--- �� <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Artinya budaya mereka telah rusak!
> 
> Beratus tahun proses pembentukan budaya itu
> berlangsung
> lewat puluhan generasi. Wuuush..... hilang....
> 
> Inilah kehancuran yang sesungguhnya. Kehancuran Pela
> Gandong adalah miniatur kehancuran sistem nilai
> bangsa
> ini.  Hidup rukun, tenteram, dan damai dalam
> perbedaan
> dan keragaman. Bhinneka Tunggal Ika!
> 
> Kebodohan menimbulkan masalah dan kekerdilan
> menimbulkan kekerasan!
> 
> ��

Budaya adalah sebuah proses kesepakatan, yang terjadi
dalam sebuah proses yang perlahan-lahan terbentuk,
dari sebuah sikap hidup keseharian, ketika seseorang
ingin menjaga dan menempatkan diri. Ide-ide dasar yang
mewarnai masing-masing individu dan kelompok ikut
membentuk bagaimana budaya itu akhirnya berbentuk.

Pela Gandong pun terbentuk dari sebuah ide-ide dasar,
yang menjadi warna sekelompok manusia yang berada di
kawasan Ambon dan Maluku. Di kelompok tersebut ada
sebuah mayoritas agama tertentu, yang menyediakan
sebuah kesempatan bagi kelompok lain, untuk melakukan
interaksi, untuk menghadapi tantangan alam, yang
didominasi perairan dan miskin di daratan.

Tantangan keras menghasilkan sebuah kesepakatan yang
secara evolutif membangun sikap toleran, sehingga
muncul istilah 'Ambon manise'. Semua orang untuk Ambon
yang Manise, akhirnya.

Akan mejadi lain, ketika kawasan ini didatangi oleh
mereka yang membawa semangat 'berburu', entah itu
pekerjaan, penghasilan, atau yang lain. Mereka tak
memiliki akar yang cukup untuk bisa menempati
sisi-sisi yang tersedia. Mereka datang dengan sebuah
sikap yang tak lentur.

Terus akan benar-benar menjadi lain, ketika di sebuah
orde ada yang mencoba menitipkan interes, bisa
ekonomi, politik, atau agama. Meski menggunakan
idiom-idiom yang terlihat begitu indah, namun
pemaksaan target bisa berubah menjadi sebuah wacana
liar di tataran bawah.

Berbeda dengan proses pembentukan sebuah budaya, yang
berlangsung secara perlahan, alami dan lama, maka
dorongan interes yang satu ini menghendaki agar
terjadi secara instan. Mereka ingin agar di kesempatan
hidupnya yang pendek ini sudah melihat hasilnya. Maka
muncullah sikap menekan, mendesak, mengancam, sampai
membinasakan.

Semakin giris lagi, jika dorongan untuk
mengimplementasikan interes tadi dimanfaatkan oleh
kebiasaan buruk 'memihak yang meha untuk melawan yang
kuat', dengan harapan 'bisa mengalahkan yang kuat',
dan nantinya 'apa artinya si lemah?'.

Inilah yang terjadi di kawasan yang pernah dicemburui
kedamaiannya oleh mereka yang berada di kawasan lain.

Setelah Ambon, lalu Poso. Juga NTT. Dicoba-coba di
Medan.

Jika melihat fakta dan data yang tersedia, maka boleh
saya meramal, bahwa peristiwa serupa akan terjadi juga
di tempat-tempat, di mana mayoritas penduduknya
beragama tertentu (bisa ditebak) yang di mana
minoritas beragama lain dengan ghirahnya yang sedang
meluap-luap, dan menuntut untuk bisa macam-macam.
Gorontalo, Manado, adalah kawasan yang memiliki
spesifikasi seperti daerah-daerah di atas. 

Kalimantan sebenarnya punya potensi. Namun ibarat
makanan, kerasnya bukan main. Sehingga yang berani
mencoba akan ketemu dengan kasus Sambas yang
mendirikan bulu roma. Tak berkembang. Berbeda dengan
kawasan-kawasan yang sudah membara, dan masih dicoba
tadi. Masih ada sikap rada toleran yang berpeluang
diobok-obok, dan tiba-tiba semuanya terperangah.
Tetapi telat.

Mana intelijen TNI/Polri ?
Tidak bermutukah analisa mereka ?
Atau cuma mau jadi pemadam kebakaran ?

Mengapa kita selalu terlambat ?

=====
Sugih durung karuwan, sombong didisikno...

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Photos -- now, 100 FREE prints!
http://photos.yahoo.com

- Kirim bunga untuk handaitaulan & relasi di jakarta www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!











Kirim email ke