tadi pagi di Indosiar ada ucapan baik dari Komarudin Hidayat : "kalo ama
pak Harto aja bisa dialog, kenapa dengan sesama 'pendukung' reformasi justru
saling "mutung" satu sama lainnya ? ".
mungkin ada netters yang bisa mewawancarai kang Jalaludin Rahmat ? Sekitar
sepuluh tahun lalu (di Tempo ?) beliau pernah berucap bahwa beliau
menganggap Gus Dur sebagai 'imam politiknya' di Indonesia, karena
langkah-langkah politiknya yang asyik untuk di perhatikan. Mungkin kang
Jalal (atau sepuh-sepuh lain) bisa memberi perspektif dari sudut pandang
yang berbeda soal bola-bola liarnya Gus Dur ini.
rahmad
via rafly h
> -----Original Message-----
> From: Blontank [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>
> Saya kok tidak mau berburuk sangka, baik dengan apa yang dilakukan Gus Dur
> maupun mahasiswa yang masih berkukuh dengan caranya, aksi. Semua, saya
> rasa berangkat dari tanggung-jawab moral terhadap cita-cita masyarakat
> yang adil dan beradab, dan makmur berkeadilan bagi semuanya, tanpa
> dibatasi oleh sekat-sekat SARA yang selama ini menyelimuti keseharian
> kita.
>
> Justru saya heran ketika Amien Rais begitu mudah bereaksi. Bahkan, menuduh
> Gus Dur keluar dari kesepakatan Ciganjur. Sikap itu, saya kira justru
> membingungkan masyarakat. Kepada siapa mereka harus percaya ???
>
> Apakah diplomasi dan akal sehat sudah diharamkan dalam menyelesaikan
> krisis di negeri ini ? Apakah tidak sebaiknya banyak tokoh itu bertemu,
> sharing ide dan membicarakan langkah-langkah strategis apa untuk keluar
> dari kemelut berkepanjangan ini, daripada perang statement lewat
> koran-koran dan media massa lainnya ?
>
> Kalau boleh memilih, sih, saya lebih baik diam atau tidur saja daripada
> semakin sakit hati melihat para gajah bertarung tanpa pernah berpikir
> bahwa pertarungan itu telah mengganggu ketenangan lainnya ?
>
> Menurut saya, sudah tidak pada tempatnya kalau semua aktifitas hanya
> diarahkan pada target kemenangan politik saja. Semua harus bersama-sama.
> Gus Dur tak bisa berbuat sendirian tanpa Amien Rais, Mega, Sri Sultan,
> Bambang Widjoyanto, Wiranto, Zoemrotin KS, Mahasiswa, Kwik Kian Gie, Debra
> Yatim, Taufiq Ismail, Iwan Fals, Acong, Joko, Sitorus, Sasmita atau siapa
> saja. Semua harus bersatu, berjuang bersama-sama tanpa mengecilkan peran
> satu dan lainnya.
>
> Kalau untuk berbeda pendapat saja kita belum bisa, ada baiknya jangan
> berharap kebaikan akan ada di bumi pertiwi. Jangan pernah merasa pernah
> berbuat untuk memperbaiki negeri ini. Kebetulan, ada ajaran menarik dari
> Jawa : OJO RUMONGSO BISO NANGING KUDU BISO RUMONGSO (Jangan merasa bisa
> tetapi harus bisa merasa). Nah, seorang reformis, hendaknya juga jangan
> merasa paling bisa memperbaiki negeri ini. Tetapi harus bisa merasa, bahwa
> siapapun dari berbagai elemen bangsa ini pun berhak dan bisa mewarnai masa
> depan republik ini.
>
> Rakyat jangan dijadikan obyek untuk dibujuk kesana-kemari tanpa pernah
> mengajarkan dan mendidik mereka untuk bisa menentukan dirinya harus dan
> akan ke mana. Jangan bodohkan mereka.
>
> Seorang petani tua di pelosok kampung saya di Klaten pernah mengeluh
> kepada saya, bahwa ketika dijajah Belanda dulu, mereka tak pernah
> menghadapi problem ekonomi seperti sekarang ini. Beras mahal, sikap
> politik diatur dan pekerjaan sulit didapat.
>
> Ah..... entahlah....... barangkali saya terlalu bermimpi semua orang punya
> nurani tanpa berpikir menang sendiri..........
>
* IKLAN DOEA LIMA *
Layanan Informasi Iklan Baris Internet * http://www.iklan-25.co.id
_______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
HI-Reliability low cost web hosting service - http://www.IndoGlobal.com
Indonesia without violence!