Terima kasih bung Yap atas nasehatnya. Suatu kesalahan yang terlalu lama
dibiarkan, lama-kelamaan akan menjadi membudaya, tanpa pelakunya
'menyadari' kesalahannya. Atau mungkin akhirnya kesalahan itu
diketahui yang berwenang dan akhirnya memperoleh pembenaran. (Ilustrasinya
sangat banyak e-mail2 pribadi menggunakan account itb.ac.id; diketahui
oleh yang berwenang - dalam hal ini 'penguasa' lab -  dan tidak mendapat
teguran. Karena dibenarkan ? ).  Posting anda mengingatkan saya untuk
mengintrospeksi diri. Dan di sinilah pentingnya nasehat yang tulus dari
seorang rekan, dan kesediaan menerima nasehat dari pihak yg dinasehati.

Sekedar informasi, di ITB ada lab-lab tertentu yang menarik iuran dari
orang yg ingin memiliki account, dan ada juga lab yang memberikan account
secara selektif tanpa biaya. Di samping itu ada juga account2 (gratis) 
yang diberikan dengan seleksi yang sangat tidak ketat (misal :
student.itb.ac.id).

Saya akan mulai menghitung2, apa saja fasilitas ITB yang pernah saya
gunakan untuk keperluan pribadi, dan apakah memang dibenarkan (contohnya
perpustakaan digunakan untuk belajar sendirian tentu dibenarkan). Jika
saya memang tidak berhak, Insya Allah saya akan meninggalkan fasilitas
tersebut, termasuk menggunakan internet di ITB dlm hal2 yg pribadi. Tapi
jika hak tsb ternyata memang saya miliki, tentu saya akan menggunakannya.

Kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz yg mematikan lampu milik negara saat
membicarakan permasalahan keluarganya kini terngiang kembali di telinga
saya. Do'akan saya mampu melakukan hal yang benar.

Terima kasih.

beDoer


> Yap:
> e-mail gratisan? Enak aja. Apanya yang gratis? Penggunaan domain hotmail.com 
> sama sekali nggak gratis bung. Apakah Anda bisa mengakses hotmail.com tanpa 
> berlangganan ISP. Dari mana membuka connection-nya? Tolong beritahu kalau 
> ada caranya.
> Dengan menggunakan hotmail.com ini saya membayar sama dengan pemakai 
> internet pada umumnya. Bahkan mungkin lebih besar. Saya membayar internet 
> access fee kepada ISP saya, saya membayar pulsa telepon pada Telkom, saya 
> membayar listriknya, saya membeli hard-ware dan software komputernya, bahkan 
> saya membeli gedung atau perangkat lainnya untuk mengoperasikannya. Saya 
> membayar dengan uang pribadi. Bukan gratisan.
> 
> Tolong dijawab dengan jujur (boleh dong tanyaaaa�), apakah dengan user-name 
> Anda ini Anda juga membayar sendiri apa yang saya bayar itu? Internet access 
> fee, pulsa telepon, listrik, komputer, bahkan gedungnya? Apakah lab yang 
> Anda sebut itu Anda beli dengan uang pribadi Anda? Kalau ya berarti kita 
> sama nggak gratisan. Tetapi kalau tidak, bagi Anda kemungkinannya hanya dua, 
> mencuri atau korupsi. Karena kalau Anda pakai fasilitas internet pada 
> institusi tempat Anda bekerja, Anda pasti tahu bahwa fasilitas internet itu 
> tidak disediakan dengan maksud untuk dipergunakan bagi kepentingan pribadi 
> pegawainya, misalnya untuk bermilis ria disini.
> Jadi siapa yang gratisan?
> 
> Saya menggunakan �free email� dengan tujuan menghindarkan �hello effect�. 
> Dalam budaya kita, tulisan atau perkataan seseorang biasanya dinilai dari 
> siapa yang menulis atau berkata. Bukan tulisan atau perkataannya. Dan saya 
> menghindari penilaian orang atas posting saya hanya karena hello effect dari 
> user name saya. Apalagi saya cuma orang biasa dan selalu ingin biasa biasa 
> saja.
> 
> Jadi kalau dalam user-name Anda terdapat kata ITB, wajar saja kalau banyak 
> orang berharap pencerahan dari posting Anda. Dan kecewa saat posting itu 
> tidak merefleksikan citra ITB yang menbanggakan itu. Mengapa? Itulah hello 
> effect. ITB, institusi yang sangat membanggakan saya dan banyak orang 
> Indonesia. Jelasnya banyak yang mengharapkan mendapat sesuatu yang 
> membanggakan dari segala sesuatu yang berbau ITB. Termasuk dari Anda.
> 
> Dalam kasus saya, user name dari ISP  saya gunakan terutama untuk membuka 
> connection. Dengan mobilitas saya yang termasuk tinggi, saya berlangganan 
> beberapa ISP dibeberapa kota. Kadang juga di public net.  Setelah connection 
> terbuka, tergantung apa yang akan saya lakukan. Kalau memang perlu pakai 
> user-name dari ISP saya, kalau tidak, saya buka domain lain sesuai 
> keperluan. Hal yang sama juga saya berikan kepada rekan-rekan yang bekerja 
> untuk saya, agar dia bisa menggunakan internet sebebas bebasnya untuk 
> meningkatkan wawasannya. Dan saya membayar untuk kebebasan mereka. Bung 
> Aswat bilang freedom is not free, dan I am always willing to pay for it, as 
> long as I deserve to it. Jadi nggak gratisan. Enak aja....
> 
> Yap
> 


______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI dengan mengirim e-mail 
kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!









Kirim email ke