Masalah ini akan menjadi rumit jika setiap orang menggunakan cara pikir
AGAMA sebagai KELOMPOK EKSKLUSIF bukan AGAMA sebagai GOD AWARENESS.

Agama sebagai GOD AWARENESS memang tidak akan dan tidak ditujukan untuk
menyengsarakan umat manusia. Agama sebagai KELOMPOK EKSKLUSIF sebenarnya
juga tidak akan dan tidak ditujukan untuk menyengsarakan umat manusia,
tetapi lebih diutamakan untuk yang seiman, yang namanya kebenaran dan
keadilan itu adalah yang seiman. Jadi kalau cara pikir yang dipakai adalah
eksklusivitas agama, maka kemungkinan untuk penerapan keadilan dan kebenaran
bukan untuk semua kelompok masyarakat, hanya yang seiman yang lebih
diutamakan.

Kalau kita bicara dalam konteks Indonesia yang sangat beragam ini, maka cara
pikir eksklusif menyangkut agama maupun etnis harus segera diganti menjadi
inklusif, yang mampu menerima dan mengakomodir keberbedaan tanpa perlu
menghilangkan keragaman itu sendiri.

salam,
tedy the kion

> Sepintas rasanya sulit, tapi ternyata VERY VERY DIFFICULT. Saya senang
> juga nih ikutan milis ini (saya orang baru), setidaknya wawasan saya
> bertambah. Saya akan mencoba menanggapi, tolong ditanggapi lagi agar
> kita semakin 'cerdas'. (Tolong baca seluruh point secara lengkap, agar
> diskusi yg mungkin timbul tidak sekedar masalah bahasa, namun masalah
> esensi).
>
> PERTAMA kita semua sepakat agama tidak akan dan tidak ditujukan untuk
> menyengsarakan umat manusia. Jadi seharusnya tdk mungkin penerapan suatu
> agama mengakibatkan hal tersebut. Kalau hal tsb terjadi, besar dugaan
> penerapannya yg salah. Gimana sepakat ?
>
> KEDUA yg dimaksud dg kesejahteraan (lawan kesengsaraan) umat manusia,
> tidak selalu berarti apa2 yg selama ini disetujui oleh mayoritas manusia.
> Artinya tdk boleh juga sesuatu yg 'diyakini/diduga' sbg kesejahteraan
> mengalahkan sesuatu yg sudah pasti dlm agama. Contoh dlm kitab suci
> dikisahkan kaum luth menganggap homoseks/lesbian sbg suatu kelaziman,
> namun kemudian diturunkan azab. Berarti saat itu 'hal tsb' disepakati sbg
> 'kesejahteraan', namun benar2 ditentang agama. Sepakat enggak ?
>
> KETIGA ada hal2 universal ttg kesejahteraan umat manusia yg pasti adanya
> & tdk mungkin bertentangan dg agama, seperti tdk adanya pemaksaan
> keyakinan, tdk adanya penindasan sesama manusia, tdk adanya pengambilan
> nyawa manusia scr semena-mena, dll. Sepakat kan ?
>
> KEEMPAT ada keyakinan yg mungkin bertolak belakang. Nah ini agak berat utk
> disepakati (mungkin). Misalnya keyakinan komunis pasti bertentangan dg
> agama. Tapi tiap keyakinan tdk boleh saling memaksa (lihat point KETIGA),
> yg boleh saling mengajak. Saya tetap meyakini bahwa org yg faham dg
> agamanya mesti memberikan pencerahan kepada siapapun, terutama umatnya
> sendiri, dalam hal ini utk membentengi umat dari komunisme. Masih sepakat?
>
> KELIMA ini yg paling berat utk disepakati. Apakah memilih caleg non muslim
> diperbolehkan bagi umat Islam ? Apakah ini suatu keyakinan, atau
> penerapan yg salah karena tdk sesuai dg kesejahteraan manusia ? Bagaimana
> saya mesti mengartikan ayat di bawah, selain sbg suatu ajaran agama yg
> pasti. (rasanya perlu saya kutip salah satu ayat dr Al Qur'an, maaf ini
> terpaksa lho, mohon juga dibaca, apapun keyakinan anda, agar diskusi ini
> tetap berjalan) :
>
> Al Maidah :51
> "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi
> dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah
> pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil
> mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan
> mereka."
> [Masih banyak ayat lain, namun satu ayat di atas cukup mewakili]
>
> Di sini saya kira, saya ataupun anda, bukan ahli tafsir Al Qur'an, jadi
> kita sepakati saja tafsir yg sudah ada.
>
> KEENAM bagaimana kompromi yg mungkin timbul agar tdk ada yg dirugikan.
> Kalau ayat di atas adalah keyakinan yg pasti, kmd demi menghargai umat
> lain ayat tsb diabaikan umat Islam, berarti di sini umat Islam dirugikan.
> Dan kalau keyakinan tsb dipaksakan utk diabaikan, berarti ada pemaksaan
> thd keyakinan yg dimiliki umat Islam.
> Namun kalau ayat ini diterapkan apakah benar umat lain merasa
> dirugikan ?
> Toh hanya umat Islam yg diseru utk memilih caleg muslim, & saya sempat
> baca (lupa di mana), pemuka agama lain juga menyerukan hal serupa kepada
> umatnya. Di sini saya berpendapat bahwa tdk ada yg dirugikan. Mudah2an
> sepakat.
>
> KETUJUH kita perlu melihat kondisi berikutnya dan alasan historis. Jika
> kemudian mayoritas anggota DPR muslim apa yg terjadi ? Demikian pula jika
> mayoritas anggota DPR non muslim apa yg terjadi ?
> Kalau semua anggota DPR tsb - muslim & non muslim - menjalankan ajaran
> agamanya dg baik, seharusnya akhirnya tdk ada yg dirugikan.
> Jadi sama saja dong memilih caleg muslim & non muslim ? Jawabannya beda dg
> merujuk point KELIMA yg mrp keyakinan seorang muslim. Namun kalau kmd
> sudah tjd, bahwa mayoritas anggota DPR muslim atau non muslim, kita
> 'terpaksa' menerima. Dan kita mengharapkan mereka tdk merugikan pihak
> manapun dg menjalankan agamanya masing2 dg baik.
> Sedang alasan historis umat Islam tdk menerima caleg non muslim krn
> kebijakan Orba dulu (zaman LB Murdani ke bawah), di mana umat Islam
> dipinggirkan, cenderung merugikan pihak muslim (kasus Priok, dll). Namun
> alasan historis ini bukan alasan utama. Karena mungkin itu adalah masalah
> 'person' birokrat zaman Orba dulu, bukan masalah agama. Jadi alasan utama
> di sini adalah point KELIMA di atas.
>
> Gimana ada tanggapan ? Mungkin uraian di atas agak dangkal, karena tulisan
> langsung di depan komputer tdk dilakukan dg analisis mendalam.
>
> beDoer
>
>
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!
>
>
>
>
>
>


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke