Yang tawuran seharusnya dibunuh saja, lumayan untuk mengurangi populasi jakarta
yang semakin banyak dengan binatang yang susah diatur. Toh mereka besar juga
tidak membawa manfaat bagi kehidupan, bikin ruwet aparat saja.

Chandra Adenan wrote:

> Wah, solusinya menyeramkan, jangan gitu dong. Tanpa menampung anak-2 tawuran
> aja penjara kita udah penuh apalagi ditambah dengan anak-2 yang tawuran.
> Lagi pula kalo mereka dipenjara, kita malah akan menciptakan bom waktu yang
> baru.
> Begini, anak-2 tetaplah anak-2. mereka sangat agresif, emosional dan reaktif
> (kalo tidak begitu, mestinya anak itu punya kelainan).
> Masalahnya anak-2 itu sudah kadung dibentuk menjadi sebuah korps, anda bisa
> lihat kalo seorang sersan dari suatu kesatuan dipukul maka sebagian besar
> level bawah kesatuan itu akan mengamuk, itulah bahayanya korps. hanya yang
> lebih parah lagi korps pelajar tidak memiliki komandan yang 100% berkuasa
> untuk mengatur kehidupan mereka. Sehingga mereka seperti pasukan liar.
> Mustinya kepala sekolah atau guru bisa sangat berperan sebagai komandan,
> tapi mereka tidak mampu. Ah anda tau sendirilah kenapa mereka tidak mampu.
> Aku hanya memberikan gambaran bahwa dulu (katanya) profesi guru itu sangat
> strategis dan sangat dihormati. Tapi lihat sekarang, anda mengerti toh apa
> yang aku maksudkan.
>
> ----- Original Message -----
> From: Franca A.S. Wenas <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Tuesday, July 27, 1999 1:51 PM
> Subject: [Kuli Tinta] TAWURAN LAGI LAGI TAWURAN
>
> > Cukup, cukuuuuuuuuuuuuuup sudah !. Kok statistiknya cenderung meningkat
> > akhir-akhir ini.
> >
> > Kami mau sedikit sumbang pikiran.
> > Kenakalan remaja melalui tawuran itu bisa disebabkan oleh hal-hal yang
> > berbau kesetiakawanan, rasa keadilan & rasa sok jagoan  tanpa (mau)
> > mengerti/memahami permasalahan yang sebenarnya, benar atau tidak.
> > Kebenaranyapun diukur menurut otak & emosi mereka. Selain itu juga faktor
> > historis yang tidak dapat dihilangkan, sekali sudah bermusuhan, akan tetap
> > musuh.
> >
> > Tak dipungkiri ada faktor keluarga & sekolah juga mempengaruhi, seperti
> > sudah banyak dibicarakan para pakar. Dan itu pasti rumit, walau sudah ada
> > pola penanganannya.
> >
> > Sisi lain yang mungkin perlu diterapkan, ialah ketegasan kita semua,
> > termasuk aparat keamanan, hukum & pendidikan.
> > Mereka yang sudah tertangkap tangan sudah seharusnya segera dijatuhi
> > hukuman, baik disekolah atau diluar sekolah. Seperti, dirumahkan, hukuman
> > sekolah, dikeluarkan, dimasukkan ke panti anak nakal, bahkan sampai di
> > penjara.
> >
> > Ini sangat penting untuk menghilangkan preseden yang buruk dalam pikiran
> > mereka. Sepertinya mereka masih tetap (akan) diampuni.
> >
> > Kalau perangkat hukumnya kurang, yah cepat-cepatlah dilengkapi,
> > cepaaaaaaaaaat dong!!.
> > Waktu berguliir terus nih, dan korban juga 'nggak mau ketinggalan
> > (berjatuhan) !! Mau apa lagi.
> >
> > Gimana menurut aparat pendidikan, hukum & keamanan ?????.
> >
> > Naaasib bangsaku...............serba ketinggalan.
> >
> > Trim's,
> > Fw.
> >
> >
> >
> > ______________________________________________________________________
> > If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
> > To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
> > To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
> ______________________________________________________________________
> If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
> To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!




______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke