Kalau menurut khabar, orang2 yang menjadi Menteri ada yang
menggaransi-nya. Seperti PDI-P, tentunya harus menggaransi
kinerja daripada Kwik Kian Gie dan Laksamana Sukardi.

Nah, tentunya Menteri yang lain ada yang menggaransinya, dan
ada yang menjaganya. Tentunya terasa aman, kan ?


Salam,
bRidWaN


At 09:55 AM 10/27/99 JAVT, Yap C. Young wrote:
>Dewan, seperti yang sempat mencuat Dewan Ekonomi Nasional, atau nanti Dewan 
>apa lagi, mempunyai potensi konflik dengan Departemen Teknis, tetapi dengan 
>menempatkannya secara formal, maka dapat dilihat secara jelas tanggung jawab 
>moralnya. Dewan ini merupakan bagian dari Pemerintahan. Pola ini jelas lebih 
>baik daripada mereka seperti tumbuh diluar sistem tetapi sangat mewarnai 
>sistem, sehingga dapat haknya nggak ada tanggung jawabnya.
>
>Dibidang Ekuin, tercecernya Sri Mulyani, Faisal Basri, Rizal Ramli, Wimar 
>Witoelar, Sri Adiningsih, Emil Salim, Theo Tumion, HS Dillon dan sebagainya 
>cukup disayangkan.
>
>Begitu juga dibidang Polkam, kita kehilangan kesempatan melihat kiprah 
>lanjutan dari Todung Mulya Lubis, Adnan Buyung Nasution, Hartono Mardjono, 
>Hatta Rajasa, Salim Said, AM Fatwa, Dimyati Hartono, Sabam Sirait, Bismar 
>Siregar, dan tokoh pergerakan Aceh Merdeka atau Papua Merdeka dan 
>sebagainya.
>
>Dibidang Kesra, kompromi politik tidak mampu memunculkan Nurcholish Majid, 
>Arief Rachman, WS Rendra, Harry Roesli, Habib Attamimi, Frans Magnis 
>Soeseno, Wardah Hafidz, Ki Suratman, Imam B. Prakosa dan sebagainya.
>
>Tidak salah kalau mereka dikandangkan didalam Dewan bentukan Pemerintah, 
>yang berfungsi sebagai counterpart para anggota Kabinet, sehingga 
>menampilkan internal competition yang sehat untuk berlomba berbuat 
>kebajikan.
>
>Peran masyarakat adalah menjaga agar transparansi sepak terjang mereka terus 
>diawasi secara egaliter, sehingga privelege yang dinikmati tokoh tokoh gelap 
>rezim yang lalu dapat diminimalisir.
>Karena itu ada bagusnya kalau Teten Masduki, Bambang Wijoyanto, Arief 
>Budiman, Sri Bintang Pamungkas dan tokoh pergerakan mahasiswa ditinggalkan 
>diluar sistem, untuk memelihara transparansi dan obyektivitas.
>
>Dewan-dewan itu tidak mempunyai kewenangan eksekutif dan lebih bersifat 
>think thank, hasilnya konsep konsep, baik yang bersifat memberi inspirasi, 
>menyampaikan penentangan maupun dukungan atas kinerja dan pemilihan 
>prioritas oleh eksekutif.
>
>Dalam Kabinet Kompromi Politik, atau malah yang secara sarkastis disebut 
>Kabinet Tekanan Politik yang terbentuk sekarang ini, perlu ada kandang bagi 
>para pakar, baik akademisi maupun praktisi, yang berfungsi sebagai 
>penyeimbang, oposisi, dan diberi kesempatan dan kedudukan setara untuk 
>menyampaikan kontribusi pemikiran dan tindakan yang dianggapnya terbaik bagi 
>Indonesia, tetapi pelaksanaannya (eksekusinya) harus dibawah kendali dan 
>koordinasi Pemerintah, sehingga tidak membingungkan rakyat, dan yang lebih 
>penting lagi tidak menjadikan beban ganda bagi keuangan Negara.
>
>Melihat langkah pertama GM dalam membentuk kabinet, terlihat jelas pola 
>pikir Gus Dur yang dominan : menyederhanakan masalah dengan mengiyakan semua 
>permintaan. Tipikal pemikir demokrat, yang mestinya juga harus diikuti 
>langkah tegas dan segera apabila yang diiyakan itu tidak sesuai kenyataannya 
>dilapangan. Karena itu saya menggaris bawahi pernyataan Gus Dur tentang 
>sistim garansi sebagai kompensasi dari penerimaan komprominya pada kelima 
>Presidium Nasional, Gus Dur, Amien Rais, Megawati, Akbar Tanjung dan 
>Wiranto. Saya berharap Presidium ini berkembang kearah team work yang 
>sinergik, bukan kearah kolusi, justifikasi dan permisif.
>
>Yap
>
>>From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
>>Date: Sun, 24 Oct 1999 20:19:14 +0700
>>
>>Bagaimana dengan pembentukan dewan-dewan itu?
>>
>>��
>>
>>
>>----- Original Message -----
>>From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
>>To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
>>Sent: 24 October 1999 23:15
>>Subject: [Kuli Tinta] Jangan ada CSIS dan CIDES lagi
>>
>>
>>CSIS ditengarai sebagai lembaga think thank Soeharto, dan CIDES
>>menjadi
>>think thank Habibie.
>>Ketika suara CSIS tergusur oleh suara konglomerat, runtuhlah
>>istana pasir
>>Soeharto. Ketika saran CIDES tentang opsi Timtim kurang
>>antisipatif,
>>hancurlah pamor Habibie.
>>Lembaga yang pura pura swadaya masyarakat ini berisi orang orang
>>pintar dan
>>menjadi lembaga siluman yang lebih effektip dibanding DPR yang
>>secara resmi
>>disebut Perwakilan Rakyat.
>>
>>Susahnya jadi lembaga siluman, kalau sarannya bener gak dapet
>>nama, kalau
>>sarannya salah digebuki rame rame. Tetapi memang ada privelege
>>untuk
>>anggotanya, lebih ditakuti daripada pejabat resmi, karena
>>celotehnya dapat
>>menggulingkan periuk nasi seorang pejabat atau melambungkan
>>seorang anak
>>jalanan kekursi empuk jabatan formal atau menjadi pengusaha
>>besar. Ini
>>sangat merusak system dan perlu segera diakhiri.
>>
>>Kedepan, sebaiknya GM nggak usah main main dengan lembaga
>>siluman, penasehat
>>terselubung, asisten gelap dan sebaiknya, karena pada gilirannya
>>sama dengan
>>memelihara harimau. Kalau lupa atau kurang ngasih makan, bossnya
>>sendiripun
>>ditelan.
>>Tegakkan saja transparansi, perkuat kelembagaan formal dengan
>>langkah yang
>>transparan juga.
>>Para pakar ini dikandangin saja di DPA dan DPR, berfungsi sebagai
>>akomodator
>>dan penyelaras setiap ide yang timbul sehingga menjadi suatu
>>langkah konkrit
>>yang representatif. Merekalah yang menjadi muara buah pikiran
>>LSM, Perguruan
>>Tinggi, Organisasi kemasyarakatan dan kelompok masyarakat lainnya
>>yang
>>mempunyai kepedulian dan kepentingan, untuk memformulasikannya
>>menjadi
>>rumusan konkrit bagi perbaikan segala bidang. Merekalah yang
>>harus pro aktif
>>untuk memfasilitasi atau mengikuti debat publik sehingga nggak
>>perlu menjadi
>>demo atau gerakan lain yang mengerikan.
>>
>>Yap
>>
>>
>>
>>
>>______________________________________________________________________
>>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
>>dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
>>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>>
>>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>
>______________________________________________________
>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>
>______________________________________________________________________
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
>dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>

______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke