Salam dan Rahmat Tuhan,
Berikut saya sampaikan suatu tafsir dari kalangan
Ahmadiyah, yang mengartikan "ibili" bukan sebagai
unta, melainkan "awan pembawa hujan". Jadi cenderung
kepada proses geometeorologi dan astronomi (begitu
ya Koh Yap? hehe kemana saja sampeyan?). Alasannya
juga logika, mensinkronkan dan mencari rasionalitas
hubungan ayat itu dengan 3 ayat berikutnya,
sehingga menjadi:
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan "awan
pembawa hujan" bagaimana diciptakan. Dan langit
bagaimana ditinggikan. Dan gunung-gunung bagaimana
ditegakkan. Dan bumi bagaimana dibentangkan"
(QS 88: 17-20; al-Ghaasyiyah).
Jadi sinkron semua membahas peristiwa alam dengan
berangkat dari keadaan akhir berupa "HUJAN". Lho,
kok mirip dengan strategi penelitian ilmu-ilmu dasar
yang katanya berprinsip "beginning with the end"
ya? Keterangan ahli tafsir itu, dengan mengalami
hujan, orang berfikir dari mana hujan. Ternyata
dari awan. Kemudian bernalar lagi, mengapa sampai
ada awan, tak lain karena ada sifat bawaan langit
yang tinggi. Mengapa awan bisa mencapai ketinggian
langit, karena uap air yang terbawa angin menempuh
gunung-2 sehingga mengembun menjadi awan. Lho,
lantas mengapa ada sifat tinggi dan ada air, uap
air dan sebagainya, ternyata karena ada super kreasi
yang maha dahsyat dari "penghamparan" bumi yang
sebenarnya bersifat membola. Al hasil semua posisi
di luar bumi, adalah atas (tinggi). Di mana pun kaki
berpijak di bumi, maka langit adalah di atas kita.
Penghamparan bumi dijadikan pertanyaan (tuntutan
agar manusia memperhatikan) paling akhir dari 4
proses yang berasal dari kondisi akhir "hujan" itu.
Kalau boleh kita telusuri lebih dalam proses penghamparan
bumi yang dipercaya berasal dari zat-2 yang ada
pada matahari, ternyata ada proses pemisahan
antara padatan, cairan dan gas. Terjadilah daratan,
lautan dan atmosfir. Dengan sifat azasi, bahwa padat
memiliki kerapatan paling tinggi sehingga dia yang
membentuk gaya tarik bumi (menjadi kurungan dari
gravitasi), sementara air yang lebih ringan diberi
sifat mencari tempat terendah (terdekat dengan
pusat bumi) tetapi juga diberi sifat menguap bila
terkena temperatur tinggi. Pada waktu menjadi
gas, air (uap) justru bergerak ke atas. Terbawa
angin menempuh gunung-2 terpaksa menaik. Pada
proses penghamparan bumi itu sekaligus diberi
sifat azasi bahwa semakin jauh dari pusat bumi,
maka pantulan sinar matahari semakin lemah,
sehingga temperaturnya rendah. Uap air terkena
suhu rendah akan kembali menjadi cair, turunlah
hujan.
Sementara itu kenapa dipakai tamsil awan pembawa
hujan? karena HUJAN bagi kehidupan gurun (lagi-lagi)
bersifat sangat vital. Kan pada hakekatnya semua
air tanah itu dulu-dulunya juga air hujan, entah
berapa ratus atau ribu tahun yl, hingga air hujan
baru yang meresap menembus lapisan-2 tanah.
Di beberapa surat (ayat) banyak diterangkan
peranan air (hujan) ini sebagai sumber penghidupan
bumi. Bahkan intinya cenderung "Allah menghidupkan
bumi dengan air yang turun dari langit" Sehingga
(masih menurut ahli tafsir itu) pantas surat itu
diberi nama al-Ghaasyiyah atau kejadian yang
amat dahsyat. Sayang banyak orang menganggap
kedahsyatannya hanya berkutat pada peristiwa
hari akhir yang maknanya tersirat pada ayat-ayat
3 - 16 surat itu yang intinya membedakan antara
orang yang mendapat naar (api) dan yang mendapat
jannah (surga), hitungan antara dosa dan pahala.
Sekian dulu, kurang lebihnya mohon maaf.
Wassalam,
Fukuoka Kitaro
----------------------
MOSOK NDHAK MAMPU?
................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
- [Kuli Tinta] Hibridisasi sebuah Cermin! # 3 Fukuoka Kitaro
- Re: [Kuli Tinta] Hibridisasi sebuah Cermin! # 3 My Populis
- Re: [Kuli Tinta] Hibridisasi sebuah Cermin! # 3 Subiarto AF
- [Kuli Tinta] Al Ghaasyiyah #1 Fukuoka Kitaro
- [Kuli Tinta] Al Ghaasyiyah #1 Fukuoka Kitaro
