salaam, muhun maaf, berhubung lagi nggak sempat nulis sendiri :-) berikut saya paste-kan salah satu potingan tulisan pak ustadz dalam menghadapi atau beradu argumentasi dengan sparring diskusinya tentang "berjihad". bagi yang tidak berkenan, silakan men-del.... (mudah-mudahan ini termasuk satu diantara cara saya dalam usaha ikut berperan menularkan pengertian yang saya anggap baik...) soeL ------ IKHLAS Ah yang bener aja! Kok nggak disebut saja $B!F(Bikhlas$B!G(B itu materi untuk anak balita. Rupa-nya akhi kita ini belum mengerti dan belum tahu apa itu ikhlas. Rupanya akhi kita yang satu ini tidak melihat bahwa mundurnya masyarakat Islam itu disebabkan oleh kurangnya rasa ikhlas (kalau tidak dapat dikatakan $B!F(Btidak ada $B!G(B) pada kebanyakan pemimpinnya. Sau-dara Zubaidi, ketahuilah bahwa $B!F(Bikhlas$B!G(B itu adalah materi untuk doktor, pasca doktor, bahkan profesor. Memang, agar materi ikhlas ini bisa diamalkan dengan benar, ia harus ditanamkan sejak balita. Kalau Anda belajar $B!F(Bakhlak$B!G(B, Anda akan mengetahui bahwa ikhlas itu baru nyantol pada $B!F(Bnafs al muthma-innah$B!G(B. Selama nafs atau jiwa kita ini belum sampai pada tahap ini, jangan harap kita bisa berbuat ikhlas. Karena itu, iblis sendiri me-ngaku tidak sanggup menyesatkan orang-orang yang ikhlas. Firman-Nya dalam QS 39-40 $B!H(BBerkatalah iblis: $B!F(BYa Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan membuat mereka memandang baik di bumi ini, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka.$B!G!I(B Kandungan senada terdapat pada Surat Shaad/38:82-83. Iblis itu pecinta kekerasan. Ia selalu meniup-niupkan api peperangan. Sebaliknya, Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia mencintai kelembutan. Cobalah perhatikan Surat Al Maa-idah/5:64, $B!H(BSetiap mereka (orang-orang Yahudi) menyalakan api pepe-rangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.$B!I(B Dari ayat ini dapat dipa-hami, pertama orang Islam itu tidak memulai peperangan, dan kedua dengan cara-Nya sendiri Allah akan memadamkan api peperangan. Dan ketiga, orang-orang Islam adalah orang-orang yang tidak berbuat kerusakan. Orang-orang Islam tidak berprinsip untuk mencapai tujuan menghalalkan segala cara. Orang Islam adalah orang yang berani menang tanpa melakukan serangan lebih dahulu. Bila orang Islam hidup disuatu negara dizalimi, maka mereka harus berani meminta pemerintah untuk mencegah eskalasi keza-liman. Bila tidak digubris, orang-orang Islam harus merapatkan barisan guna melindungi diri dari penindasan. Bila terus ditindas, kita kobarkan semangat perang. Dan ini adalah jalan terakhir. Mengapa pertempuran itu sebagai jalan terakhir? Karena di dalam pertem-puran pasti terjadi kerusakan. Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Inilah strategi yang berakhlak Ilahi. Strategi iblis lain, sejak awal ia meniupkan api per-tempuran. Sejak awal ia mendorong perilaku rusak-rusakan. Sekarang perhatikan kembali Firman-Nya pada Surat Alu Imran/3:159, $B!H(BMaka disebab-kan rahmat Allah-lah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekeliling-mu.$B!I(B Sikap ini adalah akhlak Rasul Allah dalam menghadapi umatnya. Dan dengan sikap ini pula musuh ditundukkan. Kalau dihadapi dengan kelembutan, para musuh itu tidak mau berhenti dalam menindas umat Islam, maka jalan terakhir adalah kekerasan di-lawan dengan kekerasan. Ini bila tidak ada jalan lain! Namun, sebelum menyimpulkan $B!F(Btidak ada jalan lain$B!G(B, kita harus berjihad (berjuang sungguh-sungguh) dengan berijti-had untuk menemukan solusi. Mengomentari QS 3:159 ini, Abdullah bin Umar berkata, $B!H(BSesungguhnya saya menemukan sifat-sifat Rasulullah saw dalam kitab-kitab terdahulu demikian, $B!F(BSesungguhnya tutur katanya tidak kasar, hatinya tidak keras, tidak suka membalas kejahatan dengan kejahatan, justru dia memaafkan dan meng-ampuninya.$B!G!I(B Orang beriman memang bisa hidup ikhlas dalam situasi apa pun. Tetapi harus dibedakan antara $B!H(Bsituasi yang kondusif bagi Umat Islam untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam$B!I(B dengan $B!H(Bikhlas yang diamalkan oleh orang-orang beriman$B!I(B. Anak balita yang ikhlas tentunya tidak berimplikasi dalam kehidupan yang luas daripada Sdr. Zubaidi yang ikhlas. Siti Masyithah yang ikhlas, implikasinya dalam kehidupan tidak sebesar Siti Asiyah isteri Fir$B!G(Baun. Karena itu Nyonya Fir$B!G(Baun dijadikan Tuhan sebagai perumpamaan bagi orang-orang beriman (Surat At Tahrim/66:11), dan bukan Siti Masyithah. Ikhlasnya Achmad Chodjim belum berimplikasi positif yang luas bila dibandingkan dengan ikhlasnya Habibie maupun Gus Dur. Nah, dalam kehidupan yang penuh kedamaian kiprah orang-orang Islam yang ikhlas itu akan bersinar. Jadi, semakin hari semakin terpuruknya masyarakat Indonesia dan semakin jauhnya dari tuntunan Islam karena kurangnya (lenyapnya) keikhlasan dari para pemimpinnya (dari presiden sampai muddin). Kejahatan semakin merajalela, pelacuran semakin menjadi-jadi dan berbagai macam kemaksiatan lainnya tanda bahwa kebanyakan elite di Indonesia tidak (kurang) ikhlas dalam hidupnya. Jawa memang tampak damai, dan mungkin tampak lebih damai dari pulau lain. Sekali lagi tampak damai. Tampak damai tidak sama dengan $B!F(Bdamai$B!G(B. Tampak damai terjadi karena masyarakat luas tidak berani melawan perilaku para penguasa yang menyimpang, seperti KKN. Yang terjadi adalah damai yang semu yang buahnya adalah krisis. Tentunya bukan damai yang demikian yang kita harapkan. Yang kita harapkan adalah $B!H(BSILM$B!I(B, perdamaian sejati yang lahir dari sikap ikhlas para pemimpinnya. Saya teringat akan Hadis Nabi yang disampaikan oleh Abu Bakar, bahwa di penghujung waktu akan datang saudara-saudara Rasul Allah, dan bukan sahabat beliau. Semoga kita ini adalah saudara-saudara beliau. Amin yaa rabbal $B!F(Baalamiin! Sebuah renungan : $B!H(BPada suatu hari, tanggal 23 Oktober 1986 saya melihat beliau Rasul Allah saw dalam pakaian setelan jas modern dengan wajah yang ganteng, rambut ikal yang tersisir rapi, dengan potongan rambut pendek seperti kita pada umumnya. Dan saya berkesempatan untuk bersalaman dengan beliau.$B!I(B Demikianlah uraian saya mengenai Diskusi Jihad 1D, semoga bermanfaat bagi para pembaca milis ini yang dirahmati Allah. Mohon dibaca kembali secara utuh 3 artikel saya sebelumnya. Mudah-mudahan 4 artikel ini sudah cukup bagi pembaca milis ini. Saya tak hendak membuang-buang energi untuk melayani diskusi bila akhirnya tidak saling mengi-si, dan bahkan fitnah bisa terjadi. Bila ada kata yang kelewat, dan mungkin tak berkenan di hati para sahabat, saya mohon maaf. Wa billaahit taufiq wal hidaayah. Jakarta, Rabu, 13 September 2000 ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!

Kirim email ke