Komkom :
>Nah, logika saya begini : PDIP itu bisa membangun POSKO-POSKO, 
> >cetakbendera, cetak poster, cetak plakat, >dst. tentunya punya dana 
> >berlebih,bahkan PDIP telah melakukan itu sebelum masa kampanye.

Yap:

Tetapi jelas bukan dari money poltics yang menggerogoti uang rakyat. Kecuali 
Anda punya info yang masuk akal.

Komkom:
>Jadi apakah bijak untuk mengatakan bahwa peringkat Golkar yang nomer 
> >duadalam pemilu itu adalah kesalahan?

Yap:
Bagi saya nggak masalah, walaupun banyak parpol lain memasalahkannya. Kelak 
juga akan ada kejelasan.

Komkom:
>Apakah mau "Musyawarah untuk Mufakat" ataukah "Plurarisme".

Yap:

Pluralisme tidak berarti tetap berbeda pendapat selamanya. Beda pendapat 
hanya dimungkinkan ketika dalam proses pengambilan keputusan bersama. 
Setelah keputusan diambil, nggak boleh lagi berbeda pendapat, karena semua 
harus commited melaksanakan keputusan itu.

Komkom:

>Faktanya, partai-2x Islam mempertanyakan Megawati dari segi 
> >gender,kemampuan dll.

Yap:

Itu sah sah saja dalam menyongsong SU MPR. Juga sah sah saja bagi yang 
berpendapat sebaliknya. Tetapi setelah diputuskan SU MPR, apapun hasilnya, 
semua harus menerima dengan jiwa besar. Supaya nggak dibilang ngeyel.

Komkom:

>Dengan menggunakan logika bebek, saya itu adalah unit terkecil 
> >dari"gerombolan" dan saya tidak ikut gerombolan itu.Harap anda jeli 
> >untuk membedakan antara saya sebagai "Non gerombolan"dengan >"gerombolan" 
>itu,

Yap:
Ini sama sekali nggak tepat untuk mendukung alasan selalu ikut arus atau 
selalu melawan arus. Mengapa membelenggu diri dengan identifier gerombolan?

Komkom:

>.. sebagaimana saya tidak pernah melihat domain address pada e-mail >anda. 
>Bisa saja saya menggunkan e-mail gratisan, tapisaya tidak mau.

Yap:
e-mail gratisan? Enak aja. Apanya yang gratis? Penggunaan domain hotmail.com 
sama sekali nggak gratis bung. Apakah Anda bisa mengakses hotmail.com tanpa 
berlangganan ISP. Dari mana membuka connection-nya? Tolong beritahu kalau 
ada caranya.
Dengan menggunakan hotmail.com ini saya membayar sama dengan pemakai 
internet pada umumnya. Bahkan mungkin lebih besar. Saya membayar internet 
access fee kepada ISP saya, saya membayar pulsa telepon pada Telkom, saya 
membayar listriknya, saya membeli hard-ware dan software komputernya, bahkan 
saya membeli gedung atau perangkat lainnya untuk mengoperasikannya. Saya 
membayar dengan uang pribadi. Bukan gratisan.

Tolong dijawab dengan jujur (boleh dong tanyaaaa�), apakah dengan user-name 
Anda ini Anda juga membayar sendiri apa yang saya bayar itu? Internet access 
fee, pulsa telepon, listrik, komputer, bahkan gedungnya? Apakah lab yang 
Anda sebut itu Anda beli dengan uang pribadi Anda? Kalau ya berarti kita 
sama nggak gratisan. Tetapi kalau tidak, bagi Anda kemungkinannya hanya dua, 
mencuri atau korupsi. Karena kalau Anda pakai fasilitas internet pada 
institusi tempat Anda bekerja, Anda pasti tahu bahwa fasilitas internet itu 
tidak disediakan dengan maksud untuk dipergunakan bagi kepentingan pribadi 
pegawainya, misalnya untuk bermilis ria disini.
Jadi siapa yang gratisan?

Saya menggunakan �free email� dengan tujuan menghindarkan �hello effect�. 
Dalam budaya kita, tulisan atau perkataan seseorang biasanya dinilai dari 
siapa yang menulis atau berkata. Bukan tulisan atau perkataannya. Dan saya 
menghindari penilaian orang atas posting saya hanya karena hello effect dari 
user name saya. Apalagi saya cuma orang biasa dan selalu ingin biasa biasa 
saja.

Jadi kalau dalam user-name Anda terdapat kata ITB, wajar saja kalau banyak 
orang berharap pencerahan dari posting Anda. Dan kecewa saat posting itu 
tidak merefleksikan citra ITB yang menbanggakan itu. Mengapa? Itulah hello 
effect. ITB, institusi yang sangat membanggakan saya dan banyak orang 
Indonesia. Jelasnya banyak yang mengharapkan mendapat sesuatu yang 
membanggakan dari segala sesuatu yang berbau ITB. Termasuk dari Anda.

Dalam kasus saya, user name dari ISP  saya gunakan terutama untuk membuka 
connection. Dengan mobilitas saya yang termasuk tinggi, saya berlangganan 
beberapa ISP dibeberapa kota. Kadang juga di public net.  Setelah connection 
terbuka, tergantung apa yang akan saya lakukan. Kalau memang perlu pakai 
user-name dari ISP saya, kalau tidak, saya buka domain lain sesuai 
keperluan. Hal yang sama juga saya berikan kepada rekan-rekan yang bekerja 
untuk saya, agar dia bisa menggunakan internet sebebas bebasnya untuk 
meningkatkan wawasannya. Dan saya membayar untuk kebebasan mereka. Bung 
Aswat bilang freedom is not free, dan I am always willing to pay for it, as 
long as I deserve to it. Jadi nggak gratisan. Enak aja....

Komkom:
>Saya tidak pernah bahagia dengan memojokkan PDIP dan"agak" membela >P. 
>Golkar atau P. apalah.

Yap:
Baguslah. Normalnya memang begitu. Semoga netters disini  banyak yang 
sependapat dengan pernyataan Anda ini. Cobalah introspeksi.

Yap


>From: Raja Komkom Siregar <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: [Kuli Tinta] MAHAPUTRA ON SALE
>Date: Thu, 19 Aug 1999 17:21:48 +0700 (JAVT)
>
>On Thu, 19 Aug 1999, Yap C. Young wrote:
>
> > Satu lagi bukti teganya seseorang menghukum berdasar kecurigaan. 
>Sementara
> > yang fakta kesalahannya bertubi-tubi muncul dibela dengan : Bukan hanya 
>dia
> > yang salah. MUNGKIN dia juga salah.
> > Ini namanya logika menang-menangan.
>
>Bukan membela bung, Tapi itu murni penilaian orang awam yang suka menonton
>pra-masa-pasca kampanye. Faktanya PDIP memang mendapat dukungan terbesar,
>konsekuansinya adalah massa kampanye yang membludak untuk partai "merah".
>Nah, logika saya begini : PDIP itu bisa membangun POSKO-POSKO, cetak
>bendera, cetak poster, cetak plakat, dst. tentunya punya dana berlebih,
>bahkan PDIP telah melakukan itu sebelum masa kampanye. Sementara partai
>lain belum melakukan itu, termasuk Golkar. Bahkan Golkar sendiri sampai
>pasca kampanye tidak menunjukkan suatu "kesemarakan". Logika saya ini
>ternyata sudah dijawab dengan dukungan luas terhadap PDIP.
>
>Penjahat sekalipun mesti dibuktikan dulu kejahatannya. Bukan dengan
>memvonis yang bukan-bukan tanpa ada rasa keadilan dan pengadilan.
>
> > Memang PDIP nampaknya mampu menghimpun dana lumayan besar, baik yang 
>melalui
> > account perjuangan yang menerima sumbangan sukarela, maupun uang pribadi
> > yang dibelanjakan langsung oleh para pendukung PDIP untuk mendukung
> > pemenangan PDIP. Tetapi berapapun besarnya dapat dijamin bukan mencuri 
>dana
> > rakyat, atau korupsi. Jadi apakah perlu diusili hanya karena yang lain 
>nggak
> > mampu begitu?
> > Bukankah sekarang saatnya yang lain belajar dari success story ini?
> >
>
>Justru disinilah letak permasalahannya, PDIP itu memang mendapatkan
>dukungan luas. Tapi apakah kita semua melupakan bahwa masih banyak
>saudara-2x kita yang "berhutang" pada Golkar, sehingga Golkar pun >masih 
>mendapatkan dukungan yang cukup signifikan, terutama diluar P. >Jawa.
>
>Jadi apakah bijak untuk mengatakan bahwa peringkat Golkar yang nomer dua
>dalam pemilu itu adalah kesalahan?
>
> > Ini salah satu model politik belah bambu. Sudah kehabisan akal??
> > Memang yang paling dikhawatirkan banyak pihak adalah kalau Megawati jadi
> > Presiden maka KKN jadi disikat beneran, bukan sekedar konsumsi media 
>seperti
> > selama ini. Sayang, yang beginian nggak bakal mempan.
> > Kerjasama dengan siapapun bagi PDIP boleh saja, tetapi kalau harus ganti
> > Capres, nggak bakalan dah. Dan nampaknya PDIP berani membayar keyakinan 
>ini
> > dengan harga berapapun, misalnya harus terpaku jadi oposisi. Menjadi 
>oposisi
> > bagi Pemerintah yang korup, kolutif dan nepotis juga posisi yang 
>terhormat
> > kok. Juga nggak masalah kalau semua yang mengaku reformis 
>meninggalkannya.
> > Bertahan pada prinsip kadang memang pahit, tetapi terhormat.
>
>Sekarang ini saya lebih senang menatap sistem pemerintahan Indonesia baru
>daripada sekedar mempermasalahkan jargon-jargon politk reformis, KKN, dsb.
>Apakah mau "Musyawarah untuk Mufakat" ataukah "Plurarisme".
>
>Faktanya, partai-2x Islam mempertanyakan Megawati dari segi gender,
>kemampuan dll.
>
> > Ok, sebagai closing, saya ingin menyampaikan kepada Anda : Belum 
>terlambat
> > kok kembali keposisi normal. Lihatlah sesuatunya dengan mata hati sambil
> > menyadari bahwa tidak perlu mengorbankan kredibilitas Anda dengan ngotot
> > membela yang salah. Nampaknya sih banyak yang mengharap agar Anda yang
> > membawa atribut ITB pada user-name itu mampu berpendapat obyektip. Bukan
> > sekedar ikut arus atau sekedar melawan arus.
> >
>Dengan menggunakan logika bebek, saya itu adalah unit terkecil dari
>"gerombolan" dan saya tidak ikut gerombolan itu.
>Harap anda jeli untuk membedakan antara saya sebagai "Non gerombolan"
>dengan "gerombolan" itu, sebagaimana saya tidak pernah melihat domain
>address pada e-mail anda. Bisa saja saya menggunkan e-mail gratisan, tapi
>saya tidak mau. Saya tidak pernah bahagia dengan memojokkan PDIP dan
>"agak" membela P. Golkar atau P. apalah.
>
>
>______________________________________________________________________
>If you want to subscribe or unsubscribe, send an empty email;
>To subscribe: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan lakukan sendiri dengan mengirim e-mail 
kosong ke;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!








Kirim email ke