Kasus pers itu bukan dipertanyakan oleh saya. Ada seorang rekan yang begitu
dongkolnya lihat suatu tabloid yang mempromosikan AS secara berlebihan.
Dibilang lulus ITB, padahal enggak pernah lulus. Ternyata, di barisan nama
redaksi ada nama si AS yang dipromosikan itu... Lalu, temen saya menggugat
dan bertanya pada saya, etiskah pemberitaan spt itu? Saya bilang, lho saya
enggak tau ttg etika pers, makanya saya tanya ke milisnya orang-orang
kuli-tinta ini.
Menurut saya, jika pers itu menyatakan terang-terangan sebagai "humas"nya
suatu golongan, partai, dll. Maka sah-sah saja jika isinya mempromosikan
golongan, partainya itu. Meskipun demikian, menurut saya juga tidak tepat,
jika untuk mempromosikan golongan dan partainya itu, lalu menyerang golongan
dan partai lain. Obyektifitas harus dijaga. Dalam kasus tabloid itu, saya
lihat dia sudah tidak fair. Agar clear, seharusnya Tabloid itu menyatakan
saja sebagai "humas"nya AS, agar orang yang membeli tidak merasa tertipu
(stakeholders' sake). Dan orang yang memang mendukung AS atau fans-nya AS,
bisa membelinya banyak-banyak.
------------------------Martin Manurung----------------------------
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://www.cabi.net.id/users/martin
____________________________________________
"Love your enemies, do good to those who hate you"
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 22 Februari 1999 3:31
Subject: Re: [Kuli Tinta] Etika Pers
At 01:05 AM 2/22/1999 +0700, you wrote:
>Bagaimana jika tabloid itu adalah "tabloid umum" (dinyatakan demikian),
tapi
>isinya mempromosikan seorang tokoh secara berlebihan, dan bahkan ada
>informasi bohongnya segala..
>
>------------------------Martin Manurung----------------------------
Martin.., Martin, dikau ini lugu sekhalei :-)
Yg bilang tabloid umum siapa, kan Anda sendiri? Seperti kasus Republika
kemarin, yg empat hari berturut-turut memuat di halaman muka soal
pemisahan jabatan pangab-menhankam. Nah, dari sini kita bisa ambil
kesimpulan siapa sih yg kira-kira mau mecat Wiranto?
Lihat siapa yg ada di belakang media tsb, siapa pemilik modal, siapa
dewan redaksi, kepentingan politis di belakangnya. Di jaman reformasi
ini, hak kebebasan menulis/ bicara, berarti termasuk juga bebas utk menulis
dan bicara *bias*. Pembacanya yg harus berpikir. Jika isinya ngawur bisa
ditinggal pembacanya. Seperti abangku sekarang ogah beli Adil lagi, malah
beli majalah ABRI, Sena.
Pers yg bebas belum tentu adil. Saya kira nggak bener jika pers harus
netral.
Pers yg bener adalah yg berpihak pd kebenaran. Jika netral, plin plan dong!
Bahwa kebenaran itu relatif, satu sama lain beda, wajar saja. Majalah Sabili
punya hak bicara yg sama dg Majalah REM, misalnya. Jika nggak suka isi
Sabili,
tulislah surat pembaca, fair. Saya baca Sabili terakhir, redaksinya dikritik
beberapa pembaca karena pemberitaan tak seimbang. Logikanya jika ingin
oplahnya naik, kritik pembaca harus diperhatikan bukan? Koran DUTA-nya
NU/ PKB belakangan juga bikin kesal orang NU sendiri karena terlalu
membabi-buta menyerang pihak "lawan". Dekat-dekat pemilu bukannya cari
kawan koalisi malah bikin musuh.
Media Barat juga nggak fair, apalagi jika sudah menyangkut muslim. Mis.
kasus
Aceh yg dianggap mau mendirikan negara Islam (seolah-olah muslimin itu
kerjanya
cari gara-gara saja), atau kasus Ambon, yg ditulis cuman gereja
yg hancur. Saya respek pada media lokal yg hanya menyebut "rumah ibadah",
karena jika tak hati-hati, pers malah jadi provokator yg dahsyat.
Komentar cendikiawan juga patut disimak. AS Hikam adalah pengagum
Megawati, jika dia ditanya soal Amien Rais pasti jawabannya jelek melulu.
Indria
Samego adalah pembela Habibie (dia bilang penyadapan telepon, kemungkinan
ulah Kelompok Ciganjur, dia juga curiga Wiranto - Balipost). Sedang
cendikiawan yg relatif bebas, menurut saya, adalah Arbi Sanit dan Arief
Budiman.
Mereka kalo "gebuk" samarata nggak peduli Wiranto, Gus Dur, Amien, Mega.
Nah, Bung Martin, kepala-dinginlah menanggapi isi berita. Belajar
berdemokrasi
memang bikin sakit kepala, tapi asik kok.... FYI, Pers Terjebak terbitan
ISAI
menarik utk dibaca.
Salam hangat,
Ramadhani
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!