Asal Guarantor-nya jangan 'ngeles' saja !
Ini juga kelihatannya akan ada yang
mengundurkan diri, baik tersangkut Kasus, ataupun
adanya tekanan dari pihak tertentu.
Oleh sebab itu seharusnya para Menteri seharusnya
terbebas dari masalah KKN, Hukum dan Keuangan.
Salam,
bRidWaN
At 03:51 PM 10/28/99 JAVT, Yap C. Young wrote:
>Itulah hebatnya Gus Dur, yang nggak silau jabatan. Sementara ini dengan
>tegas dinyatakan tidak ada reshuffle, untuk menunjukkan komitmen kuat pada
>kompromi yang dicapai, sekaligus menakar keseriusan para pemrotes. Kalau
>ternyata nggak terbendung ya tinggal njitak guarantornya saja. Enteng kan?
>
>Yap
>>From: bRidWaN <[EMAIL PROTECTED]>
>>Date: Thu, 28 Oct 1999 01:54:28 +0700
>>
>>Kalau menurut khabar, orang2 yang menjadi Menteri ada yang
>>menggaransi-nya. Seperti PDI-P, tentunya harus menggaransi
>>kinerja daripada Kwik Kian Gie dan Laksamana Sukardi.
>>
>>Nah, tentunya Menteri yang lain ada yang menggaransinya, dan
>>ada yang menjaganya. Tentunya terasa aman, kan ?
>>
>>
>>Salam,
>>bRidWaN
>>At 09:55 AM 10/27/99 JAVT, Yap C. Young wrote:
>> >Dewan, seperti yang sempat mencuat Dewan Ekonomi Nasional, atau nanti
>>Dewan
>> >apa lagi, mempunyai potensi konflik dengan Departemen Teknis, tetapi
>>dengan
>> >menempatkannya secara formal, maka dapat dilihat secara jelas tanggung
>>jawab
>> >moralnya. Dewan ini merupakan bagian dari Pemerintahan. Pola ini jelas
>>lebih
>> >baik daripada mereka seperti tumbuh diluar sistem tetapi sangat mewarnai
>> >sistem, sehingga dapat haknya nggak ada tanggung jawabnya.
>> >
>> >Dibidang Ekuin, tercecernya Sri Mulyani, Faisal Basri, Rizal Ramli, Wimar
>> >Witoelar, Sri Adiningsih, Emil Salim, Theo Tumion, HS Dillon dan
>>sebagainya
>> >cukup disayangkan.
>> >
>> >Begitu juga dibidang Polkam, kita kehilangan kesempatan melihat kiprah
>> >lanjutan dari Todung Mulya Lubis, Adnan Buyung Nasution, Hartono
>>Mardjono,
>> >Hatta Rajasa, Salim Said, AM Fatwa, Dimyati Hartono, Sabam Sirait, Bismar
>> >Siregar, dan tokoh pergerakan Aceh Merdeka atau Papua Merdeka dan
>> >sebagainya.
>> >
>> >Dibidang Kesra, kompromi politik tidak mampu memunculkan Nurcholish
>>Majid,
>> >Arief Rachman, WS Rendra, Harry Roesli, Habib Attamimi, Frans Magnis
>> >Soeseno, Wardah Hafidz, Ki Suratman, Imam B. Prakosa dan sebagainya.
>> >
>> >Tidak salah kalau mereka dikandangkan didalam Dewan bentukan Pemerintah,
>> >yang berfungsi sebagai counterpart para anggota Kabinet, sehingga
>> >menampilkan internal competition yang sehat untuk berlomba berbuat
>> >kebajikan.
>> >
>> >Peran masyarakat adalah menjaga agar transparansi sepak terjang mereka
>>terus
>> >diawasi secara egaliter, sehingga privelege yang dinikmati tokoh tokoh
>>gelap
>> >rezim yang lalu dapat diminimalisir.
>> >Karena itu ada bagusnya kalau Teten Masduki, Bambang Wijoyanto, Arief
>> >Budiman, Sri Bintang Pamungkas dan tokoh pergerakan mahasiswa
>>ditinggalkan
>> >diluar sistem, untuk memelihara transparansi dan obyektivitas.
>> >
>> >Dewan-dewan itu tidak mempunyai kewenangan eksekutif dan lebih bersifat
>> >think thank, hasilnya konsep konsep, baik yang bersifat memberi
>>inspirasi,
>> >menyampaikan penentangan maupun dukungan atas kinerja dan pemilihan
>> >prioritas oleh eksekutif.
>> >
>> >Dalam Kabinet Kompromi Politik, atau malah yang secara sarkastis disebut
>> >Kabinet Tekanan Politik yang terbentuk sekarang ini, perlu ada kandang
>>bagi
>> >para pakar, baik akademisi maupun praktisi, yang berfungsi sebagai
>> >penyeimbang, oposisi, dan diberi kesempatan dan kedudukan setara untuk
>> >menyampaikan kontribusi pemikiran dan tindakan yang dianggapnya terbaik
>>bagi
>> >Indonesia, tetapi pelaksanaannya (eksekusinya) harus dibawah kendali dan
>> >koordinasi Pemerintah, sehingga tidak membingungkan rakyat, dan yang
>>lebih
>> >penting lagi tidak menjadikan beban ganda bagi keuangan Negara.
>> >
>> >Melihat langkah pertama GM dalam membentuk kabinet, terlihat jelas pola
>> >pikir Gus Dur yang dominan : menyederhanakan masalah dengan mengiyakan
>>semua
>> >permintaan. Tipikal pemikir demokrat, yang mestinya juga harus diikuti
>> >langkah tegas dan segera apabila yang diiyakan itu tidak sesuai
>>kenyataannya
>> >dilapangan. Karena itu saya menggaris bawahi pernyataan Gus Dur tentang
>> >sistim garansi sebagai kompensasi dari penerimaan komprominya pada kelima
>> >Presidium Nasional, Gus Dur, Amien Rais, Megawati, Akbar Tanjung dan
>> >Wiranto. Saya berharap Presidium ini berkembang kearah team work yang
>> >sinergik, bukan kearah kolusi, justifikasi dan permisif.
>> >
>> >Yap
>> >
>> >>From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
>> >>Date: Sun, 24 Oct 1999 20:19:14 +0700
>> >>
>> >>Bagaimana dengan pembentukan dewan-dewan itu?
>> >>
>> >>��
>> >>
>> >>
>> >>----- Original Message -----
>> >>From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
>> >>To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
>> >>Sent: 24 October 1999 23:15
>> >>Subject: [Kuli Tinta] Jangan ada CSIS dan CIDES lagi
>> >>
>> >>
>> >>CSIS ditengarai sebagai lembaga think thank Soeharto, dan CIDES
>> >>menjadi
>> >>think thank Habibie.
>> >>Ketika suara CSIS tergusur oleh suara konglomerat, runtuhlah
>> >>istana pasir
>> >>Soeharto. Ketika saran CIDES tentang opsi Timtim kurang
>> >>antisipatif,
>> >>hancurlah pamor Habibie.
>> >>Lembaga yang pura pura swadaya masyarakat ini berisi orang orang
>> >>pintar dan
>> >>menjadi lembaga siluman yang lebih effektip dibanding DPR yang
>> >>secara resmi
>> >>disebut Perwakilan Rakyat.
>> >>
>> >>Susahnya jadi lembaga siluman, kalau sarannya bener gak dapet
>> >>nama, kalau
>> >>sarannya salah digebuki rame rame. Tetapi memang ada privelege
>> >>untuk
>> >>anggotanya, lebih ditakuti daripada pejabat resmi, karena
>> >>celotehnya dapat
>> >>menggulingkan periuk nasi seorang pejabat atau melambungkan
>> >>seorang anak
>> >>jalanan kekursi empuk jabatan formal atau menjadi pengusaha
>> >>besar. Ini
>> >>sangat merusak system dan perlu segera diakhiri.
>> >>
>> >>Kedepan, sebaiknya GM nggak usah main main dengan lembaga
>> >>siluman, penasehat
>> >>terselubung, asisten gelap dan sebaiknya, karena pada gilirannya
>> >>sama dengan
>> >>memelihara harimau. Kalau lupa atau kurang ngasih makan, bossnya
>> >>sendiripun
>> >>ditelan.
>> >>Tegakkan saja transparansi, perkuat kelembagaan formal dengan
>> >>langkah yang
>> >>transparan juga.
>> >>Para pakar ini dikandangin saja di DPA dan DPR, berfungsi sebagai
>> >>akomodator
>> >>dan penyelaras setiap ide yang timbul sehingga menjadi suatu
>> >>langkah konkrit
>> >>yang representatif. Merekalah yang menjadi muara buah pikiran
>> >>LSM, Perguruan
>> >>Tinggi, Organisasi kemasyarakatan dan kelompok masyarakat lainnya
>> >>yang
>> >>mempunyai kepedulian dan kepentingan, untuk memformulasikannya
>> >>menjadi
>> >>rumusan konkrit bagi perbaikan segala bidang. Merekalah yang
>> >>harus pro aktif
>> >>untuk memfasilitasi atau mengikuti debat publik sehingga nggak
>> >>perlu menjadi
>> >>demo atau gerakan lain yang mengerikan.
>> >>
>> >>Yap
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!