Masalahnya nggak spesifik gambut, tetapi effektivitas bakteri untuk
memperbaiki struktur tanah. Sekali ini yang dihadapi gambut, mungkin lain
kali yang lebih basa. Untuk orang awam, demonya sangat meyakinkan mas. Ada 3
tanaman yang didemokan, sorghum, ganyol (garut) dan haramain (bahan untuk
tekstil). Menanamnya dilahan berbatu, dipinggir jalan aspal yang diguyur
dulu dengan cairan bakteri itu. Merk dagangnya ada yang disebut EM4, ada
yang disebut Agrisimba. Produktivitasnya bagus. Dua tanaman yang disebut
pertama tidak berbatang, tetapi yang terakhir itu berbatang beneran. Lalu
muncul pemikiran untuk mengkonversinya kearah tanaman keras, karena
ketersediaan lahan yang melimpah dan tenaga penggarap yang sedikit dan....
sangat malas.
Tentang sedusta hektar, rasanya lebih bernuansa masalah non teknis, yaitu
bagaimana mengintroduksi proyek untuk mengeruk kredit gratisan. Buktinya
dilahan yang berdekatan yang dikelola swasta bisa berhasil juga dikepala
sawitkan. Kenapa yang didukung dana Pemerintah malah gagal total. Ya itu
termasuk mimpi buruk masa lalu.
Memang tidak mungkin memperkosa alam, tetapi kan bisa memanfaatkan dengan
manipulasi teknologi, sehingga tetap envi friendly tetapi dengan kemanfaatan
lebih tinggi. Masalah yang mencuat sekarang, dan menjadikan scare pada
pemanfaatan teknologi itu kan ulah orang seorang membuat short cut yang
simplistis. Mereka memakai logika time bomb. Ketika bomb-nya meledak, mereka
sudah diluar jangkauan, entah dimana. Tapi juga nggak jamin akan terulang
lagi dimasa datang. Lihat saja jalan pantura. Belum dua bulan diperbaiki,
sudah bopeng lagi. Untung ada hujan yang bisa disalahkan, untuk menutupi
kolusi antara pengawas dan pemborong. Tetapi satu yang tidak bisa
disembunyikan adalah ketepatan design, kan perilaku hujan disitu sudah
diketahui sejak dulu, mengapa tidak diantisipasi? Ya kita tunggu saja
kebohongan berikutnya. Sudah dananya cuma sedikit, dapat ngutang, dikorupsi
lagi.
Wis ah, tambah nggladrah...
Pareng rumiyin,
Yap
----- Original Message -----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
To: Kuli Tinta <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, 11 February 2000 8:44 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] joke boleh kan?
> Seingatku itu pernah dibahas di milis lingkungan.
> Koh Yap bisa search untuk lahan gambut di egroups.
> Kayaknya sih mhs IPB ada yang sudah melakukan uji lab dalam
> diskusi tersebut.
>
> Aku setuju mBah Soel, jangan memperkosa alam, nanti menentang
> hukum alam.
> di sekitar 94 an saya ketemu dengan beberap teman dari Bogor yang
> tampaknya sangat ahli dalam bidang itu. Point nya justru mereka
> tidak mempermasalahkan apa proyek lahan gambut sedusta hektar itu
> bakal berhasil namun malah mempermasalahkan kenapa PT sambu bisa
> mendekati Pak Harto untuk meyakinkan proyek itu.
> Horotoyonoh............
>
> salam
> (kalau 5 harus diselesaikan pada prioritas pertama maka
> teman-teman
> kan bisa membantu, eling cak.... kan iso nggo tambah stipen mbah
> Soel lan kang Marto)
>
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!