Dewan, seperti yang sempat mencuat Dewan Ekonomi Nasional, atau nanti Dewan 
apa lagi, mempunyai potensi konflik dengan Departemen Teknis, tetapi dengan 
menempatkannya secara formal, maka dapat dilihat secara jelas tanggung jawab 
moralnya. Dewan ini merupakan bagian dari Pemerintahan. Pola ini jelas lebih 
baik daripada mereka seperti tumbuh diluar sistem tetapi sangat mewarnai 
sistem, sehingga dapat haknya nggak ada tanggung jawabnya.

Dibidang Ekuin, tercecernya Sri Mulyani, Faisal Basri, Rizal Ramli, Wimar 
Witoelar, Sri Adiningsih, Emil Salim, Theo Tumion, HS Dillon dan sebagainya 
cukup disayangkan.

Begitu juga dibidang Polkam, kita kehilangan kesempatan melihat kiprah 
lanjutan dari Todung Mulya Lubis, Adnan Buyung Nasution, Hartono Mardjono, 
Hatta Rajasa, Salim Said, AM Fatwa, Dimyati Hartono, Sabam Sirait, Bismar 
Siregar, dan tokoh pergerakan Aceh Merdeka atau Papua Merdeka dan 
sebagainya.

Dibidang Kesra, kompromi politik tidak mampu memunculkan Nurcholish Majid, 
Arief Rachman, WS Rendra, Harry Roesli, Habib Attamimi, Frans Magnis 
Soeseno, Wardah Hafidz, Ki Suratman, Imam B. Prakosa dan sebagainya.

Tidak salah kalau mereka dikandangkan didalam Dewan bentukan Pemerintah, 
yang berfungsi sebagai counterpart para anggota Kabinet, sehingga 
menampilkan internal competition yang sehat untuk berlomba berbuat 
kebajikan.

Peran masyarakat adalah menjaga agar transparansi sepak terjang mereka terus 
diawasi secara egaliter, sehingga privelege yang dinikmati tokoh tokoh gelap 
rezim yang lalu dapat diminimalisir.
Karena itu ada bagusnya kalau Teten Masduki, Bambang Wijoyanto, Arief 
Budiman, Sri Bintang Pamungkas dan tokoh pergerakan mahasiswa ditinggalkan 
diluar sistem, untuk memelihara transparansi dan obyektivitas.

Dewan-dewan itu tidak mempunyai kewenangan eksekutif dan lebih bersifat 
think thank, hasilnya konsep konsep, baik yang bersifat memberi inspirasi, 
menyampaikan penentangan maupun dukungan atas kinerja dan pemilihan 
prioritas oleh eksekutif.

Dalam Kabinet Kompromi Politik, atau malah yang secara sarkastis disebut 
Kabinet Tekanan Politik yang terbentuk sekarang ini, perlu ada kandang bagi 
para pakar, baik akademisi maupun praktisi, yang berfungsi sebagai 
penyeimbang, oposisi, dan diberi kesempatan dan kedudukan setara untuk 
menyampaikan kontribusi pemikiran dan tindakan yang dianggapnya terbaik bagi 
Indonesia, tetapi pelaksanaannya (eksekusinya) harus dibawah kendali dan 
koordinasi Pemerintah, sehingga tidak membingungkan rakyat, dan yang lebih 
penting lagi tidak menjadikan beban ganda bagi keuangan Negara.

Melihat langkah pertama GM dalam membentuk kabinet, terlihat jelas pola 
pikir Gus Dur yang dominan : menyederhanakan masalah dengan mengiyakan semua 
permintaan. Tipikal pemikir demokrat, yang mestinya juga harus diikuti 
langkah tegas dan segera apabila yang diiyakan itu tidak sesuai kenyataannya 
dilapangan. Karena itu saya menggaris bawahi pernyataan Gus Dur tentang 
sistim garansi sebagai kompensasi dari penerimaan komprominya pada kelima 
Presidium Nasional, Gus Dur, Amien Rais, Megawati, Akbar Tanjung dan 
Wiranto. Saya berharap Presidium ini berkembang kearah team work yang 
sinergik, bukan kearah kolusi, justifikasi dan permisif.

Yap

>From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: Sun, 24 Oct 1999 20:19:14 +0700
>
>Bagaimana dengan pembentukan dewan-dewan itu?
>
>��
>
>
>----- Original Message -----
>From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
>To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
>Sent: 24 October 1999 23:15
>Subject: [Kuli Tinta] Jangan ada CSIS dan CIDES lagi
>
>
>CSIS ditengarai sebagai lembaga think thank Soeharto, dan CIDES
>menjadi
>think thank Habibie.
>Ketika suara CSIS tergusur oleh suara konglomerat, runtuhlah
>istana pasir
>Soeharto. Ketika saran CIDES tentang opsi Timtim kurang
>antisipatif,
>hancurlah pamor Habibie.
>Lembaga yang pura pura swadaya masyarakat ini berisi orang orang
>pintar dan
>menjadi lembaga siluman yang lebih effektip dibanding DPR yang
>secara resmi
>disebut Perwakilan Rakyat.
>
>Susahnya jadi lembaga siluman, kalau sarannya bener gak dapet
>nama, kalau
>sarannya salah digebuki rame rame. Tetapi memang ada privelege
>untuk
>anggotanya, lebih ditakuti daripada pejabat resmi, karena
>celotehnya dapat
>menggulingkan periuk nasi seorang pejabat atau melambungkan
>seorang anak
>jalanan kekursi empuk jabatan formal atau menjadi pengusaha
>besar. Ini
>sangat merusak system dan perlu segera diakhiri.
>
>Kedepan, sebaiknya GM nggak usah main main dengan lembaga
>siluman, penasehat
>terselubung, asisten gelap dan sebaiknya, karena pada gilirannya
>sama dengan
>memelihara harimau. Kalau lupa atau kurang ngasih makan, bossnya
>sendiripun
>ditelan.
>Tegakkan saja transparansi, perkuat kelembagaan formal dengan
>langkah yang
>transparan juga.
>Para pakar ini dikandangin saja di DPA dan DPR, berfungsi sebagai
>akomodator
>dan penyelaras setiap ide yang timbul sehingga menjadi suatu
>langkah konkrit
>yang representatif. Merekalah yang menjadi muara buah pikiran
>LSM, Perguruan
>Tinggi, Organisasi kemasyarakatan dan kelompok masyarakat lainnya
>yang
>mempunyai kepedulian dan kepentingan, untuk memformulasikannya
>menjadi
>rumusan konkrit bagi perbaikan segala bidang. Merekalah yang
>harus pro aktif
>untuk memfasilitasi atau mengikuti debat publik sehingga nggak
>perlu menjadi
>demo atau gerakan lain yang mengerikan.
>
>Yap
>
>
>
>
>______________________________________________________________________
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
>dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke