--

On Thu, 10 Feb 2000 11:00:08   hestu ciptohandoyo wrote:
>betul dan betul itu. Banyak sekali tradisi militer yang sudah melekat dan berirat 
>berakar di dalam seluruh sistem kehidupan kemasyarakatan. Bahkan di dunia Pendidikan 
>pun demikian. Kita bisa melihat bagaimana dosen-dosen dan guru-guru di seantero 
>Indonesia disuruh berseragam, berupacara, berapel, dan ber-ber lainnya.

Pabusacilat :
Apa salahnya sih brifing yang dilakukan oleh Ketua MPR kepada Presiden yang notabene 
adalah mandatarisnya. Presiden khan harus tetap bertanggung jawab kepada majelis. Nah 
karena Majelis itu sifatnya abstrak, maka personofikasi dari majelis itu ya terletak 
pada sang ketua dan wkil ketua secara kolektif beserta anggota-anggota majelis yang 
ada. Jadi menurut saya budakn masalah tradisi militer atau bukan.
Kalau ternyata tradisi militer lebih baik ketimbang tradisi sipil yang amburadul 
mengapa kita tidak mempergunakan tradisi tersebut. tolong saya dikasih argumentasi 
yang nalar, teoritis dan konseptual.
Sekarang memang sipil yang sedang berkuasa. tetapi lihat apa jadinya disiplin saja 
tidak mampu kok mengecam kedisiplinan pihak lain.

hestu ciptohandoyo wrote : 
>Di lingkungan peserta didikpun demikian adanya. Kalau ada peserta didik yang tidak 
>sesuai dengan kehendak pengajar maka matilah karir prestasi mereka itu. Ini berarti 
>di bidang pendidikan harus segera direformasi. Banyak kurikulum yang pada hakikatnya 
>merupakan titipan dari pemerintah atau rezim lama. Ambil contoh saja mata kuliah yang 
>masuk dalam rumpun MKU. Proses pendidikan dan pengajaran di jagat pendidikan 
>Indonesia mengarah pada bentuk robotisasi, pawangisasi, dan instan. Peserta didik 
>tidak memperoleh kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan nalar dan budi. Mereka 
>harus sama persis dengan pengajar. Ini harus segera berubah, kalau tidak jangan 
>disalahkan jikalau generasi penerus akan menjadi kuli-kuli intelektual yang hanya 
>mengekor para pendahulunya saja.  

Pabusacilat :
Anda itu mempunyai gagasan semacam ini nalarnya bagaimana. Janganlah apriori terlebih 
dahulu.
Kalau seragam, baris-berbaris, upacara dan apel yang notabene adalah tradisi militer 
ternyata justru menumbuhkan kedisiplinan (sebagai prasayarat utama untuk melaksanakan 
demokrasi) apa salahnya. Kita ini kok selalu apriori terhadap berbagai hal yang berbau 
militer. Tidak semua militer (TNI) brengsek. Yang brengsek itu khan oknumnya (bahasa 
orba). Tetapi karena oknum militer yang brengsek itu buanyak sekali, maka yaaa memang 
militer tidak mampu membangun profesionalitas anggota-anggotanya. Contohnya si Faisal 
Tanjung itu. Jadi sebenarnya kalau tradisi militer itu baik untuk membangun 
kedisiplinan sipil apa salahnya. 
Kita khan tahu bahwa persoalan kedisiplinan masyarakat kita sangat rendah, dan oleh 
sebab itu dikumandangkanlah budaya disiplin. Lihat itu dijalan-jalan Pedagang kaki 
lima mau ditertibkan, kok malah LBH menolak dan mengecam tindakan tersebut (Kasus 
jalan Malioboro). Sri Sultan sendiri kecewa kok dengan persoalan tersebut. LBH mau 
membela masyarakat kecil. Nah kalau masyarakat kecil itu mempergunakan kekecilannya 
tersebut untuk memaksakan kehendak, apakah ini tidak anarki. Jadi sekali lagi disiplin 
harus tetap ditegakkan, katanya mau menegakkan supremasi hukum.
>
>On Wed, 9 Feb 2000 19:35:15    eg wrote:
>>Briefing mah istilah militer Kang Marto, bukan istilah akademik.
>>Apa ada penjlentrehan yang indoktrinatif dalam lingkungan akademik
>>kecuali di jaman
>>Orba.
>>
>>Eh... nyimpang dikit ya Kang (masih ada hubungannya dengan
>>pendidikan
>>Orba,  briefing dan Paulo Freire), aku lihat di buku matematik
>>harmonic saya yang kelas satu SMU. Masya Allah........, aljabar,
>>analit, goniometri, stereometri, dan mekanika digabung menjadi
>>satu tanpa tahu ujung pangkal dan batas-batas yang jelas. Apa otak
>>super ya?
>>
>>Nah yang di SD lebih hebat lagi. Kalau menjawabnya tidak sesuai
>>dengan buku atau gurunya maka jawaban itu disalahkan. Pantesan
>>nalarnya pada nggak jalan..! Logika berpikir tidak dikembangkan,
>>pokoknya harus benar!
>>
>>Ini sungguh-sungguh melangar hak azasi manusia lho.

