At 01:05 AM 2/22/1999 +0700, you wrote:
>Bagaimana jika tabloid itu adalah "tabloid umum" (dinyatakan demikian), tapi
>isinya mempromosikan seorang tokoh secara berlebihan, dan bahkan ada
>informasi bohongnya segala..
>
>------------------------Martin Manurung----------------------------

Martin.., Martin, dikau ini lugu sekhalei :-)
Yg bilang tabloid umum siapa, kan Anda sendiri? Seperti kasus Republika
kemarin, yg empat hari berturut-turut memuat di halaman muka soal
pemisahan jabatan pangab-menhankam. Nah, dari sini kita bisa ambil
kesimpulan siapa sih yg kira-kira mau mecat Wiranto?

Lihat siapa yg ada di belakang media tsb, siapa pemilik modal, siapa
dewan redaksi, kepentingan politis di belakangnya. Di jaman reformasi
ini, hak kebebasan menulis/ bicara, berarti termasuk juga bebas utk menulis
dan bicara *bias*. Pembacanya yg harus berpikir. Jika isinya ngawur bisa
ditinggal pembacanya. Seperti abangku sekarang ogah beli Adil lagi, malah
beli majalah ABRI, Sena.

Pers yg bebas belum tentu adil. Saya kira nggak bener jika pers harus netral. 
Pers yg bener adalah yg berpihak pd kebenaran. Jika netral, plin plan dong! 
Bahwa kebenaran itu relatif, satu sama lain beda, wajar saja. Majalah Sabili 
punya hak bicara yg sama dg Majalah REM, misalnya. Jika nggak suka isi
Sabili, 
tulislah surat pembaca, fair. Saya baca Sabili terakhir, redaksinya dikritik 
beberapa pembaca karena pemberitaan tak seimbang. Logikanya jika ingin 
oplahnya naik, kritik pembaca harus diperhatikan bukan? Koran DUTA-nya 
NU/ PKB belakangan juga bikin kesal orang NU sendiri karena terlalu 
membabi-buta menyerang pihak "lawan". Dekat-dekat pemilu bukannya cari 
kawan koalisi malah bikin musuh.

Media Barat juga nggak fair, apalagi jika sudah menyangkut muslim. Mis. kasus 
Aceh yg dianggap mau mendirikan negara Islam (seolah-olah muslimin itu
kerjanya 
cari gara-gara saja), atau kasus Ambon, yg ditulis cuman gereja
yg hancur. Saya respek pada media lokal yg hanya menyebut "rumah ibadah", 
karena jika tak hati-hati, pers malah jadi provokator yg dahsyat. 

Komentar cendikiawan juga patut disimak. AS Hikam adalah pengagum
Megawati, jika dia ditanya soal Amien Rais pasti jawabannya jelek melulu.
Indria 
Samego adalah pembela Habibie (dia bilang penyadapan telepon, kemungkinan
ulah Kelompok Ciganjur, dia juga curiga Wiranto - Balipost). Sedang
cendikiawan yg relatif bebas, menurut saya, adalah Arbi Sanit dan Arief
Budiman.
Mereka kalo "gebuk" samarata nggak peduli Wiranto, Gus Dur, Amien, Mega.

Nah, Bung Martin, kepala-dinginlah menanggapi isi berita. Belajar
berdemokrasi 
memang bikin sakit kepala, tapi asik kok.... FYI, Pers Terjebak terbitan ISAI
menarik utk dibaca.

Salam hangat,
Ramadhani


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!


Kirim email ke