Dear All Netters,

Yang saya sesalkan justru pendapat berbagai kalangan yang mengatakan bahwa
seharusnya PDIP itu diberi kesempatan untuk memerintah, Dan yang kalah
seharusnya menjadi oposisi saja, komentar saya....hua ha ha ha ha(Meminjam cara
ketawanya Gigih).
Saya pribadi pun sempat salah persepsi dengan ceritas oposisi, koalisi dan
pemerintah menurut UUD 45.

Saya nggak habis fikir, apakah mereka itu nggak ngerti konstitusi, sebenarnya
kan gampang saja, Pemilu itu kan milih DPR, selanjutnya DPR memilih MPR, dan
terakhir MPR memilih Presiden.
So, siapa saja yang berhasil MEMENANGKAN 351 suara di MPR, berhak jadi
presiden, INGAT siapa saja asal warga negara Indonesia dan memenuhi syarat,
berhak jadi presiden. Orang itu boleh berasal dari Partai atau pun diluar
partai pemenang PEMILU.

Jadi, Konteksnya dengan kemenangan PDIP, PDIP itu sebenarnya kan sudah
memperoleh modal awal untuk memenangkan kursi Presiden. Secara teoritis mereka
itu akan lebih gampang mengumpulkan suara 351 di MPR, dibandingkan dengan
Golkar, PPP apalagi PAN.

Masalah legitimated, Tidak legitimated, Siapa saja yang memenangkan suara
sebanyak 351 di MPR, kan berarti itu sudah legitimated kan ??? Artinya sudah
mayoritas. Itu saja, Sederhana dan itulah konstitusi menurut UUD 45. Mega bisa,
Amien bisa, Habibie bisa, bahkan Martin Manurung, Gigih N. juga bisa asal ada
yang mencalonkan dan bisa meraih suara minimal 351.

Jadi tidak ada istilah, karena "memenangkan 35% suara maka kami sudah cukup
legitimated bagi sebuah pemerintahan", Omong Kosong- itu pendapat yang
inkonstitusional.

Dan siapa yang akan memberikan stempel kekuasaan bagi pemenang itu???

Mungkin pendapat seperti di atas tadi bisa dilaksanakan dalam kerangka sistem
demokrasi pemerintahan parlementer. Atau Sistem pemilihan presiden secara
langsung, atau sistem lain yang lebih dapat diterima, pokonya selain sistem UUD
45.

Yang saya tangkap, Sistem pemerintahan menurut UUD 45 itu nggak membuka peluang
bagi adanya oposisi (atau nggak diperlukan) ataupun koalisi dalam membentuk
pemerintahan, karena setelah presiden terpilih pada waktu SU, hak beliau
sepenuhnya untuk memilih menterinya. Mungkin karena kebutuhan yang mendesak
waktu itu (1945) bagi tebentuknya pemerintahan yang bersatu dan tidak
terpecah-pecah.

Oh, ya satu lagi yang paling parah menurut saya adalah hasil penelitian dari
Balitbang PDIP tentang UUD '45 yang menurut mereka bahwa UUD '45 itu sudah
bagus dan nggak perlu di ubah, Sementara orang-orang besar di PDIP, mulai dari
pimpinannya sampai bawahan kayak Haryanto Taslam, Ir. Sutjipto, dsb. terus
meneriakkan bahwa seharusnya Megawati jadi presiden. Ini yang saya nggak habis
ngerti, apakah mereka itu nggak ngerti atau pura-pura nggak ngerti dengan
Konstitusi(UUD 45 yang mati-matian mau mereka pertahankan), sehingga mereka
terus berteriak-teriak, Mega presiden. Seharusnya mereka itu menghantam
konstitusi, bukannya membuat opini bahwa pemenang pemilu harus memegang
pemerintahan. Dengan begitu muncullah pendukung setia Megawati dengan jempol
darahnya, eh malah dibalas dengan jihadnya Fraksi Islam. Nggak akan ada yang
mau ngalah.

Atau barangkali mereka(PDIP) itu sudah kadung malu menjilat ludah sendiri yang
menyatakan bahwa mereka tidak ingin merubah UUD 45, tapi mereka sendiri nggak
bisa menerima isinya, terutama tentang tata cara pemilihan presidennya. Jadi
pertanyaan besar menggantung di gerbang INDONESIA BARU 2000 nih : SIAPKAH PDIP
BERDEMOKRASI ....?????

Sekian.
-----
Mudah-mudahan komentar saya nggak membuat saya dikejar-kejar Satgas.



