From: "Phantom Stranger" <[EMAIL PROTECTED]>

>From: Cosmas Damianus Tufan <[EMAIL PROTECTED]>
>> kalau urusnnya Muslim - non-Muslim ,mas
>> Saya sangat setuju bila negara ini dipecah saja.
>----------------------------------------------------------
>dipecah2 pun tidak akan menyelesaikan masalahnya..
>jika masalahnya adalah cara memandang agama, maka hal itulah yang harus
>diselesaikan..
>tapi kebanyakan males membahas mengenai agama..jika sudah menyangkut agama,
>maka lebih baik menghindar saja..karena dari diskusi/dialog yang sudah2,
>dalam membahas agama, emosilah yang sering kali keluar..inilah yang perlu
>diperhatikan..mengapa emosi bisa lebih sering keluar?
>kadangkala orang2 lebih mementingkan agama daripada manusianya..padahal
>agama itukan untuk manusia..

Agama itu menyangkut diri pribadi seseorang yang sangat dalam dan bersifat
primordial. Masalah agama biasanya selalu membangkitkan emosi karena
berkaitan dengan keyakinan dasar seseorang, dan kalau sudah bicara
keyakinan yang muncul pada akhirnya adalah 'keyakinan saya lebih baik dan
lebih benar daripada keyakinan kamu!", dan tidak soal agama saja, soal
keyakinan Manchester United lebih baik daripada Liverpool (misalnya) bisa
berujung emosional, keyakinan bahwa orang Jawa lebih baik daripada orang
Sunda bisa menyulut emosi, bahkan perselisihan bisa saja terjadi karena
yakin bahwa warna krem untuk cat tembok lebih bagus daripada biru langit!
Namun agama sebagai salah satu unsur kebudayaan yang universal memang amat
sangat sensitif karena kemungkinan untuk menyulut emosi sangat besar, dan
menurut saya hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman atas agamanya
sendiri, baik secara tersurat maupun tersirat, secara aqli maupun naqli.
Diskusi tentang agama menurut saya tidak berbeda dengan diskusi-diskusi
tentang topik apa saja, dalam artian berdiskusi dan berpendapat namun
menghargai dan menyadari perbedaan pendapat dan keyakinan orang lain,
pendek kata, jangan maksa! So what kalau lawan diskusi kita nggak setuju
dengan pendapat atau keyakinan kita, itu kan terserah penilaian dia
sendiri. Yang paling penting adalah bahwa kita dapat mempelajari sesuatu
dari diskusi tersebut, yaitu kesempatan untuk mengetahui jalan pikiran
orang lain untuk memperluas wacana dan wawasan kita sendiri.
>> Orang-orang Muslim biar memperoleh kapling
>> negara tersendiri agar mereka dapat mengurus
>> negara menurut selesa dan keinginannya.
>> Yang bukan Muslim atau Muslim yang lain
>> silahkan bergabung membentuk sebuah negara
>> pluralistik dimana kemajemukan dipandang
>> sebagai suatu kekayaan dan rahmat.
>----------------------------------------------
>menurut saya, lebih baik negara dengan agama dipisahkan saja..
>jadi, negara mengurusi negara dan rakyat, sedangkan agama mengurusi umatnya
>masing2..
>sekaligus mencegah adanya politik yang memasuki agama ..

Lho....kok menurut saya bagian yang ini agak bertolak belakang dengan yang
di atas....?

Saya kok kurang setuju dengan konsep pemisahan negara dan agama
(sekularisme?). Bagi saya hal ini ya tidak jauh berbeda dengan upaya
pengkotak-kotakan terhadap sesuatu, bagaimanapun juga yang namanya ummat
kan juga rakyat? Saya malah cenderung lebih menyukai konsep negara agama,
dengan syarat agama tersebut dilaksanakan secara kaaffah atau menyeluruh,
tidak sepotong-potong atau sepenggal-penggal, terutama oleh pemimpinnya
seperti contohnya Jazirah Arab di bawah Nabi Muhammad SAW. Semasa
pemerintahan Rasulullah, hukum Islam diterapkan dengan sungguh-sungguh dan
tanpa kecuali, menciptakan supremasi hukum dan kesamaan di hadapan hukum.
Tidak ada yang bisa lolos dari hukum, dan masyarakat menjalankan perannya
sebagai kontrol sosial. Hubungan antaragama mencapai puncaknya dalam masa
ini, dimana komunitas Nasrani dan Yahudi hidup berdampingan dengan
komunitas Muslim, bahkan dilindungi oleh hukum dan undang-undang Islam.
Demokrasi dalam kaitannya dengan persamaan kesempatan dan perlindungan
hukum diterapkan melalui Baitul Mal dan peradilan administratif. Dengan
mendirikan sholat (bukan hanya mengerjakan) kegiatan sehari-hari dapat
terkontrol dan akhlak dijaga, dengan zakat mengajarkan rendah hati dan
mendukung pemerataan kesejahteraan, dengan puasa memahami penderitaan kaum
miskin dan mempererat ukhuwah serta muamalah. Kuncinya disini adalah akhlak
dari pemimpin dan kedaulatan hukum, tanpa itu yang akhirnya terjadi adalah
kesewenangan Muawiyah dan kemunduran ummat.


Sebagai penutup saya sangat berharap Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid
dapat sedikitnya menciptakan suasana yang seperti ini, dimana komunitas
Islam sebagai mayoritas bukan dianggap dan tampak sebagai ancaman, tetapi
sebagai pelindung dan penjaga bangsa dengan segala perbedaan dan
pluralitasnya. Amin.


Wassalam,

Paladin A.
ICQ 50753984




______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke