Dear all,

di saat jakarta di landa demam bb [blackberry] ,
pasti di antara kita sering mendengar kata-kata ini, " *lihat tuh... dia 
lagi autis," *
Kalimat di atas bukan ditujukan kepada penderita autis tetapi kepada 
pengguna bb yang sedang asik dengan bbnya.

Saya kebetulan pengguna bb dan juga kebetulan memiliki anak yang 
didiagnosa berkebutuhan khusus walau bukan autis - sangat tidak setuju 
penggunaan kata-kata tersebut. Bukan karena saya dicap sebagai autis, 
tetapi karena saya tahu arti kata autis.

Mengapa? Karena kata "autis" yang dalam contoh di atas di sejajarkan 
sebagai kata-kata gaul seperti : "secara", "bete" atau yang lain2.
seolah-olah sesorang bisa memilih kapan autis kapan tidak autis. Jika 
sedang asik dengan bbnya maka dia digolongkan dalam kategori autis. 
Artinya orang normal bisa memilih kapan akan autis kapan normal. 
Andaikan itu bisa terjadi pada penderita autis.. alangkah indahnya.

Bersyukur kita dikarunia kesehatan dan keselamatan, memiliki anak2 yang 
tidak berkebutuhan khusus, memiliki keponakan, sepupu yang sehat.
Tetapi jangan lupa di antara kita ada juga yang tidak.
Memiliki anggota keluarga autis bukan sesuatu yang dapat dipilih atau 
distel kapan anak saya autis kapan tidak. Ia akan hidup dengan kondisi 
autis selamanya. Yang bisa dilakukan para orang tua adalah mengenali dan 
melakukan berbagai terapi agar anaknya dapat hidup mandiri, dapat 
melakukan hal2 sebagaimana anak normal.
Tidak mudah menjadi orang tua anak autis. Apa rasanya melihat 
anak/saudara kita secara fisik cakep/cantik tetapi tidak bisa 
berkomunikasi dengan orang lain.

Bayangkan seorang keponakan kalian yang paling kalian sayang. Nah jika 
gambar keponakan tersebut sudah ada di kepala anda.. sekarang bayangkan 
anak tersebut melakukan gerakan ulang2 seperti meloncat-loncat berulang 
dan berulang, tidak bisa mengunyah makanannya ataw tiba2 ia ngamuk tidak 
terkendali di tempat umum, mengucapkan kata2 yang tidak ada artinya.
Atau sekali-kali pergilah ke tempat terapi anak2 autis yang ada.
Melihat mereka di latih dan sangat kesusahan menggenggam sendok dan 
garpu dengan benar , melihat mereka tidak terjangkau oleh kita karena 
tidak bisa melakukan kontak dengan kehidupan di luar dirinya.
Barangkali bisa lebih menghargai arti autis dan menggunakan secara benar.


Saya berharap tulisan ini bisa menggugah teman-teman  untuk tidak 
menggunakan kata autis yang disejajarkan dalam bahasa gaul seperti 
contoh di awal tulisan ini.

/Terimakasih untuk Diki Satya yang menuliskan ide ini dalam blognya 
/*"STOP PENYALAHGUNAAN KATA AUTIS/AUTISME" .*
/terimakasih untuk membaca dan memahami apalagi mau mendukung untuk 
tidak menggunakan kata autis sebagai bahan celaan./

/serta para orang tua anak autis di manapun berada atas kesabaran 
kekuatan  dan curahan kasih sayangnya
terimakasih untuk Tuhan yang hari ini memberikan kesehatan dan kepekaan 
hati akan keadaan sekeliling kita.

/

  berikut artikel mengenai autis yg saya ambil dari website yayasan 
autis anak indonesia selamat membaca.

*Autisme Masa kanak ( Childhood Autism )*
Autisme Masa Kanak adalah gangguan perkembangan pada anak yang gejalanya 
sudah tampak sebelum anak tersebut mencapai umur 3 tahun. Perkembangan 
yang terganggu adalah dalam bidang :

*1. Komunikasi : *kualitas komunikasinya yang tidak normal, seperti 
ditunjukkan dibawah ini :

    * Perkembangan bicaranya terlambat, atau samasekali tidak berkembang.
    * Tidak adanya usaha untuk berkomunikasi dengan gerak atau mimik
      muka untuk mengatasi kekurangan dalam kemampuan bicara.
    * Tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan atau memelihara suatu
      pembicaraan dua arah yang baik.
    * Bahasa yang tidak lazim yang diulang-ulang atau stereotipik.
    * Tidak mampu untuk bermain secara imajinatif, biasanya permainannya
      kurang variatif.

*2. Interaksi sosial : *adanya gangguan dalam kualitas interaksi social :  

    * Kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan ekspresi fasial, maupun
      postur dan gerak tubuh, untuk berinteraksi secara layak.
    * Kegagalan untuk membina hubungan sosial dengan teman sebaya,
      dimana mereka bisa berbagi emosi, aktivitas, dan  interes bersama.
    * Ketidak mampuan untuk berempati, untuk membaca emosi orang lain.
    * Ketidak mampuan untuk secara spontan mencari teman untuk berbagi
      kesenangan dan melakukan sesuatu bersama-sama.

*3. Perilaku : *aktivitas, perilaku dan interesnya sangat terbatas, 
diulang-ulang dan
    stereotipik seperti  dibawah ini : 

    * Adanya suatu preokupasi yang sangat terbatas pada suatu pola
      perilaku yang tidak normal, misalnya duduk dipojok sambil
      menghamburkan pasir seperti air hujan, yang bisa dilakukannya
      berjam-jam.
    * Adanya suatu kelekatan pada suatu rutin atau ritual yang tidak
      berguna, misalnya kalau mau tidur harus cuci kaki dulu, sikat
      gigi, pakai piyama, menggosokkan kaki dikeset, baru naik ketempat
      tidur. Bila ada satu diatas yang terlewat atau terbalik urutannya,
      maka ia akan sangat terganggu dan nangis teriak-teriak minta diulang.
    * Adanya gerakan-gerakan motorik aneh yang diulang-ulang, seperti
      misalnya mengepak-ngepak lengan, menggerak-gerakan jari dengan
      cara tertentu dan mengetok-ngetokkan sesuatu.
    * Adanya preokupasi dengan bagian benda/mainan tertentu yang tak
      berguna, seperti roda sepeda yang diputar-putar, benda dengan
      bentuk dan rabaan tertentu yang terus diraba-rabanya, suara-suara
      tertentu.

Anak-anak ini sering juga menunjukkan emosi yang tak wajar, temper 
tantrum (ngamuk tak terkendali), tertawa dan menangis tanpa sebab, ada 
juga rasa takut yang tak wajar.
Kecuali gangguan emosi sering pula anak-anak ini menunjukkan gangguan 
sensoris, seperti adanya kebutuhan untuk mencium-cium/ menggigit- gigit 
benda, tak suka kalau dipeluk atau dielus.
Autisme Masa Kanak lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada 
anak perempuan dengan perbandingan 3 : 1.

Salam
090

//

Kirim email ke