On Fri, 25 Aug 2000, jsujanto wrote:

> Dear Brothers and Sisters,
 
> terus terang, mbah dan mas Wisnu, saya termasuk yang jengkel, karena GD
> tidak membentuk kabinet sesuai dengan keinginan sebagian  terbesar aspirasi
> rakyat kita.

> Tetapi GD punya hak prerogatifnya membentuk yang sementara orang menyebut
> sbg "zaken kabinet." Dan dia bertanggungjawab penuh.

WAM:
Bahwa beliaunya punya hak penuh, yes.
Tapi, beliau make haknya seenaknya sendiri, nein.
Bukan apa-apa, lha kalau Rupiahnya melorot terus, kan saya juga (di
antaranya) yang kena. Mosok saya nggak boleh protes. Kalau saya punya
dollar sak bank sih mungkin saya termasuk yang ndukung agar mbah Dur
ngawur saja, supaya Rupiahnya mlorot aja. Biar saya untung.
 
> Saya sudah terbiasa untuk tidak terlalu cepat menarik kesimpulan, oleh
> karena itu saya masih bertanya pada diri sendiri ( mungkin bisa dijawab oleh
> rekan-rekan!(:

WAM:
Lha nek Rupiahnya begitu cepat mlorot, ya mestinya kita cepet-cepet aja
teriak.

> 1. Sampai seberapa jauh GD mengetahui integritas dan kemampuan orang yang
> dimenterikannya?

WAM:
Frankly, embuh saya nggak tahu. Bukti bahwa mereka terpilih, setidaknya
membuktikan bahwa _mereka_ dipercaya mbah Dur. Soal apakah kepercayaannya
ini ngawur, ya lihat aja efeknya.

> Memang dunia ini aneh! "Reaksi pasar" adalah reaksi rakyat yang bergerak di
> bidang usaha, terutama keuangan (bursa saham. money changers, bank, dll).

WAM:
Tapi, kan rekasi pasar yang langsung dapat dilihat hasilnya.

> Reaksi umum ( every day life ), biasa-biasa saja; ya karena rakyat selalu
> woordloos denken (berpikir-tanpa-mengleuarkan pendapat/perasaanya);

WAM:
Saya pun, kalau saja Rupiah nggak mlorot terus, nggak ambil pusing siapa
yang jadi menteri atau presiden.

> sedangkan para pemimpin woordvol denken ( berpikir dan banyak bicara ).
> Mengenai ucapan-ucapan pemimpin lainnya seperti AR; ya berfungsi baik untuk
> "mendorong GD bekerja benar dan lurus!"; sekalipun kita ketahui
> ketidakpuasan pribadi AR dalam arena permainan-politiknya.

WAM:
Lebih salah lagi kalau AR diem saja.
 
> Atau ada di milis ini psychiater/psycholoog yang bisa "menggambarkan GD";
> untuk lebih memahaminya.

WAM:
GD adalah GD. Apakah dia dapat digolongkan sebagai orang normal, embuh.







->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke