Cak Gigih, Kawan-kawan,
Cermin besar itu cuma ada di pewayangan dan dalam mimpi. Dalam kenyataan,
masing-masing kita cuma memegang dan punya sebuah cermin kecil. Seandainya
kita mau telaten mendengar dan berbagi kabar dari manusia lain. Mencari tahu
gambar apa yang ada di cerminnya . Niscaya kita  akan punya gambar besar.

Wassalam,
Abdullah Hasan.

GIGIH NUSANTARA wrote:

> Cermin
>
> Hari-hari ini aku gelisah. Tiba-tiba terlihat oleh
> mataku, jari kakiku bernanah, bengkak, merah meradang.
> Tiba-tiba aku merasa getun, ketika aku lihat tungkai
> kakiku terlihat sangat kurus, penuh bopeng dan koreng.
> Tiba-tiba tumbuh begitu banyaks esal di hatiku, karena
> selama ini aku seolah mengabaikannya, meski aku telah
> menggunakannya untuk banyak hal, berjalan, berlari,
> bergayutan di bis kota, di mana kaki itu pula yang aku
> andalkan, ketika sibuk mencari nafkah, berlarian ke
> apotik ketika dikabarkan dari rumah istriku yang
> tiba-tiba sesak napas. Kaki....
>
> Terlintas di ingatanku, bagaimana keseharianku. Kaki
> terasa penat, untuk mengejar semua tugas, kewajiban,
> dan ambisiku. Pekerjaan-pekerjaan yang tak enteng,
> bukan karena aku lebih membuatnya berat, tetapi ketika
> udara di luar ikut membuatku berat. Ada sopir angkot
> yang lelet, pelan-pelan jalannya, tetapi kadang juga
> sangat ngebut mengejar setoran atau mengejar anak-anak
> yang naik sepeda motor serampangan, sehingga membuat
> aku merasa dikocok habis-habisan.
>
> Terlintas di ingatanku, ada kaca kecil di dekat toilet
> yang aku pakai memandang sekilas wajahku, rambutku,
> dandananku, karena harus segera bergegas untuk
> mengejar menit-menit yang berlalu dari semua yang
> harus aku isi dengan kegiatan itu. Hanya selintas, dan
> cuma cermin sekecil itu.
>
> Cermin kecil seperti itu banyak yang menyukainya.
> Alasan praktis adalah satu hal. Bisa gampang
> dimasukkan ke dalam tas jinjing mereka, sehingga di
> kesempatan sekecil apa pun, the last minute, masih
> bisa melihat apakah garis alis tidak simetris. Atau
> barangkali pemerah bibir yang rada blobor. Bisa juga
> bedak yang terlalu tipis, atau malah ketebalan. Semua
> dilakukan sebelum interaksi dengan siapa pun terjadi.
>
> Sayang, kita cuma meperhatikan muka, kepala, dan
> sedikit dada. Kita telah merasa pantas jika
> bagian-bagian itu saja yang terlihat cantik. Cermin
> sekecil itu, memang bisa apa ?
>
> Lalu tiba-tiba rasa sakit muncul dari jari kakiku.
> Rasa sakit ini pun sebenarnya mulai muncul beberapa
> waktu lalu, namun karena kesibukanku, ambisiku,
> membuat aku mengabaikannya. Kini kaki ini menjeritkan
> kesakitannya secara lebih kencang, yang membuatku
> harus menghentikan semua langkahku ke depan, karena
> sudah terasa sekali sakit menderaku.
>
> Kaki itu sudah terlalu parah. Dan akan lebih mudah
> menjadi lebih parah daripada menyembuhkannya. Mungkin
> akan sembuh, tetapi pasti lama. Dan bisa lebih
> bengkak, meradang, busuk, dan pecah, yang tak akan
> butuh waktu lama.
>
> Mengapa aku selama ini mengabaikan kakiku ?
> Kaki yang aku andalkan untuk memenuhi tugas dan
> tanggungjawab serta ambisiku ?
> Kaki yang harus bertaruh cepat dibanding kaki-kaki
> orang lain yang hidup dalam persaingan dan ambisi yang
> berlarian bersama atau berseberangan denganku ?
>
> Oh...
>
> Seandainya ada cermin besar, yang mampu menangkap
> seluruh tubuhku, boleh jadi aku sempat memperhatikan
> kakiku, sehatnya, atau kepantasannya.
>
> Seandainya ada cermin besar, maka aku bisa melihat
> semua secara utuh, bukan sepotong wajah, alis, pipi,
> atau belahan rambutku.
>
> Kini kaki itu, yang menjadi tumpuanku untuk melesat
> berlari mengejar kehidupanku, sedang protes. Ada
> banyak perhatian ke bagian-bagian lain di tubuhku,
> tetapi tidak pada kaki. Kaki yang menginjak rumput,
> dan akar rumput. Kaki yang lebih akrab dengan kaus
> kaki busuk, dan remah-remah sisa pesta orang-orang
> kaya. Kaki yang harus membawaku lari, ketika tentara
> dan polisi mulai menembakkan senjatanya, karena
> kehidupan politik yang entah-entah itu.
>
> Bangsa ini perlu cermin besar. Jangan cuma mematut
> wajah, dan menatap kerling mata. Tubuh bangsa ini
> bukan cuma ada di wajah, tetapi percayalah, bakal
> kapiran ketika kaki menolak diangkat, karena bengkak,
> merah meradang, atau meletupkan nanahnya. Jangan
> anggap bangsa ini telah berhasil, hanya karena kita
> melihat di kaca kecil senyum tersungging. Bangsa ini
> baru akan bergerak, ketika kaki dengan senang hati di
> ajak.
>
> Di ufik, aku dengar, kaki-kaki itu telah mulai
> meneriakkan sakitnya. Dan kita tetap masih suka
> bersolek dengan cermin kecil, yang terbelah.
>
> Salam Damai.
>
> =====


...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 

Kirim email ke