Saya kok tidak mau berburuk sangka, baik dengan apa yang dilakukan Gus Dur
maupun mahasiswa yang masih berkukuh dengan caranya, aksi. Semua, saya
rasa berangkat dari tanggung-jawab moral terhadap cita-cita masyarakat
yang adil dan beradab, dan makmur berkeadilan bagi semuanya, tanpa
dibatasi oleh sekat-sekat SARA yang selama ini menyelimuti keseharian
kita.

Justru saya heran ketika Amien Rais begitu mudah bereaksi. Bahkan, menuduh
Gus Dur keluar dari kesepakatan Ciganjur. Sikap itu, saya kira justru
membingungkan masyarakat. Kepada siapa mereka harus percaya ???

Apakah diplomasi dan akal sehat sudah diharamkan dalam menyelesaikan
krisis di negeri ini ? Apakah tidak sebaiknya banyak tokoh itu bertemu,
sharing ide dan membicarakan langkah-langkah strategis apa untuk keluar
dari kemelut berkepanjangan ini, daripada perang statement lewat
koran-koran dan media massa lainnya ?

Kalau boleh memilih, sih, saya lebih baik diam atau tidur saja daripada
semakin sakit hati melihat para gajah bertarung tanpa pernah berpikir
bahwa pertarungan itu telah mengganggu ketenangan lainnya ?

Menurut saya, sudah tidak pada tempatnya kalau semua aktifitas hanya
diarahkan pada target kemenangan politik saja. Semua harus bersama-sama.
Gus Dur tak bisa berbuat sendirian tanpa Amien Rais, Mega, Sri Sultan,
Bambang Widjoyanto, Wiranto, Zoemrotin KS, Mahasiswa, Kwik Kian Gie, Debra
Yatim, Taufiq Ismail, Iwan Fals, Acong, Joko, Sitorus, Sasmita atau siapa
saja. Semua harus bersatu, berjuang bersama-sama tanpa mengecilkan peran
satu dan lainnya.

Kalau untuk berbeda pendapat saja kita belum bisa, ada baiknya jangan
berharap kebaikan akan ada di bumi pertiwi. Jangan pernah merasa pernah
berbuat untuk memperbaiki negeri ini. Kebetulan, ada ajaran menarik dari
Jawa : OJO RUMONGSO BISO NANGING KUDU BISO RUMONGSO (Jangan merasa bisa
tetapi harus bisa merasa). Nah, seorang reformis, hendaknya juga jangan
merasa paling bisa memperbaiki negeri ini. Tetapi harus bisa merasa, bahwa
siapapun dari berbagai elemen bangsa ini pun berhak dan bisa mewarnai masa
depan republik ini.

Rakyat jangan dijadikan obyek untuk dibujuk kesana-kemari tanpa pernah
mengajarkan dan mendidik mereka untuk bisa menentukan dirinya harus dan
akan ke mana. Jangan bodohkan mereka.

Seorang petani tua di pelosok kampung saya di Klaten pernah mengeluh
kepada saya, bahwa ketika dijajah Belanda dulu, mereka tak pernah
menghadapi problem ekonomi seperti sekarang ini. Beras mahal, sikap
politik diatur dan pekerjaan sulit didapat. 

Ah..... entahlah....... barangkali saya terlalu bermimpi semua orang punya
nurani tanpa berpikir menang sendiri..........


_______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com

Indonesia without violence!

Kirim email ke