Martin Manurung wrote:

> First of all, I didn't say anything about blank cheques
>
> Ramos menjadi Presiden di Filipina dengan 20%, Kennedy menjadi Presiden di
> AS dengan 40%. Di sini pemenang Pemilu mencapai 38%. Bagi saya ---ini
> lagi-lagi saya nyatakan--- kemenangan 38% itu baik sekali untuk masa depan
> demokrasi. Artinya pemenang Pemilu cukup legitimated untuk memerintah
> (dibanding yang 8%, 15% dan 20%), tetapi tidak cukup besar untuk berkuasa
> mutlak, apalagi menjadi diktator. Pemenang Pemilu itu akan memiliki partner
> tanding demokrasi yang sangat baik dan kuat. Itu jauh lebih baik daripada
> single majority.
>
> Oh ya...., seandainya anda tidak melihat nama saya pada sender-nya tentu
> komentar anda tidak seperti ini ya...? Karena apa yang anda bilang itu SAMA
> dengan yang saya bilang. Cobalah bandingkan yang saya kutip di bawah ini:
>
> IWAN bilang:
> "Maka dari itu, sudah waktunya PDIP lebih aktif melakukan tawar-menawar
> politik. Jangan hanya dengan bekal 35 atau 40 % suara lantas seolah-olah
> berhak untuk membentuk pemerintahan ...."
>
> MARTIN bilang:
> "Sebaliknya, PDI Perjuangan meskipun cukup legitimated membentuk
> pemerintahan sebagai pemenang, tetapi tidak cukup kuat sehingga perlu
> dukungan/aliansi/koalisi dengan partai-partai lain yang reformis."
>
> Eh..., bedanya apa sih ya?
>
> Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
> ____________________________________________
> Dukunglah Kampanye AGAMA untuk PERDAMAIAN!
> Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama (FORMA-KUB)
> Kunjungi http://come.to/forma-kub  E-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> -----Original Message-----
> From: Iwans <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
> Date: 08 Juli 1999 20:23
> Subject: Re: [Kuli Tinta] STATISTIK , MATEMATIK , POLITIK
>
> Bung Martin,
>
> Seandainya hanya dengan suara 35 % sebuah partai dipersilahkan membentuk
> pemerintahan, diberi cek kosong -- partai apapun -- lantas bagaimana dia
> harus menghadapi rakyat yang 65 % lagi ? Dibuang ke tong sampah ?
>
> Bagaimana kalau pemenang Pemilu hanya dapat suara 20 % pada suatu ketika
> nanti ?
>
> Aturan bahwa pemenang Pemilu minoritas bisa mengambil semua jelas
> bertentangan dengan demokrasi ! Saya tidak setuju dengan pendapat anda.
> Secara logika tidak bisa diterima.
>
> Maka dari itu, sudah waktunya PDIP lebih aktif melakukan tawar-menawar
> politik. Jangan hanya dengan bekal 35 atau 40 % suara lantas seolah-olah
> berhak untuk membentuk pemerintahan ....
>
> Itu saja sementara ini.
>
> Iwan
>
> Martin Manurung wrote:
> >
> > Saya baru tahu tuh ada "Statistik Politik"
> >
> > Bagi saya, membaca hasil Pemilu kemarin telah jelas, tidak usah
> > dibolak-balik. PDI Perjuangan dapat 35% suara, Golkar 25%, ..., PAN 8%.
> > Pemenangnya PDI Perjuangan. Meskipun masih ronde pertama, tetapi sebagai
> > penghargaan kepada suara rakyat, dipersilakan membentuk pemerintahan.
> Suara
> > rakyat yang memilih partai lain, tidak percuma. Partai yang belum menang,
> > dipersilakan menduduki kursi terhormat sebagai oposisi. Sebaliknya, PDI
> > Perjuangan meskipun cukup legitimated membentuk pemerintahan sebagai
> > pemenang, tetapi tidak cukup kuat sehingga perlu dukungan/aliansi/koalisi
> > dengan partai-partai lain yang reformis.
> >
> > Alhamdullilah, nilai Statistik 1 dan 2 saya, tidak mepet ke "C" dan "D",
> > he..he..he..
> >
> > Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
> > ____________________________________________
> > Dukunglah Kampanye AGAMA untuk PERDAMAIAN!
> > Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama (FORMA-KUB)
> > Kunjungi http://come.to/forma-kub  E-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > -----Original Message-----
> > From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: Indo Mailling <[EMAIL PROTECTED]>; Millis Kuli-Tinta
> > <[EMAIL PROTECTED]>; Milis Mimbar Bebas <[EMAIL PROTECTED]>
> > Date: 02 Juli 1999 17:41
> > Subject: [Kuli Tinta] STATISTIK , MATEMATIK , POLITIK
> >
> > Statistik itu cabang dari matematik yang ngurusi  soal  mengumpulkan,
> > menata, serta menganalisa data.  Para mahasiswa pasti tidak asing  dengan
> > kata-kata mean, average, standard deviasi, frekwensi , dsb.  Juga  mungkin
> > kenal pula dengan  sampling theory, estimation theory, design experiment ,
> > dll.  Bagi banyak  mahasiswa, ( karena lumayan sulit )  statistik adalah
> > dekat "C" atau "D". Bagi sebagian kecil lain , dia memang matematika yang
> > penuh keanggunan dan keasyikan.
> >
> > Dalam negara demokrasi modern , statistik adalah juga cabang dari politik.
> > Misalnya , statistik adalah , Polling. Bagaimana membaca dan mempengaruhi
> > polling. Itu erat sekali dengan  meraih suara rakyat. Dan bagaimana meraih
> > kekuasaan.  Statistik juga adalah data hasil pemilu . Bagaimana
> > menerjemahkannya buat pemilihan akan datang. Bagaimana merubah kekalahan
> > jadi kemenangan atau sebaliknya.
> >
> > ______________________________________________________________________
> > To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
> ______________________________________________________________________
> If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
> To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!




______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke