Cermin

Hari-hari ini aku gelisah. Tiba-tiba terlihat oleh
mataku, jari kakiku bernanah, bengkak, merah meradang.
Tiba-tiba aku merasa getun, ketika aku lihat tungkai
kakiku terlihat sangat kurus, penuh bopeng dan koreng.
Tiba-tiba tumbuh begitu banyaks esal di hatiku, karena
selama ini aku seolah mengabaikannya, meski aku telah
menggunakannya untuk banyak hal, berjalan, berlari,
bergayutan di bis kota, di mana kaki itu pula yang aku
andalkan, ketika sibuk mencari nafkah, berlarian ke
apotik ketika dikabarkan dari rumah istriku yang
tiba-tiba sesak napas. Kaki....

Terlintas di ingatanku, bagaimana keseharianku. Kaki
terasa penat, untuk mengejar semua tugas, kewajiban,
dan ambisiku. Pekerjaan-pekerjaan yang tak enteng,
bukan karena aku lebih membuatnya berat, tetapi ketika
udara di luar ikut membuatku berat. Ada sopir angkot
yang lelet, pelan-pelan jalannya, tetapi kadang juga
sangat ngebut mengejar setoran atau mengejar anak-anak
yang naik sepeda motor serampangan, sehingga membuat
aku merasa dikocok habis-habisan.

Terlintas di ingatanku, ada kaca kecil di dekat toilet
yang aku pakai memandang sekilas wajahku, rambutku,
dandananku, karena harus segera bergegas untuk
mengejar menit-menit yang berlalu dari semua yang
harus aku isi dengan kegiatan itu. Hanya selintas, dan
cuma cermin sekecil itu.

Cermin kecil seperti itu banyak yang menyukainya.
Alasan praktis adalah satu hal. Bisa gampang
dimasukkan ke dalam tas jinjing mereka, sehingga di
kesempatan sekecil apa pun, the last minute, masih
bisa melihat apakah garis alis tidak simetris. Atau
barangkali pemerah bibir yang rada blobor. Bisa juga
bedak yang terlalu tipis, atau malah ketebalan. Semua
dilakukan sebelum interaksi dengan siapa pun terjadi.

Sayang, kita cuma meperhatikan muka, kepala, dan
sedikit dada. Kita telah merasa pantas jika
bagian-bagian itu saja yang terlihat cantik. Cermin
sekecil itu, memang bisa apa ?

Lalu tiba-tiba rasa sakit muncul dari jari kakiku.
Rasa sakit ini pun sebenarnya mulai muncul beberapa
waktu lalu, namun karena kesibukanku, ambisiku,
membuat aku mengabaikannya. Kini kaki ini menjeritkan
kesakitannya secara lebih kencang, yang membuatku
harus menghentikan semua langkahku ke depan, karena
sudah terasa sekali sakit menderaku.

Kaki itu sudah terlalu parah. Dan akan lebih mudah
menjadi lebih parah daripada menyembuhkannya. Mungkin
akan sembuh, tetapi pasti lama. Dan bisa lebih
bengkak, meradang, busuk, dan pecah, yang tak akan
butuh waktu lama.

Mengapa aku selama ini mengabaikan kakiku ?
Kaki yang aku andalkan untuk memenuhi tugas dan
tanggungjawab serta ambisiku ?
Kaki yang harus bertaruh cepat dibanding kaki-kaki
orang lain yang hidup dalam persaingan dan ambisi yang
berlarian bersama atau berseberangan denganku ?

Oh...

Seandainya ada cermin besar, yang mampu menangkap
seluruh tubuhku, boleh jadi aku sempat memperhatikan
kakiku, sehatnya, atau kepantasannya.

Seandainya ada cermin besar, maka aku bisa melihat
semua secara utuh, bukan sepotong wajah, alis, pipi,
atau belahan rambutku.

Kini kaki itu, yang menjadi tumpuanku untuk melesat
berlari mengejar kehidupanku, sedang protes. Ada
banyak perhatian ke bagian-bagian lain di tubuhku,
tetapi tidak pada kaki. Kaki yang menginjak rumput,
dan akar rumput. Kaki yang lebih akrab dengan kaus
kaki busuk, dan remah-remah sisa pesta orang-orang
kaya. Kaki yang harus membawaku lari, ketika tentara
dan polisi mulai menembakkan senjatanya, karena
kehidupan politik yang entah-entah itu.

Bangsa ini perlu cermin besar. Jangan cuma mematut
wajah, dan menatap kerling mata. Tubuh bangsa ini
bukan cuma ada di wajah, tetapi percayalah, bakal
kapiran ketika kaki menolak diangkat, karena bengkak,
merah meradang, atau meletupkan nanahnya. Jangan
anggap bangsa ini telah berhasil, hanya karena kita
melihat di kaca kecil senyum tersungging. Bangsa ini
baru akan bergerak, ketika kaki dengan senang hati di
ajak.

Di ufik, aku dengar, kaki-kaki itu telah mulai
meneriakkan sakitnya. Dan kita tetap masih suka
bersolek dengan cermin kecil, yang terbelah.

Salam Damai.

=====
+==========================================================+
| Sugih durung karuwan, sombong didisikno...               |
| Nek kate banyolan, http://matpithi.cjb.net ae, rek... |
+==========================================================+

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Auctions - buy the things you want at great prices
http://auctions.yahoo.com/

...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 

Kirim email ke