hahaaa...
untuk teknologi per-gambut-an ini kelihatannya sudah diborong sama
malaysia kelihatannya. dengan metoda "soil amelorasion" atau apa
gitu. padahal dulunya orang situ banyak blajarnya ke indonesia
(bogor).
atau tanya orang ilmu tanah di UGM, yang pernah kedatangan
professor soil-science ahli mikrobiologi tanah dari Belgia buat
ngoprak tanah gambut di Kalteng, kalau tak orang situ yang
ngetop dengan aliran miring (kaya aku ini) namanya Dr. Bambang
Purwosunu.
hanya saja koh, aku kok "kurang sreg" dengan bacteriofertilizer ini.
soalnya bisa dilihat langsung kan? kalau memang sang bakteri
itu ampuh buat nyuburken tanah, kenapa tidak subur-subur juga
tanah-tanah itu secara alami? atau kalau bakteri itu handal untuk
bikin subur tanah, lho kenapa kok sampai terjadi GAMBUT, wong
lingkungannya sangat cocok buat kehidupan dunia-nya, lembab
dan hangat....?
atau mengapa orang jaman dulu hanya nemu fermentasi alkhohol
dan bikin keju atau tauco saja, kok tidak menghasilkan penyuburan
tanah tradisional, selain pupuk kandang dan pupuk hijau?
(wuik.... nggladrahe reeek...)
(hahahaa... aku pernah dipatah boss (makili gitu lho) buat jadi
komentator symposium lembaga penelitian Ngipebe, tentang
auto-fertilizing lahan-lahan gambut dan organik di sumatra
dan borneo. ada presentor yang mencoba menjawab dengan
bakteri pengikat nitrogen yang dikembangkannya dengan
memakai tanaman inang kedelai. penyajian bagus, pakai
diagram "roti" segala dan jaringan "perth" atau apa dulu itu.
termasuk dosis, seperti yang sampeyan kemukakan, sehektar
cukup seliter (padahal satu hektar tanaman pangan itu volume
tanahnya kan minimal 2 juta liter) jadi cukup 0.5 ppm bakteri saja.
terus di tabel presentasinya ada rumusan, untuk menghasilkan
satu gram inokulan bakteri perlu sekian meter persegi lahan kedelai
atau kacang-kacangan dengan pengelolaan khusus lagi.
iseng-iseng aku ngothak-athik angka-angka itu, ketemunya setiap
hektar lahan perlu lahan kedele sekitar 1 - 2 are. padahal dia mau
memproyeksikan untuk 6000 hektar (wong satu UPP transmigrasi).
lha menjelang dia dapat tepuk tangan kekaguman, aku angkat
tangan ngajukan pertanyaan, berdasar hitungan itu.... masalahnya
perlu sedikitnya 60 hektar kedele dengan syarat lahan subur...
lho kan lahannya betul-betul tak cocok buat kedele-kedele itu?
al hasil... presentor "abang-ireng" mukanya, aku malah ditepuki...
hahahaa)
lha apa teknologi pembiakan inokulannya sudah diketemukan yang
paling ekonomis? misalnya substratnya tidak terbatas dan dapat
direcycle? kedua apakah si bakteri itu sudah cukup tahan uji dengan
saingan dari the native bacteria semarga? kalau belum diuji... waaaah
aku khawatir iklannya hanya jadi impian seperti iklan semen
cibinong....
pokoknya betapapun majunya teknologi dan bioteknologi, masih
akan "kesingsal" dan "cemplang" bila ninggalkan "THEOTECHNOLOGY"
atau "KANGIJITSU" teknologinya TUHAN... hahaha... ini nggak nyindir
bppt lho, badan pengkaji dan penerapan hikam... eh... teknologi....
soal [EMAIL PROTECTED] (sebetulnya dengan [EMAIL PROTECTED] yang
dulunya berasal dari [EMAIL PROTECTED]) itu kan asalnya dari
othak-athik bodhon-ku to koh. pertama, walaupun negara ini kaya akan
laut, kan sudah dicap jadi negara agraris. buktinya kekayaan laut di
maluku, malah yang makan orang jepang (tuna dan udang) dan yang
ngambil malah taiwan dan thailand (dua-duanya pakai tai....
heheheeee). ini buktinya, memang bangsa ini bangsa "malas". dah cukup
puas dengan makan sagu, beras dan jagung..pakai kelapa, garam dan
sekedar sayur. gizi kelautan kurang diburu....buktinya, wong negara
kaya laut kok teri medan sekilo mencapai Rp 30,000? (ini dulu tahun 96
lho, sekarang?). negara kaya laut kok bikin kapal masih belum enthos
temenan....
kedua, hampir semua universitas di negeri ini punya fakultas
pertanian. dari
situ setiap tahun berapa puluh atau ratus sarjana pertanian? belum
master-2
nya atau doktor-doktornya? tapi kenyataannya, kok cari sumber
referensi
buat nulis buku sepele, misalnya "cara bertanam krangkongan" saja
susahnya gak ilok... hahahaa... jadi perlu peningkatan peran
orang-orang yang sempat mendidik diri sendiri atau dididik dng. ilmu
pertanian (bertanam dan beternak) demi dunia agraris negeri sendiri.
(ketoke kok nggak ada negeri maju yang bukan bermodalkan pertanian
pada awalnya. ya akui saja negeri dan bangsa ini masih mau menapaki
langkah pertama menyongsong kemajuan)
makanya aku iseng-iseng bikin milist alumni seangkatan dengan
[EMAIL PROTECTED]
itu. sayang kegiatan komunikasinya kalah jauuuh dengan
[EMAIL PROTECTED]
terus tak coba melebarkan sayap dengan menarik para peminat pertanian
dari kalangan yang terdidik (atau mendidik diri sendiri) dengan ilmu
pertanian
dengan membangun [EMAIL PROTECTED] sayang kurang rame juga, karena
motornya yang di [EMAIL PROTECTED] masih bertapa semuaaa.. terakhir
milist lamaku [EMAIL PROTECTED] tak aktifkan lagi, sementara hanya
tak jadiin mainan sendiri dengan petak umpet alamat-alamat gratisan
punyaku thok anggotanya
hahaa.. sebentarlagi (insyaallaah minggu depan) mau tak publish untuk
umum
barengan dengan publishing WOJOSETO HOME PAGE.... gitu dulu....
nuwun,
(pokoknya aku masih perlu list dari ngamrik itu. kalau aku nggak
brasil,
kan ada penerusku... barangkali bisa menolong mereka, gitu lho
koh....)
mBah Soeloyo
Moderator ML JOWO WOJOSETO
SURADIRA JAYANINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI
langganan: [EMAIL PROTECTED];
From: Yap <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, February 11, 2000 3:43 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] joke boleh kan?
Lho katanya sekarang jamannya Hikam, eh iptek. Lha kesempatannya
adanya
dilahan yang katanya gambut, ya musti dicari akal supaya jadi
produktif.
Lapisan gambutnya, kata researcher, sampai 2 m dari permukaan. Bentuk
fisiknya kayak apa ya ndak tahu, wong nggak ikut melihat kebalik
gunung.
Cuma baca laporannya thok. Kan perlu cari second opinion, eh
narasumber ding
(ntar kesinggung) supaya ngomongnya rada mutu.
Kalau mau masuk milis [EMAIL PROTECTED] rada pakewuh, soalnya modale
cupet. Ntar diinterogasi nggak bisa njawab, lha rak memalukan
referrer-nya.
Maksudnya kalau mungkin memang akan dihutankan lagi dengan tanaman
keras
yang bisa dipanen secara reguler. Tentative: kemiri. Jadi tanahnya
aman,
airnya tertahan, produktivitasnya OK, ujung ujungnya, masyarakat
setempat
yang kelak memanen ikut menikmati sak cindil abangnya.
Kalau pakai bahasa terserah, sekarang isinya ya kayu yang diangkut ke
Jawa
itu (yang diameternya besar), yang kecil dicuekin, lima tahun lagi
jadi
padang ilalang.
mBah, bioteknologi untuk pertanian kan sudah menggebu gebu sekarang.
Makanya
saya tanya bakteri penyubur tanah. Saya dengan ITB sudah bikin kecil
kecilan. Pintu mana yang harus digedor supaya ngelmunya dapat
diimplementasikan dibumi Allah ini. Bukan sekedar diseminarkan untuk
cari
gelar lalu bertumpuk diperpustakaan untuk dicontek promovendus
berikutnya.
Lagian apa iptek kita juga sudah bisa bikin RSS dan pabrik tempe
dibawah
laut ya mBah? Kan laut kita 2/3 wilayah Indonesia. Apa nanti laut juga
dikapling kapling dan tanah didasar lautnya bisa disertifikatkan untuk
agunan kredit?
Wis ah nggladrah...
Yap
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!