Pabusacilat :
Kalau dilingkungan akademik, para siswa atau mahasiswa menjawab persoalan menurut 
pendapatnya sendiri, maka ukuran untuk menilai kemampuan mereka apa ?
Ilmu pengetahuan itu khan selalu dilandasi oleh teori-teorti dan perkembangan teori 
tersebut. Kalau dari aspek teori saja tidak mampu menjawab, kemudian mereka itu 
berdasarkan pendapat atau argumentasinya sendir, maka jelas ini salah. Pendapat itu 
khan bukan teori. Dan mahasiswa termasuk siswa harus tahu itu.
Jadi hal ini bukan persoalan robotisasi atau pawangisasi, atau instan. Tetapi 
semata-mata untuk memberikan bekal kepada mereka agar memahami teori-teori yang ada. 
Dan kalau mereka sudah paham (indikasinya lulus), maka barulah mereka itu berpendapat. 
Baru jadi siswa (mahasiswa) saja sudah ingin jadi pakar atau ahli. Yang terpenting 
bagi mreka ya itu tadi asah nalar, asah budi, dan asah ketrampilan.
Kalau ternyata hasilnya sama dengan guru dan dosennya, ya yang salah itu si siswa atau 
si mahasiswa itu sendiri, mengapa kok mereka mau sama.

Kalau ingin merubah pola dan sistem pendidikan di Indonesia, jangan serta merta 
melimpahkan tanggung jawab ini kepada guru atau dosen.

Guru atau dosen sudah terpola dengan sistem pendidikan di Indonesia. Sistem kelaslah 
yang mengakibatkan semua itu. Mbok yang semua kita itu belajar dan menyimak sistem 
pendidikan di Canada atau negara-negara masju lainnya. Murid diberi kebebasan untuk 
memilih bidangnya masing-masing sesuai dengan bakatnya sendiri-sendiri.

Orang tua kita juga sama saja. Anak-anak dijadikan prototype orang tua. Kalau orang 
tuanya tentara ya kalau bisa salah satu anaknya tentara. Seperti Si Subagyo HS itu. 
Walaupun anaknya sejak SMU brengsek, bershabu-shabu, mabuk-mabukan, main perempuan, ya 
tetap diharuskan masuk tentara. Jadinya yang seperti sekarang ini tentara kok main 
shabu-shabu.

Kesimpulannya :
1.Pendidikan di Indonesia memang harus diubah oreintasinya dari hanya sekedar 
melakukan pengajaran, juga melakukan pendidikan.
2. mahasiswa dan siswa harus diberi pemahaman bahwa mereka masih belajar. Boleh 
mengembangkan bakat dan kemampuan intelektualnya, tetapi tetap harus berada dalam 
koridor ilmu pengetahuan dan teori teori yang ada.
3. sekarang ini ada kecenderungan mahasiswa menjadi arogan. Mentang-mentang telah 
berhasil menjadi pelopor gerakan reformasi. Padahal dalam kenyataannya para aktivis 
gerakan reformasi itu pada umumnya prestasi akademiknya buruk. Bedfa dengan jamannya 
Dr. Syahrir, Dr. Arif Budiman, Soe hok Gie, Cosmas Batubara. Mari'e Mohammad. Meraka 
semua menjadi tokok 66 memang briliyan. sementara itu tokoh angkatan 98 (arbi sanit) 
sebagian besar ya mahasiswa yang prestasinya nol besar. 
4. Kita harus tetap menjadi orang yang rendah hati. sekian.  
>>
>>----- Original Message -----
>>From: Marto Blantik <[EMAIL PROTECTED]>
>>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>>Sent: 09 February 2000 14:35
>>Subject: [Kuli Tinta] Amien akan briefing Gus Dur ?
>>
>>
>>Memang menarik mengamati kata-kata yang dipakai AR ini. Kebiasaan
>>AR sebagai Dosen belum pupus juga.
>>AR memberi briefing, mahasiswa eh Gus Dur diberi briefing.
>>AR memberi nilai, kabinet dinilai.
>>
>>Lagi-lagi aku jadi teringat dengan tulisan Paulo Freire tentang
>>konsep pendidikan gaya bank, yang sangat ditentang oleh Freire
>>karena anti dialogis, serta memandang manusia sebagai sebuah gong
>>eh benda dan gampang diatur. Ini deskripsi Paulo Freire tentang
>>konsep gaya bank.
>>AR eh guru mengatur, murid diatur.
>>Guru memilih bahan dan isi pelajaran, murid (tanpa diminta
>>pendapatnya) menyesuaikan diri dengan pelajaran itu.
>>Guru adalah subyek dalam proses belajar, murid adalah obyek
>>belaka.
>>Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa.
>>dst-dst...
>>
>>Bung Abdulah Hasan, ini ada hubungannya enggak dengan teori
>>dialektikanya Hegel ?
>>
>>http://www.satunet.com/artikel/isi/00/02/09/6468.html
>>
>>Rabu, 09/2/2000, 03:04 WIB
>>Amien akan briefing Gus Dur
>>Laporan Asep Salahudin Samboja
>>
>>
>>satunet.com - Ketua MPR Amien Rais mengatakan, kalau Gus Dur sudah
>>pulang ke tanah air, dia akan memberi briefing pada Gus Dur, agar
>>presiden kiai ini lebih berhati-hati dalam mengeluarkan
>>pernyataan.
>>
>>Amien mengakui, bahwa semakin tinggi posisi seseorang, maka dia
>>akan mendapat banyak sekali masukan. $B!H(BOleh karena itu, Gus
>>Dur
>>harus menyaring betul-betul informasi atau masukan yang
>>diterimanya,$B!I(B kata Amien Rais, saat peluncuran buku
>>$B!F(BAmien Rais Melawan
>>Arus$B!G(B karya Muhammad Najib di Hotel Aryaduta, Jakarta,
>>Selasa malam.
>>
>>Dalam perjalanannya ke Tokyo dan Arab Saudi, Amien mendapat kesan
>>bahwa tokoh-tokoh di luar negeri juga mengikuti perkembangan di
>>Indonesia terkini. Dari tokoh-tokoh di Jepang, Amien menyimpulkan
>>bahwa tokoh-tokoh di sana, seperti Keizo Obuchi, Miyazawa, Kano,
>>dan Miti, prihatin melihat perkembangan di Indonesia akhir-akhir
>>ini. Mereka mengatakan, Indonesia sedang memulai tahapan baru,
>>sedang membangun demokrasi agar bisa pulih dan bisa mengatasi
>>krisis secara ideal dan cepat.
>>
>>Mereka berharap, kalau tokoh-tokoh nasional itu bisa berembuk
>>secara enak dan berhati dingin, untuk membicarakan masa depan
>>mereka,
>>maka perbedaan yang ada bisa diselesaikan. Amien mencontohkan,
>>kalau orang Jepang gontok-gontokan (berbeda pendapat), mereka
>>tetap
>>bersatu, dan ada limit untuk menyelesaikan persoalan. Mereka juga
>>tidak saling jegal-menjegal.
>>
>>Ketika berada di Arab Saudi, Amien sempat berbicara panjang lebar
>>dengan putra mahkota Abdullah, calon kuat pengganti ayahnya King
>>Abdul Aziz. Prince Abdullah mengatakan, Indonesia yang dikenal
>>sebagai tanah yang indah dan permai, kenapa bisa menjadi seperti
>>sekarang ini?
>>
>>Menurut Amien, Abdullah berpesan agar orang Indonesia berhati-hati
>>dan tidak sampai menyimpulkan militer itu jelek dan sebagai
>>trouble maker. $B!H(BKarena Anda tahu, negeri Anda bersatu
>>karena militer,$B!I(B kata Amien Rais menirukan putra mahkota
>>Abdullah.
>>
>>
>>Oleh karena itu, kata Amien Rais, setibanya Gus Dur di Indonesia,
>>dia akan memberi briefing pada Gus Dur. $B!H(BSaya tidak ingin
>>di luar
>>negeri Gus Dur mengeluarkan statement dar der dor, tapi begitu
>>pulang, dia cuma mengatakan, begitu saja kok repot-repot.$B!I(B
>>Amien
>>berharap, "Rajutan reformasi yang sudah kita buat bersama ini
>>janganlah kita robek sendiri pula." (tna)
>>
>>
>>
>>
>>- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
>>-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
>>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
>>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>>
>>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>
>
>Join 18 million Eudora users by signing up for a free Eudora Web-Mail account at 
>http://www.eudoramail.com
>
>- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
>-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


Join 18 million Eudora users by signing up for a free Eudora Web-Mail account at 
http://www.eudoramail.com

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke