Pak Subiarto, memang netral 100% itu sulit kecuali golput, tokoh yang
terkenal netral saat ini semacam Cak Nur pun akhirnya mengeluarkan statement
yang memihak.
Menyerang dan menjelekkan tokoh justru banyak dicontohi oleh elit-elit
politik kita sendiri. Ingat belum lama semenjak GD duduk sbg. presiden
banyak kritik dan tuduhan dari AR yang langsung dilansir ke media massa,
suatu cara yang tidak elegan dan provokatif.
Jadi ajakan berpikir posistip ini akan lebih efektif kalau diberikan kepada
para elit politik kita, terutama bagi para anggota DPR yang sedang
menggebu-gebu dengan gate-gatenya menyerang presiden.
Kritik mengritik tokoh itu wajar-wajar saja dan baik selama tujuannya untuk
mengingatkan mereka, bukan untuk menghancurkan.
Masalahnya bukan mikir positip atau tidak, tapi sesuatu yang positip
diplekotho sedemikian rupa menjadi negatip untuk tujuan kekuasaan, begitu
sebaliknya.
Inilah jaman demokrasi, butuh kedewasaan agar tidak mudah diadu domba.



-----Original Message-----
From: Subiarto AF [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Friday, February 02, 2001 7:25 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [Kuli Tinta] BERPIKIR POSITIF


Cak Gigih, terima kasih, sampeyan bener, bahwa dlm posisi apapun manusia
sulit bersikap benar2
obyektif, dan kebebasan berpendirian adl hak tiap individu. Saya ingin
menggaris bawahi komentar
saya scr keseluruhan bahwa  dukung mendukung secara fanatik tidak akan
banyak berguna dalam mencapai
kedewasaan berpolitik selain sekedar memuaskan emosi masings, dan itu
gambarnya jelas terlihat
ditengah masyarakat kita yg makin terpolarisasi scr childist. Justru kalau
seseorang mendukung
seorang tokoh kan bukan berarti apapun yg dilakukan si tokoh selalu didukung
tanpa syarat, tidak
bersedekah kepadanya dg kritik yg rasional. Untuk itu kan berarti kita perlu
minggir sejenak (ambil
jarak) "menjadi pengamat" dan menyediakan cermin bagi tokohnya. Kalau tidak,
alih-alih pemimpin
idola bisa dapet quality improvement dalam proses mensejahterakan bangsa,
tapi kita sudah
mengurungnya dalam menara gading sambil menaburinya racun, dan kita akan
tercatat sbg bangsa yg
tidak mampu belajar dari sejarah.   thank's.
BERSIKAP ISHLAH, INGATKAN YANG SALAH.
-----Original Message-----
From: GIGIH NUSANTARA <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Friday, February 02, 2001 4:34 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] BERPIKIR POSITIF


Saya yakin, sejak awal mereka yang aktif di milis ini telah menempatkan
dirinya pada posisinya
sendiri-sendiri, dan sama sekali tidak berpretensi sebagai pengamat seperti
yang ditulis oleh
Subiarto. Sebab, bahkan pengamat sekalipun, sudah menempatkan kepemihakan
politiknya, sehingga
pengutaraan amatan
mereka pun tak pernah bebas nilai.
Sementara, soal AR, pendirian saya tetap. Dia sangat kebelet. Jika pendirian
ini tak memenuhi
kualifikasi
sebagai pengamat, saya tak menyesal untuk dimasukkan dalam kelompok
pendukung GD.

>--- Subiarto AF <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>> Sdr Aswat menulis :
"Namun disinilah sebenarnya hakekat pribadi itu muncul. Cara berpikir, cara
berbicara, dan cara kita
bersikap sebenarnya akan memberikan gambaran kepada orang lain siapa kita
sebenarnya."
Terinspirasi statement di atas, saya ingin memberikan kritik kepada anggota
milis
[EMAIL PROTECTED] sesuai tingkat pemahaman saya, bahwa sebagian
besar penulis tidak
menempatkan diri sebagai pengamat tetapi sbg pendukung dan oposan (fanatik)
dari tokoh yg
dibicarakan shg seringkali hanya menjelekkan tokoh seberang dan memuji tokoh
pujaannya. Contoh,
mengenai Amien Rais, bagi oposan fanatik sering digambarkan sbg kebelet, tdk
bertgjawab, "kau yg
memulai dan kau yg mengakhiri" dg nada negatif, dst seolah dalam diri AR tdk
ada sisi positifnya.
Tentu saya tidak tahu persis apakah ybs sudah kebelet (jadi RI-1
misalnya), tetapi fakta bahwa "dia yg memulai dan dia yg mengakhiri" kalau
disikapi dg pikiran
positif adl suatu sikap & tindakan yg sangat bertgjwab dan mrpkan
pembelajaran thd egalitarianisme
dan demokratisasi serta meletakkan proporsi hubungan antara  personal dg
profesional secara benar.
Saya berpendapat bahwa AR dan orangs yg setuju dg idenya adl type manusia yg
terbiasa dg sikap tidak
taqlid thd Person tetapi lebih kepada mengikuti jalan pikiran yang sehat
dari siapapun pikiran itu
dilontarkan. Saya menyarankan utk merunut kembali sejarah sepak terjang dia
dari awal terjun ke
dunia politik agar gambaran kita ttg dia (dan thd
siapapun) menjadi lebih jernih - tidak terlalu hitam putih dan totaliter.
At least, kalau ada orang
yang - menurut kita - berbuat salah, apakah kita akan jadi membenarkan sikap
kita yakni ikut berbuat
salah ? Hemat saya,
sayang sekali kalau suatu media hanya dimanfaatkan utk sekedar memuaskan
hawa nafsu dan emosinya
sendiri dan bukan sbg wahana pendewasaan diri dan walau sekecil apapun ikut
berkontribusi
menyampaikan
solusi yang applicated atau sekedar wacana positif bagi orang banyak.
Dengan berpikir positf,
manusia
akan lebih dimungkinkan membangun "maqam" pribadi lebih tinggi dan memberi
manfaat kepada pemecahan
suatu masalah. Demikian, mohon maaf dan terima kasih utnuk kesediaan
membacanya.
salam, subiarto.



...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--


















...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke