Pada Tanggal 6/10/1999, bRidWaN menulis :
> Inilah cermin dari orang yang semula mengaku Demokratis.
> Bercuap-cuap mengatakan: "Semua orang harus lapang dada menerima
> apapun hasil Pemilu secara ksatria, karena itu adalah kehendak
> rakyat banyak."
> Belakangan dikala PDIP meraih suara terbanyak (untuk sementara),
> banyak orang yang mulai angkat suara, dan memojokan Ketua
> Partainya : pendiam-lah, bodoh-lah, tidak bijaksana-lah, kurang
> pengetahuan-lah, pendidikan rendah-lah, dan sebagainya.
Yah wajar saja toh... Karena untuk sementara ini Partai-partai mereka
kalah... Pasti ada ketidak puasan bathin.. Mungkin misalnya PDI-P
kalah, pasti ada juga yang ngomong begini-begitu dari orang PDI-P.
Terima aja dengan sikap biasa-biasa... yah mereka temen-temen bangsa
kita juga khan... Tidak ada suatu partai pun yang bisa memberi rasa
puas kepada seluruh rakyat.. Kalau hanya ungkapan khan wajar-wajar
saja, yang penting tidak ada intimidasi..
> Padahal diantara mereka banyak yang mengaku Reformis,
> dan sangat anti status-quo.
> Malah ada yang berkata, bahwa rakyat kecil tidak banyak
> yang mengerti akan program PDIP yang tidak jelas itu.
> Memangnya siapa yang menyuruh rakyat memilih PDIP ?
> Di-intimidasikah ? Di-paksakah ? Di-ancamkah ?
> Kelihatanya tidak !
Tidak 100% bung... Di daerah saya, Arcamanik Bandung, seorang ibu
penjual nasi di warung disuruh milih PDI-P dengan sedikit 'pemaksaan'
yang intinya si ibu itu harus milih PDI-P... Semoga kejadian ini hanya
ulah segelintir oknum saja... bukan PDI-P nya.
> Mereka sebagai pemegang kedaulatan nyata-nyata memilih
> PDIP dengan penuh kesadaran. Mengapa ?
> Karena PDIP sangat merakyat, sementara Partai lainnya
> jelas hanya bermain ditingkat menengah keatas.
Mudah-mudahan begitu... Kita baru tahu sebatas bahwa PDI-P berhasil
unggul untuk sementara ini.. Kita belum pernah diperintah (maksudnya
pemerintahan) oleh PDI-P.. Jadi buat saya, cool and diam dulu aja,
mendukungnya... Nah nanti khan kalau ternyata pemerintahannya bagus,
saya dukung pake 10 jari tangan saya, bila kacau/tidak bener kayak
ORBA saya turunkan ibu jari saya.. simple aja khan, jadi tunggu dan
tunggu saja...
> Bukankah PDIP akan merupakan "Partai yang terbesar"
> dalam kontribusinya dalam suatu Koalisi, didalam rangka
> menghadang status-quo ? Bayangkan kalau tidak ada PDIP,
> atau kalu PDIP terpuruk dalam pemungutan suara ?
> Siapa yang mau menghadang laju status-quo ????
Wah jangan begitu dong =)
Jangan bilang kalau tidak ada PDI-P siapa yang menghadang status
quo..., karena saya beragama islam, yah hanya tuhan yang sudah
menghendaki demikian, PDI-P 'hanya' jalan saja... begitu toh..
Toh Perjalanan bangsa ini masih panjang...Kita tidak tahu siapa yang
akan menang pada Pemilu 5 tahun ke depan, 10 tahun kedepan dll.
Bahkan untuk pemilu sekarang pun masih samar, bisa saja Golkar
'melejit' ... Kayak pemilu dulu... nah kalo begini khan payah..
BTW, Selamat buat PDI-P, semoga memerintah dengan baik...
PS : Pada intinya, yang menang jangan sombong, yang kalah jangan
frustasi... Ini hanya salah satu perjalanan bangsa Indonesia... Semua
teman-teman kita... :)
Wassalam,
8^)
Wawan P. Siswoyo, Newbie Sekali mailto:[EMAIL PROTECTED]
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!