Tidak perlu kecewa bung...
Selain kepentingan umum yang mendahulukan alam demokrasi maka setiap
politikus memiliki kepentingan pribadi yang acapkali disembunyikan dalam
nuansa alam reformis & demokratis bahkan memakai cadar keagamaan jika
dianggap perlu - selama hal tersebut menguntungkan dirinya (terutama) dan
partainya. Mungkin saja jika saya atau anda dalam posisi yang sama akan
melakukan hal yang sama - meskipun kita tentu saja berharap tidak akan
melakukan hal-hal tsb.
Memang telah berhembus isu-isu kurang sedap termasuk isu koalisi yang akan
menghadang kandidat presiden dari partai yang diperkirakan akan meraih suara
mayoritas. Berbagai dalih tentu saja bisa dilontarkan & seperti biasa -
tidak perlu kaget jika nanti yang dipakai sebagai alasan adalah kepentingan
rakyat. Penting bagi orang-orang tsb. membentuk opini publik ataupun
seolah-olah opini publik.
Soal program partai (bukan hanya PDI-P) saya percaya jika mayoritas rakyat
banyak tidaklah mengerti 100% program partai-partai yang ikut pemilu -
sepertinya bagi mereka hal-hal semacam ini tidak terlalu penting karena
mereka kenyang dijanjikan melulu.. Yang berperan disini adalah faktor
kepercayaan - jika terbukti nantinya tidak layak - misalnya karena cuma
berlatar belakang SMA & mungkin cuma cocok sebagai ibu rumah tangga atau
karyawan rendahan - rakyat akan menuntut pertanggungjawabannya. Pemantauan
saya di lapangan hanyalah membuktikan kepercayaan rakyat cukup besar untuk
figur yang anda sebutkan.
Yang penting mari satukan tekad ke alam demokrasi yang jujur & adil. Ingat
bahwa demokrasi kita masih di semester 1 (mengutip posting yang lain) &
mungkin masih butuh 7 - 13 semester lagi (?) - mudah-mudahan bisa cum laude.
*****
Rekan-Rekan Yth.,
Inilah cermin dari orang yang semula mengaku Demokratis.
Bercuap-cuap mengatakan: "Semua orang harus lapang dada menerima
apapun hasil Pemilu secara ksatria, karena itu adalah kehendak
rakyat banyak."
Belakangan dikala PDIP meraih suara terbanyak (untuk sementara),
banyak orang yang mulai angkat suara, dan memojokan Ketua
Partainya : pendiam-lah, bodoh-lah, tidak bijaksana-lah, kurang
pengetahuan-lah, pendidikan rendah-lah, dan sebagainya.
Padahal diantara mereka banyak yang mengaku Reformis,
dan sangat anti status-quo.
Malah ada yang berkata, bahwa rakyat kecil tidak banyak
yang mengerti akan program PDIP yang tidak jelas itu.
Memangnya siapa yang menyuruh rakyat memilih PDIP ?
Di-intimidasikah ? Di-paksakah ? Di-ancamkah ?
Kelihatanya tidak !
Mereka sebagai pemegang kedaulatan nyata-nyata memilih
PDIP dengan penuh kesadaran. Mengapa ?
Karena PDIP sangat merakyat, sementara Partai lainnya
jelas hanya bermain ditingkat menengah keatas.
Bukankah PDIP akan merupakan "Partai yang terbesar"
dalam kontribusinya dalam suatu Koalisi, didalam rangka
menghadang status-quo ? Bayangkan kalau tidak ada PDIP,
atau kalu PDIP terpuruk dalam pemungutan suara ?
Siapa yang mau menghadang laju status-quo ????
Salam,
bRidWaN
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!