatan gratis dari Komisi IX hanya sebagai kedok. Saya

curiga acara itu merupakan kegiatan terselubung untuk menumbuhkan semangat

komunisme lagi karena banyak peserta dari luar Kabupaten Banyuwangi yang

datang," kata Aman.

Untuk itu, lanjut dia, FPI bersama organisasi masyarakat Islam di Banyuwangi

membubarkan acara tersebut untuk menjaga kondusivitas keamanan di kabupaten

paling timur Pulau Jawa itu.

"Kami mengantisipasi tumbuhnya bibit PKI baru karena gerakan PKI pada tahun

1965 berawal dari Kabupaten Banyuwangi," katanya menambahkan.

Sementara itu, Ribka Tjiptaning mengaku kecewa dengan sikap FPI yang

membubarkan secara paksa acara sosialisasi kesehatan gratis Komisi IX DPR.

Padahal, menurut dia, sosialisasi tersebut sangat diperlukan oleh masyarakat

di daerah.

"Kami tidak melakukan temu kangen bekas anggota atau keturunan PKI di

Banyuwangi. Acara kami ini murni tugas Komisi IX DPR tentang sosialisasi

pentingnya penyediaan fasilitas kesehatan gratis di daerah," katanya.

Penulis buku berjudul "Aku Bangga Jadi Anak PKI" itu pada 2002 mengaku sudah

terbiasa mengalami intimidasi seperti itu.

"Ini menunjukkan bahwa negara kita belum demokratis sehingga orang lain

masih berpikir awam tentang latar belakang saya," katanya.

Sementara itu, Rieke menambahkan, kegiatan sosialisasi kesehatan gratis

tersebut merupakan kegiatan umum dan bisa dihadiri siapa saja, termasuk

bekas anggota atau keturunan PKI.

"Saya menyayangkan sikap yang dilakukan FPI karena bekas anggota atau

keturunan PKI juga warga negara Indonesia," katanya.

Wakil Ketua DPC PDIP Kabupaten Banyuwangi, Muhammad Abas, mengatakan

undangan yang hadir dalam kegiatan sosialisasi kesehatan gratis tersebut

berasal dari berbagai elemen, namun beberapa peserta yang hadir merupakan

keturunan keluarga bekas anggota PKI.

"Memang benar, ada beberapa peserta yang keturunan keluarga bekas anggota

PKI," kata Abas yang juga menjadi panitia dalam kegiatan tersebut.(*)

* * *

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]


 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke