----- Original Message -----
From: Abdur Rahim <[EMAIL PROTECTED]>
del
Tentu ini sebuah penyederhanaan juga. Karena kondisi sebenarnya tentu
lebih kompleks.
beDoer
===============================
Kompleks namun bisa dipikir secara sederhana.
Menurut Ki hadjar, pendidkan ditentukan oleh tiga faktror yaitu Keluarga,
Masyarakat, dan Sekolah.
Sayang sekali, ke tiga faktor tersebut dalam era pembangunan selama Orba
telah tercemar berat oleh gelora pembangunan yang menempatkan pembangunan
ekonomi diatas segalanya. Akibatnya, pembangunan ekonomi itu tidak dibarengi
oleh pembangunan sosial, budaya, dan politik yang terseok-seok menyesuaikan
diri. Kritik ni telah muncul setelah pelaksanaan Pelita I. Apakah ada
perbaikan? Kalau ada perbaikan bukan Orde keras kepala namanya (harap dibaca
dengan logat Kadir)
Akibatnya, nilai-nilai kemanusiaan yang mestinya ditanamkan oleh Keluarga,
Masyarakat, dan Sekolah menjadi tidak jelas oleh sebab hal itu memang tidak
menjadi prioritas.
Menurut saya, dikatakan kompleks karena untuk mengatasinya kita harus
menghilangkan penyebabnya. Disamping itu, periode itu menghadirkan generasi
yang hilang dimana untuk menemukannya kembali tidaklah mudah. Dalam hal ini,
Martin adalah anomali. Untuk menghilangkan penyebab itu berarti orientasi
itu harus diubah dan itu terjadi pada saat negara sedang dalam keadaan sakit
parah dibidang ekonomi dan politik seperti ini.
Oleh karena itu, sekali lagi, harga yang harus dibayar untuk gemerlapnya
hasil pembangunan Indonesia memang sangat mahal. Puluhan trilyun hasil KKN
itu cukup menjadi indikator bagaimana rendah produktivitasnya. Hulunya
memang hanya satu yaitu tesis pembangunan Soeharto.
______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!