From: "Abdullah Hasan" <[EMAIL PROTECTED]>
| Mbah Soel,
| Gaya sampeyan yang jadi amat serius membuat saya amat sungkan
untuk bersikap
| celelekan terus. Diatas ini, ueneg-uneg anda yang serius, yang
pasti dari
| dalem ati, saya coba singkatkan untuk diskusi kita.
| Ada dua hal yang perlu kejelasan dari sampeyan:
| 1. Bila saja MPR sepuluh bulan yang lalu memilih orang yang
lain, bukan
| manusia "tidak pantas" seperti keyakinan anda ( Gus Dur ).
Katakanlah
| Megawati. Apakah itu berarti kita tidak boleh mengoreksi bila
Megawati
| ugal-ugalan , umpamanya giat menanam KKN bersama suaminya
Taufik Kemas.
| Apakah MPR tidak kemudian boleh membuangnya ke Kali Ciliwung ,
hanya karena
| setia pada "kesepakatan" ?. Apakah kita harus memberi "cek
kosong" pada
| presiden pilihan kita ? Apakah kita sebaiknya membuang sikap
feodal yang
| terkandung dalam kata "setia",  menggantinya dengan yang lugas
baru seperti
| "performance" ?
--->
tentang mencong tidaknya mungkin telah diterangkan
oleh Meneer Karrountel. namun bila dihubungkan lagi
dengan MW, saya berpendapat justru dari titik inilah
mulai "mencong"-nya para yang mulia wakil "rakyat"(nya).
dapatkah mas hasan menerangkan, kira-kira apa yang
dipikirkan oleh pendukung GD kala itu, ketika calon
presiden mengutub pada HBB dan MWSP? bukankah
telah keluar semua senjata penangkal MW? mulai dari
"pembisuan", pembegoan, pemerempuanan hingga kepada
keimanan? saya juga masih ingat pernyataan "pers" salah
satu tokoh PT dari PBB yang menyatakan: "dengan
cara apapun akan aku jegal dia (MW)" yang kemudian
tokoh ini akhrnya menyatakan "untuk saat MW pantas
menjadi presiden". itu titik pertama.
ke dua, koordinat kemencongan itu terletak pada:
kemana saja tokoh-tokoh calon presiden yang sempat
berdebat? bukankah para beliau saat itu menyerahkan
juga peluang masing-masing kepada GD? (ingat
menteri yusril, HH dan AR sendiri)
titik ketiga koordinat mencong itu adalah kantor DPR/
MPR yang seperti "gubuk penceng" sehabis panen.
perlu dipugar atau dibakar. setuju presiden itu harus
ada yang mengoreksi atau meluruskan bila mencong.
dari itu dibentuk pula yang dinamakan DPA. kemudian
dalam hal ketatanegaraan, korektor terkuat presiden
adalah DPR.

namun yang terjadi, justru sang ketua
MPR yang sejak pagi-pagi siaran bahwa "raport
anak didiknya banyak merahnya". kalau saya yang
jadi murid punya guru demikian, dalam arti menyuruh
saya mengerjakan soal di papan tulis, sementara guru itu
ikutan ngerjain soal dan mempertontonkan kebolehannya,
saya akan segera mundur duduk di kursi dan ikutan nonton
ulah guru-guru semacam itu.

| 2. Yakinkah anda bahwa sebetulnya anda tidak begitu bening
melihat fakta?.
| "Yang meng-obok-obok" , istilah saya: "Yang lugas kritis"
bukan hanya
| pencetus pengusul GD presiden, tapi hampir-hampir seluruh
fraksi kecuali
| fraksi PKB. Lha wong GD itu kyai-nya !  Partai saya PDIP yang
dulu disakiti
| babakbelur pun dengan gagah berani berada didepan. Sayang
sekali anda tidak
| seleluasa kami yang ditanah air untuk bisa membaca koran.
Setiap hari anda
| bisa melihat Arifin Panigoro dkk bermain aktif menjemput bola!
Saya bilang :
| PDIP tidak gebleg lagi, bung ! Merdeka!
----->
dan saya yang blawur ini cukup yakin akan asal-usul
para pengkritis lugas dari PDI-P itu dari mana dan siapa
saja yang dekat dengan para beliau itu.
di lain hal, PKB memang blo'on. sewaktu kyainya diusulkan
jadi presiden, mereka masih getol mendukung MW. sungguh
suatu kekeras-kepalaan yang konyol dan blo'on. sekarang
pun diulanginya lagi. berteduh di rambu-rambu konsitusi
mencoba mendukung presidennya. juga ketua fraksi PKKB
atau apa itu, yang memberikan pemahaman nyleneh atas
pidato jawaban GD.

........
| Apakah ini barangkali memang keajaiban demokrasi ? Kombinasi
semua yang
| tidak sempurna menjadi yang lebih sempurna ?.
|
---->
demokrasi yang saya pahami adalah kedaulatan di tangan rakyat
mas. jadi para wakil rakyat yang notabene utusan rakyat dalam
menandingi eksekutif, mau tidak mau haruslah mencerminkan
keinginan rakyat. masih mendengarkah mereka dengan
jeritan diam dari rakyat yang makin compang-camping dan
mudah nglurug ke jakarta? sehingga tidak aneh kan,
bila sementara pengamat dan ahli ketatanegaraan mempertanyakan
seandainya parlemen berbuat di luar konatitusi, siapa yang
"NJEWER"?

salam,

soeL
----

| Wassalam
| Abdullah Hasan.
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
| ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
| Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN
SENDIRI
| Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
| Keluar: [EMAIL PROTECTED]
|
| Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|





->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke