Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Anda benar Meneer. Ayah saya Nasrani ketika peristiwa itu
terjadi. Ayah baru masuk Islam setelah saya tingkat 2 di
college [2 tahun kemudian wafat]. Ibu baru masuk Islam
sekitar 5 tahun yang lalu setelah adik bungsu saya tak
bosan-bosannya membujuk.
Apa yang dilakukan ayah pada saat itu mungkin memang dari
ajaran Kristen. Atau, campuran antara falsafah Jawa dan
ajaran Kristen. Ini saya lihat dari pakde -bukan Kristen-
tapi cara memperlakukan orang lain juga spt ayah saya.
Pakde saya muslim tapi shalatnya hanya tiap tanggak 31
Februari :)
Kakek malah lucu lagi. Orang yang meling buah-buahan di
kebunnya, malah dibantu memasukkan buah-buahan itu ke
karung, dan dibantu memanggul pulang ke rumah pencuri
itu. Setelah di rumah pencuri, bilang sama istri pencuri
itu kalau dua karung buah-buahan itu bisa dijualnya ke
pasar. "Itu memang rejeki anakmu," kata kakek.
Karuan saja suami istri pencuri itu tak bisa berkata
apa-apa. Sang Suami nangis mengguguk memeluk kaki kakek.
Kakek hanya minta kepada suami itu untuk bertobat tidak
mencuri lagi. Sebagai gantinya, kakek menawarkan pekerjaan
menjaga kebun itu dengan upah bulanan. Kakek saya muslim.
Meski bukan ustadz...tapi rada-rada dekat ke sana lah.
Kesimpulan saya...sebenarnya tidak peduli seseorang itu
beragama apa. Bila ia mengamalkan ajaran moralnya dengan
baik, kita sulit melihat dari mana ajaran itu diperoleh.
Karena, ajaran moral tiap agama itu hampir sama.
Saya pernah punya buku kumpulan puisi yang ditulis oleh
tokoh-tokoh agama, Pastur, Guru [Hindu], Sufi [Islam],
Monk [Budha], dan Tao. Isinya sangat halus dan hampir sama.
Padalah ditulisnya pada tempat yang terpisah, dan mereka
tidak saling kenal, tak saling baca karya orang lain
[disebut di pengantar buku].
Wassalam,
+++Poirot
------------------------------
>From: reijkman karrountel <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Dendam politik
>Date: Sat, 5 Aug 2000 20:47:52 -0700 (PDT)
>
>
>On Sat, 5 Aug 2000 10:57:20 +0700, [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> > Walaupun tdk tau tokoh dlm cerita itu agamanya apa, tetapi cerita Pak
>Poirot
> > ini merupakan suatu bentuk ilustrasi dari apa yg dimaksud dlm ajaran
>Kristen
> > dng idiom: "Jika pipi kirimu ditampar, berilah pipi kanannmu."
>
>---------------
>
>Kalau tak salah, Usman Maine, seperti halnya Hercule Poirot, sebelumnya
>adalah seorang Nasrani (saat ini beliau-beliau tersebut adalah seorang
>muslim). Kemungkinan besar, orangtua saudara Usman adalah juga Nasrani.
>Berarti beliau, sang ayah, telah menjalankan kewajiban ajaran Kristianinya
>dengan benar, "Jika pipi kirimu ditampar, berilah pipi kananmu.".
>Alhamdulillah.
>
>
>
>
>
>_______________________________________________________
>Say Bye to Slow Internet!
>http://www.home.com/xinbox/signup.html
>
>
>->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!