Rekan-Rekan Yth.,

Inilah cermin dari orang yang semula mengaku Demokratis. 
Bercuap-cuap mengatakan: "Semua orang harus lapang dada menerima 
apapun hasil Pemilu secara ksatria, karena itu adalah kehendak 
rakyat banyak." 

Belakangan dikala PDIP meraih suara terbanyak (untuk sementara),
banyak orang yang mulai angkat suara, dan memojokan Ketua
Partainya : pendiam-lah, bodoh-lah, tidak bijaksana-lah, kurang
pengetahuan-lah, pendidikan rendah-lah, dan sebagainya.

Padahal diantara mereka banyak yang mengaku Reformis, 
dan sangat anti status-quo.
 
Malah ada yang berkata, bahwa rakyat kecil tidak banyak 
yang mengerti akan program PDIP yang tidak jelas itu.

Memangnya siapa yang menyuruh rakyat memilih PDIP ?
Di-intimidasikah ? Di-paksakah ? Di-ancamkah ?

Kelihatanya tidak !
Mereka sebagai pemegang kedaulatan nyata-nyata memilih
PDIP dengan penuh kesadaran. Mengapa ?
Karena PDIP sangat merakyat, sementara Partai lainnya 
jelas hanya bermain ditingkat menengah keatas.

Bukankah PDIP akan merupakan "Partai yang terbesar"
dalam kontribusinya dalam suatu Koalisi, didalam rangka
menghadang status-quo ? Bayangkan kalau tidak ada PDIP,
atau kalu PDIP terpuruk dalam pemungutan suara ?
Siapa yang mau menghadang laju status-quo ????

 
Salam,
bRidWaN
 


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke