SANGAT SETUJU DENGAN PENDAPAT BUNG JOPIE.

----------
> From: Jopie J Bambang <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [Kuli Tinta] Mengapa tidak suka melihat keunggulan
(sementara) PDI-P ??
> Date: Thursday, 10 June 1999 9:05 AM
> 
> Tidak perlu kecewa bung...
> Selain kepentingan umum yang mendahulukan alam demokrasi maka setiap
> politikus memiliki kepentingan pribadi yang acapkali disembunyikan dalam
> nuansa alam reformis & demokratis bahkan memakai cadar keagamaan jika
> dianggap perlu - selama hal tersebut menguntungkan dirinya (terutama) dan
> partainya. Mungkin saja jika saya atau anda dalam posisi yang sama akan
> melakukan hal yang sama - meskipun kita tentu saja berharap tidak akan
> melakukan hal-hal tsb.
> 
> Memang telah berhembus isu-isu kurang sedap termasuk isu koalisi yang
akan
> menghadang kandidat presiden dari partai yang diperkirakan akan meraih
suara
> mayoritas. Berbagai dalih tentu saja bisa dilontarkan & seperti biasa -
> tidak perlu kaget jika nanti yang dipakai sebagai alasan adalah
kepentingan
> rakyat. Penting bagi orang-orang tsb. membentuk opini publik ataupun
> seolah-olah opini publik.
> 
> Soal program partai (bukan hanya PDI-P) saya percaya jika mayoritas
rakyat
> banyak tidaklah mengerti 100% program partai-partai yang ikut pemilu -
> sepertinya bagi mereka hal-hal semacam ini tidak terlalu penting karena
> mereka kenyang dijanjikan melulu.. Yang berperan disini adalah faktor
> kepercayaan - jika terbukti nantinya tidak layak - misalnya karena cuma
> berlatar belakang SMA & mungkin cuma cocok sebagai ibu rumah tangga atau
> karyawan rendahan - rakyat akan menuntut pertanggungjawabannya.
Pemantauan
> saya di lapangan hanyalah membuktikan kepercayaan rakyat cukup besar
untuk
> figur yang anda sebutkan.
> 
> Yang penting mari satukan tekad ke alam demokrasi yang jujur & adil.
Ingat
> bahwa demokrasi kita masih di semester 1 (mengutip posting yang lain) &
> mungkin masih butuh 7 - 13 semester lagi (?) - mudah-mudahan bisa cum
laude.
> 
> *****
> Rekan-Rekan Yth.,
> 
> Inilah cermin dari orang yang semula mengaku Demokratis.
> Bercuap-cuap mengatakan: "Semua orang harus lapang dada menerima
> apapun hasil Pemilu secara ksatria, karena itu adalah kehendak
> rakyat banyak."
> 
> Belakangan dikala PDIP meraih suara terbanyak (untuk sementara),
> banyak orang yang mulai angkat suara, dan memojokan Ketua
> Partainya : pendiam-lah, bodoh-lah, tidak bijaksana-lah, kurang
> pengetahuan-lah, pendidikan rendah-lah, dan sebagainya.
> 
> Padahal diantara mereka banyak yang mengaku Reformis,
> dan sangat anti status-quo.
> 
> Malah ada yang berkata, bahwa rakyat kecil tidak banyak
> yang mengerti akan program PDIP yang tidak jelas itu.
> 
> Memangnya siapa yang menyuruh rakyat memilih PDIP ?
> Di-intimidasikah ? Di-paksakah ? Di-ancamkah ?
> 
> Kelihatanya tidak !
> Mereka sebagai pemegang kedaulatan nyata-nyata memilih
> PDIP dengan penuh kesadaran. Mengapa ?
> Karena PDIP sangat merakyat, sementara Partai lainnya
> jelas hanya bermain ditingkat menengah keatas.
> 
> Bukankah PDIP akan merupakan "Partai yang terbesar"
> dalam kontribusinya dalam suatu Koalisi, didalam rangka
> menghadang status-quo ? Bayangkan kalau tidak ada PDIP,
> atau kalu PDIP terpuruk dalam pemungutan suara ?
> Siapa yang mau menghadang laju status-quo ????
> 
> 
> Salam,
> bRidWaN
> 
> 
> 
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> 
> 
> 
> 
> 
> 

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke