Sebenarnya dia mau ngomong, tapi karena teks-nya belum disiapin ama
para penasihat-nya jadi dia nggak tahu harus ngomong apa,........:o)
rgds
[EMAIL PROTECTED] on 02/29/2000 10:36:36 PM
At 15:47 29/02/00 +0700, "Abdullah Hasan" wrote:
>Sejak Pagi, 500 massa PDIP di depan DPP PDI menyatakan dukungan pada
>Megawati. membawa spanduk yang berbunyi : " Eros , Dimyati ! Lebih baik
>keluar dari PDIP ! " massa membuat barisan 100 meter menanti pujaan mereka
>memasuki istana.., eh, memasuki kantor DPP.
>
>Mungkin untuk menjaga kewibaannya , Megawati turun dari Mercy Biru Tua
>B1253AA cuek saja langsung masuk istana tanpa melihat massa yang
>mengelu-elukannya.
>
>Demikianlah sari berita yang bisa anda baca dari dari satunet.com
>http://satunet.com/artikel/isi/00/02/29/8174.html
>
>Membaca berita seperti itu sedih juga rasa hati ini. Sedih melihat betapa
>panjang lagi jalan yang mesti ditempuh. Sampai kapan cerita kerajaan
>majapahit atau 1001 malam masih merupakan fakta hari ini dinegeri ini ?
>Rakyat jelata, Perdana Menteri, Wazir, Baginda Ratu , Baginda Raja...
>( Bagaimana ya kalau tradisi seperti itu dikembang suburkan keseluruh negeri
>? )
>
>Semoga usaha sehat dan segar semacam dari Eros dan Dimyati bisa menyentak
>benak banyak orang ( PDIP ).
>
>Wassalam.
>Abdullah Hasan.
>
>
Saya melihat kejadian ini dari dua sisi.
Pertama, Mega masih terbawa-bawa dng perilaku feodalisme. Dlm hal ini
merasa harus menjaga jarak antara pejabat dng rakyatnya (termasuk
pendukungnya). Apalagi org yg kritis terhdp Mega, biasanya mengkaitkan dng
cukup lamanya Megawati hidup di lingkungan Istana, sewaktu bapaknya menjadi
presiden. Tetapi, yg terakhir ini saya sangsi ketika membaca bhw di masa
itu, malah Bung Karno mengajar anak2-nya u/ "bersatu" dng rakyat kecil.
Terutama dng para pelayan Istana yg mengasuh mereka. Katanya, mereka
sekolah bersama dng anak-anak karyawan di lingkungan Istana. Kemungkinan
lain seperti yg dikatakan Pak Abdullah, untuk menjaga wibawa Mega merasa
harus "pasang muka batu" terhadap para demonstran itu.
Kedua, Mega tidak setuju dng aksi-aksi demo seperti itu. Mega merasa
antipati dng cara para demonstran yang mendukungnya, tetapi menghujat dng
kata2 kasar Eros dan Dimyanti. Mega merasa cara mereka vulgar, jadi jangan
diberi angin. Maka itu Mega bersikap yg seolah-olah di mata orang, cuek.
Kalau saya pribadi, kalau disuruh memilih siapa ketua umum PDIP baru, saya
akan memilih Eros Djarot.
Salam Sejahtera
- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!