beDoer wrote:
> Saya kira kita semua harus berani menghargai perbedaan yang ada. Sebagian
> kaum muslimin ada yang merasa agama tidak pantas digunakan dalam masalah
> politik. Namun sebagian yang lain (dan ini lebih banyak, saya kira)
> berpendapat bahwa Islam adalah agama yang lengkap dan mengatur seluruh
> segi kehidupan, termasuk politik. Saya kira ini adalah hak asasi setiap
> manusia, dan tentunya juga berhak untuk menyampaikannya ke orang lain.
> Karena saya beragama islam, saya tidak tahu pendapat agama lain tentang
> agama dan politik. Hanya saya kira terlalu gegabah pernyataan yang
> memandang sempit pemikiran orang yang mengedepankan agama dalam masalah
> politik, karena saya kira hal ini adalah masalah keyakinan.
Tapi kalau gara-gara masalah keyakinan pribadi sampai melupakan hak
keyakinan orang lain, maka masalahnya adalah korelasi antara KEYAKINAN
AGAMIS dengan PENERAPANNYA. Ambilah contoh semisal orang ISLAM* menginginkan
negara ini berdasarkan ke-ISLAM-an yang akan bisa berarti menolak
'aksesoris' kehidupan yang berwarna non-Islam (karena kalau menerima khan
bisa jadi negara sekuler), jadi gimana nih hak keyakinan orang lainnya
dibatasi oleh keyakinan ISLAMI? Apakah cocok jika jalan keluarnya adalah
setiap keyakinan lain harus memaksakan diri untuk rela atau merelakan diri
untuk dipaksa menjalani kehidupan yang bercorakkan keyakinan lain? Nah kan
tentunya pemaksaan keyakinan yang tidak disengaja itu tentunya bertentangan
dengan misalkan aturan untuk menghormati & menghargai hak sesama manusia
yang tentunya existensi hal tersebut universal, di tiap agama ada. Maka
masalahnya kemudian berkembangan, antara KEYAKINAN (AGAMA) dan PENERAPAN
yang seharusnya sejalan, saling melengkapi, tidak betubrukan antara dogma
dan kenyataannya.
(* silahkan mengganti misalkan dengan: KRISTEN, HINDU, dll.)
> Sepakat bahwa kita harus memperhatikan kualitas. Hanya saja kualitas
> adalah sesuatu yang relatif abstrak, saya kira belum ada kriteria baku.
> Kita tidak dapat menutup mata tentang caleg-caleg yg diprotes kualitasnya.
> Karena sedang membicarakan caleg PDIP saya contohkan mantan bupati
> temanggung yg kkn ternyata dijadikan caleg PDIP (lihat republika). Ini
> hanya contoh kasus dan tidak saya generalisir.
> Dan realitas manusiawi org akan mendukung org lain yg seide. Seide di sini
> bisa berarti sama2 islam, bisa berarti sama2 kristen, bisa berarti sama2
> marhaen, dll.
Saya yakin bahwa suatu saat bangsa ini akan menemukan suatu standar baku
KUALITAS diluar standar agama tetapi tidak bertentangan. Banyak kejadian
yang bisa dijadikan contoh tentang standart universal, misalkan USA dan
Indonesia. Orang boleh berkata bahwa USA adalah negara Kristen (meskipun
yang lebih tepat adalah negara sekuler berpenduduk mayoritas kristen),
tetapi tidak pernah mau tau bahwa kristen di negara itu sangat beragam
alirannya, padahal secara teoritis pertentangan paling sengit justru terjadi
pada agama yang sama tetapi beda aliran. Tapi yang kita lihat ternyata
justru mereka bisa menemukan sebuah 'bahasa bernegara' yang universal yang
tidak diwarnai oleh mayoritas satu aliran. Indonesiapun secara kronologis
sejarah sebenarnya telah membuktikan diri sebagai sebuah negara sekular yang
mempunyai 'bahasa bernegara' yang universal lewat Pancasila-nya (sayangnya
diselewengkan ORBA). Berawal dari perjuangan atas nasib yang sama, visi yang
sama, meskipun berbeda suku dan agama, itulah existensi universal bangsa ini
.
Kalaupun sekarang ini KUALITAS adalah suatu yang abstrak, menurut saya itu
tidak lebih karena bangsa ini sedang berada dalam prosesnya. Memang tidak
gampang, dan tidak perlu gampang, justru dalam perjuangan itulah bangsa ini
akan maju mencapai keuniversalitasan dalam kekayaan-ragamnya.
Dus, kalaupun butuh SE-IDE, bukankah kesamaan nasib dan perjuangan bisa
menjadi dasar pijak yang mendarat, lagian pada akhirnya nanti bukankah NASIB
itu sendiri yang akan diperjuangkan masing-masing warga negara?
> Saya kira masalah suku sedikit berbeda dengan masalah agama. Dalam hal ini
> agama lebih mendasar. Seorang muslim yang sudah meyakini bahwa harus
> memilih pemimpin muslim (lihat Al Qur'an) tentu tidak berani melanggarnya
> karena sanksi di akhirat. Namun mereka tentu tidak akan mempermasalahkan
> sukunya, karena memang masalah suku hanya masalah dunia.
Anda percaya pada kedaulatan ALLAH dan rencanaNya?
Kenapa Allah membiarkan saja pemimpin-pemimpin dunia yang sejak awal dunia
ada sampai sekarang ini mereka beragam agama/kepercayaan?
Justru disitulah letak kedaulatan dan rencana ALLAH yang diatas kemampuan
manusia untuk menjelaskannya. Bahwasannya ada Raja-raja Mesir yang
berpengaruh pada perkembangan teknologi arsitekrtur, lahir Kaisar Roma yang
membawa pengaruh besar bagi perkembangan budaya waktu itu, lahirnya Yesus
yang membawa perubahan ditengah masyarakat dunia, lahirnya Muhammad yang
sangat berpengaruh buat separuh penduduk dunia ini, terpilihnya JFK yang
berpengaruh pada persamaan hak orang kulit hitam, sampai Suharto yang
membuat Indonesia dan dunia belajar melihat lebih mawas lagi akan keadilan
dan kebatilan.
Saya percaya bahwa semuanya ada dalam kedaulatan Allah, apapun agama mereka,
Allah mampu mewujudkan rencanaNya lewat mereka, yang dalam logika kehidupan
kemasyarakatan, bertujuan demi perbaikan NASIB setiap orang.
Jadi, kalau perbedaan suku bisa diterima, maka perbedaan agamapun akan
menjadi energi yang ikut memperbaiki NASIB bangsa ini bersama-sama.
salam,
tedy the kion
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!