Salam dan Rahmat Tuhan,
Mas Subiarto,
Jadi malu hati saya menerima Re-nya. Bukan maksud
saya menjadi penceramah agama lho. Blas "nul puthul"
pengetahuan ilmu agama yang saya miliki. Dan dengan
mail Mas Sub ini saya jadi teringat 3 tahun yang lalu
ketika saya mencoba mengirimkan mail mohon pen-
cerahan tentang ayat-ayat (satu diantaranya sampeyan
kutipkan itu) ke milist muslim lingkungan sejawat, dengan
sedikit memberi gambaran tentang pemahaman saya akan
ayat-2 itu. Alhamdulillah, saya malah dianggap lancang berani
menafsirkan ayat-ayat suci dengan pikiran dan nalar
sendiri (meskipun telah saya jelaskan juga bahwa penalaran
saya itu berdasar beberapa tafsir yang sempat saya
baca dan memang ditambah dengan nalar seorang
murid yang bertanya kepada guru, karena ayat pertama
yang diilhamkan kepada Rasulullah adalah perintah
MEMBACA, apa yang dibaca?). Itu semua membuat saya
kembali merenung. Ternyata, memang saya belum
pernah merasa KHATAM membaca "kesimpulan-2"
ilmu Tuhan yang diringkaskan dalam kitab suci, yang
disampaikan oleh para utusan Tuhan.
Hal itu membuat saya semakin menggemari ayat-2
pendek dari surat-surat Qur'an yang diturunkan di
Mekah awal. Salah satu surat (ayat) yang sangat
mengesankan bagi saya sebagai seorang murid adalah
QS: 10:100-101 (Yunus): "Dan tidaklah seseorang
beriman melainkan dengan izin Allah, dan Allah menimpakan
kehinaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan
akalnya. Katakanlah, 'Perhatikanlah apa-apa yang ada
di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat ayat-ayat
dan peringatan-peringatan terhadap kaum yang tidak
beriman'"
Menurut nalar saya, kedua ayat itu jelas menunjukkan
bahwa keimanan seseorang itu atas izin Allah. Kemudian
terkesan bahwa untuk mendapatkan izin Allah, seseorang
yang "ingin masuk golongan" beriman itu wajib mempergunakan
akal (nalar atau logika yang positif). Kemudian disediakan
fasilitas untuk mempergunakan akal itu dengan memper-
hatikan apa-apa yang ada di langit dan di bumi. Dan orang
yang tidak berbuat itu termasuk orang yang tak beriman
maka semua ayat, pesan, peringatan menjadi tidak ber-
manfaat. [cat: di surat lain yang jauh lebih pendek,
bukankah Allah telah berfirman yang intinya adalah
bahwa manusia yang dapat mempertahankan kedudukannya
sebagai makhluk yang tinggi maqam-nya adalah yang
beriman dan beramal shaleh (Attiin)].
Kembali ke:
ayat suci "afalaa yandhuruuna ila al ibili kaifa khuliqat"
(apakah kamu tidak memperhatikan unta, bagaimana
diciptakan?). Seharusnya saya tidak berhak mengupas
ayat ini, namun dengan memperhatikan cerita saya di
atas, maka saya hanya dapat mengemukakan berdasar
nalar saya. Jadi mohon maaf bila saya dinilai lancang
lagi -: ). Kalau saya memperhatikan, mengapa harus
unta, ya karena ayat-2 Qur'an diwahyukan kepada
Muhammad yang orang arab. Apalagi orang arab jaman
itu, kan unta adalah urat nadi kehidupan bangsa Arab
sebagai pedagang. Di sini telah terkandung logika akan
rasionalitas regional (lokal).
Mereka tidak akan dapat mengarungi ganasnya alam
gurun bila tidak ada armada-2 unta. Dengan memperhatikan
apa-apa yang ada di bumi, seharusnya bisa merasakan
betapa maha kreatif dan maha murahnya Tuhan. Unta
yang amat vital fungsinya sebagai sarana transportasi
diberi sifat, tahan haus setelah minum bergalon-2
sekaligus ketika "isi bensin" di wadi-2. Penggunaan
air dalam diri unta, dengan demikian, sangat efisien
dan "irit". Juga unta dilengkapi dengan "punuk" yang
konon merupakan jaringan lemak sebagai cadangan
makanan bila dalam perjalanan tidak bertemu rumput.
Dengan cadangan lemak dan air yang bergalon-galon
dalam tubuh-nya menjamin perjalanan kabilah pedagang
Arab. Penciptaan unta, menurut saya, juga memberikan
pelajaran berharga dari proses EVOLUSI, mengingat
nenek moyangnya yang tidak hidup di lingkungan gurun.
Teori Darwin yang banyak ditentang kebetulan cocok -:)
Juga dengan unta itu telah terjadi hubungan sosial
antara 2 atau 3 gurun besar yi. Sahara di Afrika Utara,
Gurun di Jazirah Arab dan Gurun Ghobi di China. Hubungan
sosial dan ekonomi yang berlangsung ratusan tahun,
memungkinkan saling kenal-nya sentra-2 budaya manusia.
Jadi ada pula kaitannya dengan firman Tuhan yang
intinya menyatakan bahwa "manusia diciptakan berbangsa-2
agar saling mengenal. Yang pada jaman pra-teknologi
difasilitasi dengan (salah satunya) UNTA. Seandainya
bukan unta yang dijadikan tamsil, apakah orang Arab
saat itu tertaik untuk memahaminya, bila hewan
yang ditamsilkan tidak akrab dengan kehidupan mereka?
Begitu dulu Mas, menurut pandangan saya yang tentunya
jauah dari sempurna. Namun ada suatu tafsir yang
mengartikan ibili itu bukan unta, melainkan "awan pembawa
hujan" yang juga sangat vital maknanya bagi kehidupan
gurun pasir.
................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
- [Kuli Tinta] Hibridisasi sebuah Cermin! # 3 Fukuoka Kitaro
- Re: [Kuli Tinta] Hibridisasi sebuah Cermin! # 3 My Populis
- Re: [Kuli Tinta] Hibridisasi sebuah Cermin! # 3 Subiarto AF
- [Kuli Tinta] Al Ghaasyiyah # 2 Fukuoka Kitaro
- Fukuoka Kitaro
