Tenang Pak... tenang... Bapak kan Abdi Allah.

Nggak arogan kok Pak...nggak sama sekali,  hanya saja fakta
menunjukkan bahwa ada korelasi yang positif sangat kuat antara
perolehan suara Golkar dengan pusat-pusat informasi. Sulsel dalam
analisis regresi secara teoritik bisa dikategorikan sebagai
Kingkong karena penyimpangannya datanya sangat besar.

Foto di Tempo masa lalu saya pikir masih disimpan dimana warga
Irian dari satu kecamatan dikumpulkan lalu diajari bagaimana
pemilu dengan mencoblos Golkar. Itu fakta lho Pak....

Yang pasti Pak Hasan, gugur sudah sinyalemen bahwa milis ini
banyak ditongkrongi oleh warga merah atau simpatisan PDIP. Entah
kalau muncul sinyalemen baru sebagai simpatisan GD atau bahkan
kelompok kiri...

Tetapi, di Yogya banyak tuh Poster Gepako yang justru menunjukkan
bagaimana mereka menjadi lucu di tengah orang yang banyak tahu.
Padahal pendaftaran Gepako ada di sekretariat Golkar. Apa bisa
kita menurunkan kesimpulan bahwa yang menuntut Golkar dibubarkan
berarti anti gepako --> dus kiri atau komunis. Atau, kalau
berseberangan dengan para pembakar buku lalu bisa disimpulkan
sebagai kiri atau PRD?

Wah perlu belajar Logika dan Filsafat lagi nih... supaya lebih
bisa memahami pemikiran orang lain...


----- Original Message -----
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, May 24, 2001 9:29 AM
Subject: [Kuli Tinta] GOLKAR


Bagai garam dalam semangkuk sup, begitu ada emosi, diskusi milis
menjadi
semakin asyik. Asal jangan kebanyakan. Bisa terasa sepet campur
kecut
seperti jaman " kapal selam bersama WAM" dulu itu. Masakan seperti
itu
menyebabkan milis jadi menyebalkan.

Omong-omong, rupanya banyak yang pingin Golkar dihapuskan sekarang
ini.
Akibatnya memang bisa menyenangkan beberapa orang yang senang
berpikir
"kesusu" tanpa kerja. Umpamanya PDIP yang masih jauuuuh dari
separo, bisa
mimpi disulap jadi 68%. Atau PRD yang simpatisan lenin itu,
jangan-jangan
mimpi jadi 80%, dari pendapatan pemilunya yang cuma enam-tujuh
orang?. Yang
penting bukan becandaan seperti itu. Bagaimana nasib suara rakyat
yang sudah
terlanjur masuk kesana ? Apakah tidak sebaiknya hal itu dilakukan
pada
sebelum pemilu ( akan datang) sehingga keterlanjuran tidak t
erjadi? Saya kok
mikir betapa sewenang-wenangnya kita memberi cap bodoh saudara
kita yang
diluar Jawa ( karena gampang dikibuli Golkar, sedangkan yang di
Jawa tidak).
Karena itu demikian sewenang-wenangnya kita mencap bahwa pemilu
yang di
Jawa, "mungkin relatip bersih" , yang diluar jawa masih "amat
kotor".
Jangan-jangan itu sikap kita yang amat arogan?!.

Dilain pihak, kalau kita mau fair, dengan berkata bahwa kita tidak
bisa
menerima pemilu yang lalu "seluruhnya", karena masih terdapat
terlalu banyak
penipuan,dsb. Apakah kita mau membubarkan semua lembaga negara
yang ada
sekarang? Apakah ada yang berani berkata seperti itu ?

Wassalam,
Abdullah Hasan.



...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan.
...........
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan
sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.i
ndokado.com<--






...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 

Kirim email ke