Anda benar. Pencegahan korban untuk sementara
harus dilakukan oleh Kepala Sekolah. Tapi berapa 
orang sih yang mempunyai mobil. Masalah Bis Umum,
sampai dimana mereka bisa mendrop siswanya, dan sampai 
kapan program itu bisa dijalankan ?

Usul penghapusan seragam PUTIH-ABU2 juga saya yakini
sebagai usul sementara, daripada menunggu adanya korban
lebih lanjut. Apalagi kalau itu menimpa adik, saudara, 
tetangga saya maupun kerabat saya.......
(hehehe....beeing selfish nih!)
 
Untuk supaya masalah ini mendapat perhatian, saya sudah
mengirimkan surat pembaca kepada beberapa Media, semoga
saja ada yang mau memuat-nya, dan akan terbaca oleh
Petinggi kita. Ngga diterima ngga apa-apa, tapi paling
tidak masalah Tawuran akan menjadi perhatiannya dan
dicarikan lagi alternatif lainnya, selain dr usaha2
kecil dan klasik yg telah dijalankan selama ini....:)


Salam,
bRidWaN

At 10:40 AM 7/30/99 +0700, Sari wrote:
>Walaupun ekstra kulikulernya banyak tapi kalau bobot dari kegiatannya tidak
>menarik, yach...untuk apa, memang di 70 saya akui dan saya rasakan sendiri,
>itupun hanya kegiatan tertentu saja dan selalu menjadi sorotan di sekolah.
>Kegiatan tsb tidak semua murid yang dapat ikut karena mereka melakukan
>penyeleksian, kemungkinan besar karena terlalu banyak yang mendaftar atau
>hal lain. Dan biasanya itupun terjadi disekolah-sekolah lain.
>Saya jadi teringat, pernah 70, saking seringnya  diserang atau  menyerang
>dan banyaknya jatuh korban baik yang luka atau yang harus dimutasikan
>kesekolah lain, sehingga Kepala Sekolah memutuskan agar murid-murid
>dijemput oleh orangtuanya atau beberapa bis umum sudah parkir didepan
>sekolah, tidak effektif memang. Tapi itulah tindakan pencegahan jatuhnya
>korban untuk sementara waktu.
>
>Kalau saja jurang kesenjangan sosial tidak makin dalam, yang kaya makin
>kaya yang miskin makin empot-empotan, InsyaAllah, problem yang dihadapi
>berlarut-larut akan selesai. 


>At 11:38 AM 7/29/99 , you wrote:
>>
>> Benar.....dan masih banyak lagi yang masih bisa dikerjakan.
>>
>> Namun...saya ada sebuah contoh yang unik.
>> Mungkin anda tahu SMA 70.......suatu sekolah Unggulan yang
>> mempunyai prestasi segudang. Ekstra Kurikuler-nya ?
>> jangan ditanya. Selain jam-jam Pengayaan ditambah terkadang
>> sampai jam 16.00, belum dengan kegiatan ekstra yang lain.
>> Itu sebabnya lebih dari separoh lulusan sekolah ini, bisa
>> diterima diperguruan tinggi Negeri, suatu tempat yang
>> menjadi 'prestise' dan kebanggaan para lulusan SMA di-Indonesia.
>>
>> Tawuran ?
>>
>> Anda check sendiri-lah. Kadang diserang, kadang menyerang.
>> Yang korban ? Anak2 yang tidak tahu apa-apa, tetapi kebetulan
>> memakai seragam Putih Abu-abu.
>>
>> Bagaimana kalau itu terjadi pada sekolah adik kita. 
>> Pasti kita akan bilang : Hei...loe mending bawa baju ganti deh !
>> Daripada mati-konyol......, Iya ngga ?
>>
>> Salam,
>> bRidWaN 


>>At 10:58 AM 7/29/99 +0700, Sari wrote:
>>>Tawuran tidak hanya milik pelajar, sampai tawuran antar mahasiswa 
>>>fakultas A atau tawuran wargapun kerapkali terjadi dan solusinya 
>>>bukan dengan ditiadakannya baju seragam.
>>>Saya lebih setuju kalo hal itu terjadi karena lingkungan tempat 
>>>tinggal terutama keluarga atau tempat mereka belajar.
>>>Saya lebih setuju, kalau kegiatan ekstrakulikuler disekolah ditingkatkan,
>>>sehingga dapat menampung segala kreatifitas dan menambah aktivitas mereka.
>>>Menghidupkan kembali tempat-tempat yang disediakan oleh pemerintah
>>>(Gelanggang Remaja) sehingga apa yang mereka kerjakan akan berguna bagi
>>>mereka dan masyarakat. 

