Ah, Mas pertanyaan-2 sampeyan ini sebetulnya jangan ke saya dong. Sebab saya juga bisa tanya, tentang legislatif lho. Mereka mewakili rakyat... rakyat yang mana? Rayat yang manakah yang betul-betul mendukung Mhs di tahun 66? Semua rakyat? Siapakah yang paling banyak dirugikan selama dwi fungsi 32 tahun? Termasuk siapakah yang membikin konsep dwi fungsi? hehe, mumeth kan? Sebab sampai detik ini ternyata suatu pikiran, pendapat atau opini itu betapa pun kadar benarannya tak akan mengemuka atau diakui bila hanya para cepethe-2 yang menyampaikan. Sebaliknya seberapa pun nilai salahnya asal disampaikan oleh kelompok-2 besar (apalagi mayoritas) akan menjadi benar adanya. Yang membelanya akan menjadi pahlawan atau orang terkenal. Termasuk di lembaga-lembaga perwakilan. Olehnya itu, mungkin formulasi fraksi-fraksi dalam lembaga itulah jalan untuk mempermudah "pembenaran" itu. Kan tinggal enak untuk menuju pembenaran. Tinggal meloby ketua-ketua partai. Jadi omong kosong anjuran-2 "Pergunakan hati nurani" segala macam. Wong ketentuannya saja sudah melenceng dari hati nurani, bahkan sekedar akal sehat. Ada terdengar yang membela pansus BG&BG dengan alasan "Yang kecil saja diungkap agar yang gede-2 mengalami shock-theraphy, menjadi takut dan mem- bongkar diri sendiri, atau tak berani lagi melakukan" Hehehee, kalau saya kebalik, lha kok aneh yang bernilai juaauuuuh lebih gede dikesampingkan dulu, malah yang kecil diubek-ubek. Ingat pepatah jawa "mBuru uceng kelangan deleg" kan Mas? Memburu ikan uceng yang kecil dan licin, seekor anak ikan gabus yang besar dan lebih mudah ditangkap, lari entah kemana. Mau bukti lagi? Ternyata setelah Jatim bergolak, hehehee banyak tokoh-tokoh penting pembenar pansus serta provokator SI kelimpungan. Pendapatnya mualai berubah seperti murid SD yang disuruh membaca hasil PR karangannya sementara itu sebenarnya dia belum mengerjakan. Dia baca saja karangan-2 teman sebelah.... jadi yaaaa. hehehe. Maka seandainya secara rajin bagian rakyat yang "embuh" itu ikutan rajin menandingi prosesi jalan raya mahasiswa di Jakarta, rasa-rasanya segera klear mana benar mana salah. Mana rasional mana ngawuronal... nuwun, Ki Denggleng Pagelaran -------------------------- masih mengharap kebebasan berpendapat selama pemerintahan GD bertahan. ----- Original Message ----- From: "$Bji(B" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Sunday, February 11, 2001 1:06 AM Subject: Re: [Kuli Tinta] Lopa diangkat P3 bingung Militer yang mana San? Siapakah yang dibelakang Mhs di tahun 66? Semua angkatan? Siapakah yang paling banyak menjalankan ''dwi fungsinya'' yang banyak menimbulkan masalah selama Orba dan oleh Nasution sendiri dikatakan kebablasen? Kalau kemarin di sidang Paripurna itu PDKB dan FKKI tidak mengemukakan fakta dan argumentasi yang bisa mengubah penilaian kita mengenai hasil Pansus maka sikap TNI/Polri itu bisa dimengerti. Namun, dengan informasi tambahan dari kedua fraksi itu maka sikap TNI/Polri itu menimbulkan kesan ikut bermain yang sulit dibantah. Apakah benar sesuai dengan Sapta Marga dan Sumpah Prajurit? Sadarkah mereka bahwa pada saat yang sama prajurit TNI/Polri yang meninggal di ujung barat dan timur terus bertambah? ------------------------------------------ ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--

Kirim email ke