On Thu, 3 Jun 1999, Hotman Silalahi wrote:
> Sangat sempit sekali pemikiran yang mengedepankan agama dalam dunia
> politik walaupun pada dasarnya agama dan politik tidak bisa dipisahkan
> karena hal politik itu merupakan hal moral.
Saya kira kita semua harus berani menghargai perbedaan yang ada. Sebagian
kaum muslimin ada yang merasa agama tidak pantas digunakan dalam masalah
politik. Namun sebagian yang lain (dan ini lebih banyak, saya kira)
berpendapat bahwa Islam adalah agama yang lengkap dan mengatur seluruh
segi kehidupan, termasuk politik. Saya kira ini adalah hak asasi setiap
manusia, dan tentunya juga berhak untuk menyampaikannya ke orang lain.
Karena saya beragama islam, saya tidak tahu pendapat agama lain tentang
agama dan politik. Hanya saya kira terlalu gegabah pernyataan yang
memandang sempit pemikiran orang yang mengedepankan agama dalam masalah
politik, karena saya kira hal ini adalah masalah keyakinan.
> Hanya yang saya pikirkan sekarang ini, kapan negara yang kita cintai ini
> akan maju kalau kita hanya mempersoalkan mayoritas (quantity) bukan
> mutunya (quality).
Sepakat bahwa kita harus memperhatikan kualitas. Hanya saja kualitas
adalah sesuatu yang relatif abstrak, saya kira belum ada kriteria baku.
Kita tidak dapat menutup mata tentang caleg-caleg yg diprotes kualitasnya.
Karena sedang membicarakan caleg PDIP saya contohkan mantan bupati
temanggung yg kkn ternyata dijadikan caleg PDIP (lihat republika). Ini
hanya contoh kasus dan tidak saya generalisir.
Dan realitas manusiawi org akan mendukung org lain yg seide. Seide di sini
bisa berarti sama2 islam, bisa berarti sama2 kristen, bisa berarti sama2
marhaen, dll.
> Kalau dalam hal caleg, kita lihat dari sudut agama tentu kaum muslim yang
> mayoritas. Tapi persoalan tidak berhenti disitu saja, apakah anda rela
> kalau anggota legislatif yang terpilih nantinya mayoritas muslim tapi
> berasal dari Tapanuli Selatan ?????tentu tidak....pasti mayoritas suku
> kita...Jawa. Andaikan nantinya juga mayoritas orang Jawa...persolan tidak
> habis...Sundakah???...Solokah???...Madurakah???....Surabayakah???
> Marilah kita mulai berpikir tentang kualitas, agar supaya negara kita ini
> berkualitas.
Saya kira masalah suku sedikit berbeda dengan masalah agama. Dalam hal ini
agama lebih mendasar. Seorang muslim yang sudah meyakini bahwa harus
memilih pemimpin muslim (lihat Al Qur'an) tentu tidak berani melanggarnya
karena sanksi di akhirat. Namun mereka tentu tidak akan mempermasalahkan
sukunya, karena memang masalah suku hanya masalah dunia.
beDoer
>
> Hotman Silalahi
>
> On Wed, 2 Jun 1999, iwans wrote:
>
> >
> >
> > ----------
> > > From: eb$ <[EMAIL PROTECTED]>
> > > To: [EMAIL PROTECTED]
> > > Subject: Caleg PDI-P lagi
> > > Date: Wednesday, June 02, 1999 9:10 AM
> > >
> > > Ah ... kalau nggak lengkap kok nggak sreg. Ini bukan sektarian, hanya
> > untuk
> > > mengingatkan saudara saya sesama muslim yang mabuk pdi-p:-) Yang nggak
> > suka
> > > silakan dibusek saja ...
> > >
> > > eb$
> > > -------------------------------------------------
> > >
> > > Mayoritas Caleg PDI Perjuangan
> > >
> > > JAKARTA -- Kabar yang selama ini menyebutkan calon legislatif PDI
> > > Perjuangan dari daerah pemilihan DKI Jakarta mayoritas non-Muslim
> > ternyata
> > > benar. Data dari Panitia Pemilihan Indonesia (PPI) memperlihatkan bahwa
> > > jumlah caleg Muslim sebanyak 13 orang sementara non-Muslim 20 orang.
> > >
> > > Pada urutan 'sepuluh besar', caleg dari kalangan Muslim hanya empat orang
> > > dengan susunan nomor urut 1 (Roy B Janis), 5 (Syaifullah), 6 (Julius
> > > Usman), dan 8 (KH Achmad Aries Munandar). Sedangkan enam lainnya adalah
> > > Kwik Kian Gie (nomor urut 2), Sabam Sirait (3), Aberson Marle Sihaloho
> > (4),
> > > Hobbes Sinaga (7), Jongguk Robert Tambunan (9), dan Rajin Sihombing (10).
> > >
> > > Jumlah keseluruhan caleg PDI-P adalah 33 orang. Daerah pemilihan DKI
> > > sendiri menyediakan 18 kursi di DPR yang akan diperebutkan oleh 48
> > parpol.
> > >
> > > Menanggapi banyaknya caleg non-Muslim dari PDI Perjuangan, wakil Sekjen
> > > partai berlambang banteng dengan mulut putih ini, Haryanto Taslam,
> > > menyatakan hal itu tidak berarti meminggirkan caleg Muslim. ''Pasalnya
> > > kalau mau melihat lebih detail lagi, mayoritas caleg masih dipegang orang
> > > Muslim.''
> > >
> > > Bagaimanapun, tegas Haryanto, PDI-P tidak bisa lepas dari kondisi sosio
> > > kultural masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim. ''Barangkali, yang
> > > diributkan orang di luar PDI Perjuangan adalah terlalu besarnya porsi
> > yang
> > > diberikan ke caleg non-Muslim. Ini memang tidak bisa dipungkiri.''
> > >
> > > Menurut Haryanto, besarnya porsi caleg non-Muslim bisa saja terjadi
> > karena
> > > proses rekrutmen ataupun penyaringan dan penjaringan caleg menggunakan
> > > pendekatan kapabilitas dan akseptabilitas individu.
> > >
> > > ''Mungkin hal ini yang membuat porsi non-Muslim besar, ditambah dengan
> > > sistem bottom up yang juga dipakai bersamaan. Pengajuan caleg PDI
> > > Perjuangan kan berdasarkan usulan dari bawah,'' kata Haryanto.
> > >
> > > Menurut Haryanto, semuanya berproses sedemikian rupa ditambah dengan
> > > karakter PDI Perjuangan yang memang terbuka. ''PDI Perjuangan tidak
> > pernah
> > > mempermasalahkan asal-usul, agama, dan suku seseorang. Kita semua
> > > beranggapan bahwa partai menjadi alat perjuangan setiap warga,'' ujarnya.
> > >
> > > Peran DPP PDI-P dalam penyusunan caleg tersebut, kata Haryanto, sudah
> > tentu
> > > ada yakni memberi sentuhan akhir pada saat penyusunan caleg dengan
> > > memasukkan visi partai dalam susunan caleg tersebut.
> > >
> > > Menjawab pertanyaan apakah besarnya porsi caleg non-Muslim mencerminkan
> > > peta kekuatan di tubuh partai bernomor 11, dengan tegas Haryanto menjawab
> > > bahwa hal itu tidak dapat dijadikan pegangan. ''Porsi itu tidak dapat
> > > digunakan untuk menilai apa yang terjadi di tubuh PDI Perjuangan sekarang
> > > ini,'' kata Haryanto.
> > >
> > > Menurutnya, untuk melihat gambaran seperti itu harus dilihat terlebih
> > > dahulu komposisi kepemimpinan PDI Perjuangan. ''Gambaran seperti itu
> > harus
> > > dilihat dari sisi kepengurusannya, bukan dari komposisi caleg yang
> > > diusulkan,'' tegasnya.
> > >
> > > Secara nasional, caleg PDI-P terdiri atas 575 orang. Dari jumlah itu,
> > caleg
> > > Muslim 331 orang sedangkan non-Muslimnya 244 orang.
> > >
> > > Pada kesempatan terpisah, Sekjen PPP, Alimarwan Hanan, mengatakan seruan
> > > untuk tidak memilih caleg non-Muslim dari parpol peserta pemilu merupakan
> > > hal biasa. ''Kami mempunyai hak untuk menganjurkan kaum Muslimin,''
> > katanya.
> > >
> > > Menurut Alimarwan, rakyat Indonesia sebagian besar adalah kaum Muslimin.
> > > Dan lagi, lanjutnya, agama telah mengajarkan hal yang sama yaitu bahwa
> > > nasib suatu kaum tidak akan berubah kecuali diubah oleh kaum itu sendiri.
> > > ''Jadi ini tidak sektarian,'' tandasnya.
> > >
> > > Lebih lanjut, Almarwan menjelaskan, alangkah lebih baik jika kaum
> > Muslimin
> > > memilih caleg Muslim. Pilihan ini akan memungkinan terjadinya komunikasi
> > > politik secara baik, karena adanya faktor kedekatan.
> > >
> > > Seperti diketahui, seruan tersebut pertama kali dikemukakan oleh Ketua
> > Umum
> > > PPP Hamzah Haz. Dalam kesempatan kampanye putaran kedua di Jakarta pekan
> > > lalu, di depan ribuan massa, Hamzah menyerukan agar umat Islam tidak
> > > memilih caleg non-Muslim pada pemilu mendatang.
> > >
> > > Menyusul seruan tersebut, Sekjen Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII),
> > > Hussein Umar, menyatakan sangat terkejut membaca daftar calon tetap
> > anggota
> > > legislatif DPR RI dari PDI Perjuangan yang didominasi oleh oleh mayoritas
> > > non-Muslim -- terutama pada urutan [kemungkinan] nomor jadi untuk DPR RI
> > > (Republika, 29/5).
> > >
> > > ''Menjadi tanda tanya besar apa yang menjadi pertimbangan pimpinan PDI-P
> > > dalam menyusun daftar caleg seperti itu? Sangat tidak masuk akal, tidak
> > > aspiratif, dan tidak proposrsional,'' kata Hussein. ''Bukankah massa yang
> > > menyemarakkan kampanye PDI-P mayoritas Muslim? Bagaimanan bisa terjadi
> > > susunan caleg seperti itu?'' tambahnya.
> > >
> > >
> >
> > ______________________________________________________________________
> > To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!
>
>
>
>
>
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!