Assalammualaikum, Bung Ramadhani,
Saya salut atas ulasan dan pandangan Bung Ramdhani, saya rasa pandangan anda
sebagai jawaban atas ulasan dari Bung Martin Manurung disini cukup moderat,
tidak seperti pengulas-pengulas dari milis-milis lain yang sering saya baca pada
miling group disini yang sering-sering saya baca isinya kok cuma memihak ataupun
membabi buta didalam memberikan ulasan, dan bahkan terkesan sepertinya hanya
mereka saja yang paling tahu persoalannya yang menurut saya barangkali
pandangannya itu juga belum tentu benar atau yang ngomongnya sendiri barangkali
juga cuma denger-denger dari orang lain yang juga isinya belum tentu benar lalu
di dramatisir atau dikembangkan dengan informasi yang lebih bombastis, ya nggak ?
Malah orang-orang yang seperti itulah yang barangkali malah bisa disebut sebagai
provokator lho, penyebar fitnah ?
Oke Bung Ramdhani, silahkan dilanjutkan lagi ulasan-ulasan dan pandangan anda dan
sebaiknya tetap objektif serta transparan terhadap polemik-polemik apa yang
sedang terjadi didalam negara kita yang tercinta ini, juga jangan lupa agar tetap
berpedoman kepada ajaran dari agama yang kita yakini dan sebaiknya dari setiap
pandangan yang kita sajikan tersebut akan lebih baik bila nantinya diberikan juga
solusi dan kesimpulan yang lebih mudah dicerna dan difahami bagi "Wong Cilik"
atau masyarakat menengah kebawah yang sebenarnya, bukan hanya untuk konsumsi
Pejabat saja ( jangan-jangan nanti malah dipolitisir lagi dan malah jadi salah
lagi deh ), oke sekali lagi salut dan selamat Bung Ramdhani.
Sampai jumpai lagi, wassalamualaikum wr.wb.
Widi.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
[EMAIL PROTECTED] wrote:
> At 01:05 AM 2/22/1999 +0700, you wrote:
> >Bagaimana jika tabloid itu adalah "tabloid umum" (dinyatakan demikian), tapi
> >isinya mempromosikan seorang tokoh secara berlebihan, dan bahkan ada
> >informasi bohongnya segala..
> >
> >------------------------Martin Manurung----------------------------
>
> Martin.., Martin, dikau ini lugu sekhalei :-)
> Yg bilang tabloid umum siapa, kan Anda sendiri? Seperti kasus Republika
> kemarin, yg empat hari berturut-turut memuat di halaman muka soal
> pemisahan jabatan pangab-menhankam. Nah, dari sini kita bisa ambil
> kesimpulan siapa sih yg kira-kira mau mecat Wiranto?
>
> Lihat siapa yg ada di belakang media tsb, siapa pemilik modal, siapa
> dewan redaksi, kepentingan politis di belakangnya. Di jaman reformasi
> ini, hak kebebasan menulis/ bicara, berarti termasuk juga bebas utk menulis
> dan bicara *bias*. Pembacanya yg harus berpikir. Jika isinya ngawur bisa
> ditinggal pembacanya. Seperti abangku sekarang ogah beli Adil lagi, malah
> beli majalah ABRI, Sena.
>
> Pers yg bebas belum tentu adil. Saya kira nggak bener jika pers harus netral.
> Pers yg bener adalah yg berpihak pd kebenaran. Jika netral, plin plan dong!
> Bahwa kebenaran itu relatif, satu sama lain beda, wajar saja. Majalah Sabili
> punya hak bicara yg sama dg Majalah REM, misalnya. Jika nggak suka isi
> Sabili,
> tulislah surat pembaca, fair. Saya baca Sabili terakhir, redaksinya dikritik
> beberapa pembaca karena pemberitaan tak seimbang. Logikanya jika ingin
> oplahnya naik, kritik pembaca harus diperhatikan bukan? Koran DUTA-nya
> NU/ PKB belakangan juga bikin kesal orang NU sendiri karena terlalu
> membabi-buta menyerang pihak "lawan". Dekat-dekat pemilu bukannya cari
> kawan koalisi malah bikin musuh.
>
> Media Barat juga nggak fair, apalagi jika sudah menyangkut muslim. Mis. kasus
> Aceh yg dianggap mau mendirikan negara Islam (seolah-olah muslimin itu
> kerjanya
> cari gara-gara saja), atau kasus Ambon, yg ditulis cuman gereja
> yg hancur. Saya respek pada media lokal yg hanya menyebut "rumah ibadah",
> karena jika tak hati-hati, pers malah jadi provokator yg dahsyat.
>
> Komentar cendikiawan juga patut disimak. AS Hikam adalah pengagum
> Megawati, jika dia ditanya soal Amien Rais pasti jawabannya jelek melulu.
> Indria
> Samego adalah pembela Habibie (dia bilang penyadapan telepon, kemungkinan
> ulah Kelompok Ciganjur, dia juga curiga Wiranto - Balipost). Sedang
> cendikiawan yg relatif bebas, menurut saya, adalah Arbi Sanit dan Arief
> Budiman.
> Mereka kalo "gebuk" samarata nggak peduli Wiranto, Gus Dur, Amien, Mega.
>
> Nah, Bung Martin, kepala-dinginlah menanggapi isi berita. Belajar
> berdemokrasi
> memang bikin sakit kepala, tapi asik kok.... FYI, Pers Terjebak terbitan ISAI
> menarik utk dibaca.
>
> Salam hangat,
> Ramadhani
>
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!