>>>At 09:48 AM 7/28/99 , you wrote:
>>>>tawuran bukan karena seragam kok....
>>>>itu adalah solusi pendek yang kurang bijaksana...
>>>>
>>>>kayaknya lingkungan, sekali lagi lingkungan tempat mereka menjalani hidup
>>>>sekarang ini sangat tidak mendukung anak2 itu untuk belajar, menuntut
>>>>ilmu, mengejar target prestasi belajar tertentu,...dll. Mereka sejak kecil
>>>>udah terbiasa dengan kehidupan nyata yang sangat keras dan brutal. Dan
>>>>setelah mencapai tingkat kedewasaan tertentu barulah mereka "berani"
>>>>mempraktekkan apa yang telah mereka lihat dan alami di kehidupannya.
>>>>Akhirnya, ngga suka orang lain lebih baik dari dia, ngga suka anak lain
>>>>lebih norak dari dia, . dlll. Dan ujungnya dari ketidaksukaannnya dan ke
>>>>egoissannya...."loe berani ama gua", "kalo berani berantem aja", dll.
>>>>bentuk kekerasan yang lain....dan itu selalu menjadi beban pikiran
>>>>mereka..sebelum anak2 lain saingannya kalah dari dia atau korpsnya....
>>>>
>>>>Sebuah pendidikan kekeluargaan yang kacau, pendidikan anak yang ngawur dan
>>>>asal, dan itu segala bentuk pendidikan lainnya yang diabaikan ortu2 di
>>>>Indonesia terutama di wilayah kota besar, dimana ortu ditekan berbagai
>>>>tuntutan kehidupan yang sangat2 keras dan kejam.....frustasi, stress,
>>>>egoisme, ..dll.
>>>>
>>>>Sebuah kehancuran kehidupan remaja dan pendidikan di keluarga semakin
>>>>dijelang oleh rakyat Indonesia, kalo semua aspek kehidupan kekeluargaan
>>>>tidak segera sadar dan mampu berubah dengan positif..
>>>>
>>>>REnungkan...!!!
>>>>
>>>>"Remember about your mortallity...wiser you become..."
>>>>              
>>>>            Irfan DP
>>>>----------------------------------
>>>>http://medac.geoph.itb.ac.id/irfan
---------------------------------------------------------------

>>On Wed, 28 Jul 1999, bRidWaN wrote:
>>
>>>>> Usul ini saya lemparkan setelah melihat tidak berhasilnya
>>>>> pihak yg berwenang meredam masalah tawuran ini.
>>>>> 
>>>>> Saya sangat percaya, bahwa masalah seragam sekolah ini
>>>>> akan sangat ampuh meredam masalah tawuran.
>>>>> 
>>>>> Jangan lupa, kalau mereka dalam waktu libur bertemu
>>>>> dibioskop, toko buku, cafe tenda, atau mall, pasti tidak
>>>>> akan ber-tawuran.
>>>>> Tetapi bila mereka ketemu dijalan dg memakai 'SERAGAM PUTIH ABU2"
>>>>> kemungkinan terjadinya tawuran sangatlah besar.
>>>>> 
>>>>> Itu dasar dari pemikiran saya.
>>>>> 
>>>>> Salam,
>>>>> bRidWaN 
====================================================== 
 
>>>>> At 11:07 PM 7/27/99 +0700, Phantom Stranger wrote:
>>>>> >From: Franca A.S. Wenas <[EMAIL PROTECTED]>
>>>>> >> Kami mau sedikit sumbang pikiran.
>>>>> >> Kenakalan remaja melalui tawuran itu bisa disebabkan oleh hal-hal
yang
>>>>> >> berbau kesetiakawanan, rasa keadilan & rasa sok jagoan  tanpa (mau)
>>>>> >> mengerti/memahami permasalahan yang sebenarnya, benar atau tidak.
>>>>> >> Kebenaranyapun diukur menurut otak & emosi mereka. Selain itu juga
>>>faktor
>>>>> >> historis yang tidak dapat dihilangkan, sekali sudah bermusuhan, akan
>>>tetap
>>>>> >> musuh.
>>>>> >------------
>>>>> >jadi permasalahan intinya adalah di pola pemikiran mereka ya?
>>>>> >jadi ya itulah yang harus di'perbaiki'...mengenai masalah baju seragam,
>>>saya
>>>>> >kira itu hanya bisa 'mengalihkan' saja..tapi gak bisa menyelesaikan
>>>>> >permasalahannya..
>>>>> >
>>>>> >sebab lain mungkin tekanan2 yang dirasakannya di rumah, sekolah,
>>>pergaulan,
>>>>> >dll..
>>>>> >
>>>>> >> Sisi lain yang mungkin perlu diterapkan, ialah ketegasan kita semua,
>>>>> >> termasuk aparat keamanan, hukum & pendidikan.
>>>>> >> Mereka yang sudah tertangkap tangan sudah seharusnya segera dijatuhi
>>>>> >> hukuman, baik disekolah atau diluar sekolah. Seperti, dirumahkan,
>>>hukuman
>>>>> >> sekolah, dikeluarkan, dimasukkan ke panti anak nakal, bahkan
sampai di
>>>>> >> penjara.
>>>>> >--------------
>>>>> >saya setuju dengan ketegasan..
>>>>> >tapi saya ragu, apakah hukuman bisa menyelesaikan masalahnya?
 

______________________________________________________________________
If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!







Kirim email ke