Melakukan kerjasama dengan pihak penerbit merupakan hal yang sangat bagus sekali. Namun itu sedikit menguras energi kita juga.
bagaimana kalau bekerjasama dengan Lembaga Pers Mahasiswa (formatnya mungkin kayak majalah Elektro Indonesia), atau bekerjasama dengan tiap himpunan ??? Kalau dilihat, menerbitkan buku lewat penerbit dan memajangnya pada toko buku dalam bentuk buku wah kelihatannya sangat exsclusive sekali bagi seorang mahasiswa (nggak tahu untuk orang umum). Tapi untuk pergi ke internet dan mendownload buku (yg kayak ada di Pandhu) kadang mahasiswa ogah-ogahan. Ironisnya mereka terkadang merasa terpaksa untuk ngenet gara-gara harus mencari materi untuk tugas2 yang diberikan dosen. Jadi surfing ke tempat2x lain selain artikel tugas2x (dan situs porno:) sangat jarang sekali terjadi. Untuk majalah kampus (seperti Maestro majalah Fak. Teknik UNUD) terbitnya tiap-tiap semester, dan setiap mahasiswa itu sudah pasti punya (walaupun jarang yg membacanya). Bagaimana kalo pengenalannya dilakuakan lewat media ini????? Biar untuk mahasiswanya langsung ngena. -- Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3

