>From: "M Gunadi Henoch" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Re: [freemail] Rekayasa Polemik Agama di Internet
>Date: Mon, 17 May 1999 18:55:58 GMT
>
>>From: "Hercule Poirot" <[EMAIL PROTECTED]>
>>Kalau yang dimaksudkan adalah nilai-nilai moral, semua agama
>>mengajarkan kebaikan. Tidak ada agama yang menyuruh penganutnya
>>jadi pencuri. Tapi memang dalam tahapan tertentu ada perbedaannya.
>>Yang terbik dilakukan adalah, kalau kita menganggap agama kita
>>yang paling baik, yang harus konsekuen mengikuti semua yang
>>diajarkannya.
>
>Di sinilah ironi agama dimulai. Ajarannya luhur, tapi ia selalu disampaikan
>melalui perantaraan imam, pendeta, kiai, yang >menafsirkannya menurut frame
>of reference-nya masing-masing. Syukur kalau framenya terbentuk baik, hasil
>dari pendidikan, kalau pemuka agama cuma lulusan SD, SMP? Frame-nya sempit.
>Seluhur-luhurnya ajaran agama jika sampai pada pemuka agama yang tidak
>punya wawasan, sama saja boong. Padahal umat di Indonesia >nyaris membuta
>pada ajaran imam, pendeta, kiai. Dibilang A, dilakoni A. B, ya B.
Untuk memahami agama tertentu, memang ada yang perlu melalui
perantara [pastur, biksu]. Tapi ada juga agama yang tidak
memerlukan otoritas seseorang dalam memperlajarinya. Misal,
dalam protestan, siapa saja [protestan] didorong untuk
membaca dan mempelajari kitab suci. Dalam Islam, siapa saja
diharuskan mempelajari kitab suci. Bila kurang faham dalam
mempelajari, krn keterbatasan informasi yang dimilikinya,
barulah bertanya kepada orang yang lebih knowledgable.
Biasanya orang bertanya kepada Ustad atau Kiai.
Dengan, demikian...pemahaman thd isi kitab suci tidak
ditentukan oleh Kiai atau Ustad. Semua diserahkan kepada
masing-masing pribadi. Sebab, dalam Islam, diyakini bahwa
setelah manusia mati, dia sendiri yang akan mempertanggung
jawabkan semua perbuatannya selama di dunia. Bukan karena
referensi Ustad A atau Kiai B. Tidak bisa seseorang berbuat
hanya mengekor dengan mengatakan "Saya melakukan ini karena
kata Ustad A ini harus dilakukan." Kalau dia orang Islam yang
benar, dia akan mengatakan: "Saya melakukan ini karena Allah
memerintahkan saya untuk melakukan ini"; [dalam Kitab Suci]
atau "Karena Nabi Muhammad mengajarkan ini." [dalam Hadits].
Untuk kondisi Indonesia, memang banyak orang Islam yang "bodoh".
Bodoh dalam pengertian pemahaman agama. Contoh kasus, banyak
orang bertitel doktor, master, atau tukang insinyur, tapi tidak
faham ajaran agama Islam. Misal, banyak diantara mereka yang
tidak bisa melaksanakan sholat mayat. Ini contoh sangat nyata.
Semua diserahkan kepada Ustad atau Kiai. Inilah kesalahan mereka.
Apalagi kalau sampai membuta pada Kiai. Mereka salah besar. Bukan
itu yang diajarkan dalam Islam. Bila orang (ummat) membuta, mereka
sangat merugi.
>Bicara keluhuran saja tidak cukup, bung. Kita harus berani mengakui bahwa
>agama bukanlah semacam mesin otomatis yang menyebabkan >pengikutnya lalu
>paham sedalam-dalamnya dan semulia-mulianya agama >itu. Ada kompleksitas di
>situ, faktor perantara menentukan seberapa >bagus tafsiran agama itu
>diejawantahkan di muka bumi dalam bentuk >larangan ini-itu, anjuran ini-itu
>dan desakan moral.
Nampaknya Saudara salah menangkap isi posting saya.
Saya bermaksud mengatakan agar tidak perlu mempertentangkan dua
agama dengan mengatakan agamanya paling baik dan menilai agama
orang lain keliru. Ini yang saya ingin kemukakan. Karena, semua
agama mengajarkan kebaikan. Jadi apa perlunya saling melakukan
klaim agamanya yang terbaik agama orang lain keliru? Lebih baik,
pelajari dengan baik agama yang dianggap baik itu, kemudian
laksanakan ajarannya sesuai dengan apa yang diajarkan.
Ini sebenarnya yang ingin saya sampaikan. Tapi, nampaknya
saudara punya sisi lain dalam melihat posting saya.
>Saya lihat kuncinya pendidikan. Kalau pemuka agama kita picik, habislah
>umatnya dibawa ke neraka (kalau neraka itu memang ada dan >lagi-lagi bukan
>bikinan pemimpin agama untuk menakut-nakuti umatnya >agar patuh)....
Agama itu sendiri berfungsi mendidik manusia. Pendidikan tidak
harus pendidikan formal spt yg kita lihat [smp-sma-pt]. Dalam
kenyataannya, banyak orang berpendidikan tinggi yang justru tidak
faham agama. Soal agama yang menakuti-nakuti, harus dilihat secara
proporsional. Mungkin memang isi kitab yang diajarkan adalah tentang
ancaman hukuman. Contoh: dalam The Ten Commandment ada larangan
jangan berjina, jangan mencuri. Tapi tidak ada lanjutannya, apa
yang harus dilakukan bila ada orang berjina atau mencuri.
Dalam agama lain (Islam), juga ada larangan jangan berjina;
jangan mencuri. Kalau ada orang berjina dan terbukti di pengadilan
dengan saksi-saksi yang meyakinan dan yang bersangkutan mengakui,
penjina itu dihukum cambuk [bagi mereka yang belum menikah] atau
dihukum mati [bagi mereka yang pernah menikah]. Kalau seorang Kiai
atau Ustad mengingatkan beratnya ancaman hukuman yang demikian
[hukum dunia], saya kira tidak bisa dikataka menakuti-nakuti.
Di bagian lain dari isi kitab suci juga berisi kabar gembira
dan memberikan harapan bagi orang-orang yang taat melaksanakan
perintah Tuhannya. Misal: seseorang yang mengeluarkan sejumlah
uang untuk menolong sesama manusia. Bila pertolongan itu diniatkan
semata-mata untuk menolong ybs karena kesadaran bahwa membantu orang lain
yang sedang dalam kesulitan adalah perintah agama,
Allah mengibaratkan perbuatan itu seperti orang yang menanam
sebiji benih gandum, dari sebiji itu tumbuh tujuh batang gandum,
dari tiap batang berbuah seratus butir gandum. Dan pahala kebaikan
itu akan dinikmati oleh ybs ketika di akhirat nanti. Inilah salah
satu contoh kabar gembira yang dapat dilihat dari kitab suci.
Masih banyak yang lain baik itu berupa kabar gembira maupun
kabar yang menakutkan. Jadi, kalau ada Kiai yang sedang
mengingatkan ummat akan kabar menakutkan, jangan diartikan
sebagai upaya kiai itu untuk menakut-nakuti manusia.
Harus disadari bahwa meski secara moral ajaran tiap agama itu
hampir sama, tapi the nature agama itu memang ada perbedaan.
Jadi kalau ada pimpinan agama yang sedang mengingatkan ummat
akan siksaan di hari akhir, janganlah disikapi dengan kaca mata
dengan agama lain [yg mungkin tidak mengajarkan adanya ancaman
siksaan hari akhir].
Itulah sebabnya dari awal saya kemukakan, lebih baik kita
mempelajari agama kita masing-masing sebaik-baiknya, kemudian
mengalamkan ajaran itu semaksimal mungkin. Tidak perlu kita
menilai agama lain dengan standard agama kita. Inilah sebenarnya
kunci kerukunan antar ummat beragama.
>Mestinya agama itu membuat manusia kritis, even terhadap kesalahan yang
>dibuat institusi agamanya sendiri. Pilihan terakhirnya ada di >hati
>nuraninya. Memang subyektif, tapi daripada katut ama pemimpin >umat yang
>belum tentu benar?
Saya setuju bahwa manusia harus kritis. Termasuk tentang kesalahan yang
dibuat oleh insitusi agama. Agama memang mengajar manusia
untuk kritis. Kritis terhadap kemungkaran yang terjadi di depan
matanya. Dalam Islam ini dikenal dengan 'amar makruf nahi mungkar'
Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Itulah sebabnya
saya lihat beberapa pemuda ramai-ramai mendemo agar SDSB dibubarkan,
lokasilasi ditutup. Sikap kritis ini tidak pandang bulu siapa pelaku
kemungkaran [kejahatan], termasuk kepada pemimpinnya sendiri. Secara
filosofis, ini diajarkan ketika ummat Islam sedang sholat berjamaah.
Kalau si Imam salah membaca surat, jamaah punya kewajiban mengingat-
kan. Kalau sang Imam kentut [batal sholatnya], dia tak lagi layak
jadi pemimpin sholat, harus diganti. Itu yang terjadi dalam sholat.
Dalam kehidupan sehari-hari, seorang pemimpin yang berbuat mungkar
tak layak lagi disebut sebagai pemimpin. Dia harus turun. Diganti
oleh mereka yang tidak berbuat mungkar. Ini yang saya lihat apa
yang mendorong pak Amien untuk menurunkan Kakek Soeharto
[terlepas dari ambisi pak Amien untuk jadi presiden].
Lalu bagaimana ukuran mungkar [jahat] di sini?
Bagi orang Islam, standarnya adalah Al Qur'an dan Hadits.
Dengan dua pegangan itu seorang pemimpin dinilai. Dan, dalam
Islam, bentuk kemungkaran yang paling besar adalah bila seseorang
telah menyekutukan Tuhan. Dosa-dosa atau kejatahan yang lain bisa
dimaaafkan oleh Tuhan kalau ybs betul-betul bertobat, mohon ampun,
dan tidak mengulangi kejahatan itu lagi. Allah sendiri yang berfirman
demikian. Cara minta ampun itupun hanya langsung memohon ampun kepada
Allah [tidak lewat perantara].
Saya melihat, kasus mbak Mega yang melakukan sembahyang di pura,
masuk ke wilayah ini. Itulah sebabnya, pak AM Saefuddin mengorbankan
dirinya untuk mengingatkan ummat Islam Indonesia. Kalau dilihat
dari kacamata politik, apa yang dilakukan pak AM sangat kasar.
Tapi kalau dilihat dari kacamata agama, apa yang dilakukan pak
AM tidak keliru.
>Salam, MGH
Salam,
Hercule Poirot:
"...If we know what we are looking for,
it is no longer mysteri..."
_______________________________________________________________
Get Free Email and Do More On The Web. Visit http://www.msn.com
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!