Ikutan nimbrung ah. Saya juga bukan anggota KPLI manapun, tapi boleh kan 
ngalor-ngidul dikit. :)

Pendapat saya berikut murni pendapat pribadi:
1. Mari kita lihat bentuk2 user group/kelompok pengguna lain di Indonesia. 
Misalnya kelompok pengguna mobil Toyota Kijang, kelompok pemakai kamera 
Nikon, Harley Davidscon Club, dsb. Mereka mirip2 lah dikit ama KPLI. Sama2 
penggemar suatu produk. Anggotanya ikut kelompok itu untuk berbagi informasi, 
jualan barang bekas/baru terhadap sesama anggota. Ada nggak yang nyari 
duitnya sampai mesti bikin organisasi pembuat sertifikasi? Apakah 
Kijang Club bikin SIM khusus buat pengendara kijang profesional? Polda yg 
bikin. Polda dibikin pemerintah. Apakah Nikon Club bikin sertifikat 
fotografer? Ada Nikon School of Photography yg bikin, bukan klub pemakai 
Nikon. Yang bikin sekolah itu Nikon, bukan klub Nikon. Apakah HDC bikin SIM 
buat pengendara moge? Polda juga yang bikin. Jadi? Belum ada kelompok 
pengguna yang bikin usaha lain buat nyari duit.

2. Yayasan Linux Indonesia (atau apalah bentuk organisasinya, saya nggak 
begitu ngerti, tapi ngeliat 
http://www.ri.go.id/produk_uu/isi/uu2001/uu16%2701.htm yg dikasih tau Yudhi 
Kusnanto sih rasanya kurang cocok) mau bikin Authorized Certification Centre. 
Buat generik Linux distro apa buat spesifik produk/distribusi? Masak cuma 
sekedar 'Linux' yang jelas2 cuma kernel. Kalau mau dibandingkan dengan MCSE, 
RHCE, *E yg lain di mana kekuatannya? Sertifikasi *E yang lain itu memang 
dibikin oleh perusahaan pembuat produk (Microsoft, Red Hat, Cisco, dll, dsb). 
Kalau perusahaan menerima seorang pegawai yang punya sertifikasi RHCE, 
tentunya si bos percaya bahwa si pegawai emang gape tentang Red Hat, karena 
si Red Hat sendiri yang ngasih sertifikasi. Coba YLI bikin sertifikasi. YLI 
punya produk apa? Masak produk bikinan orang, yang bikinin sertifikat YLI? 
Oke lah, YLI harus kerja sama dengan vendor2 distro linux agar diakui. Vendor 
distro linux (kalo ada yg mau) kan punya standar sendiri. Mereka udah punya 
modul training/ujian sertifikasi sendiri. Trus YLI tinggal jualin aja dong 
modul2 itu (kayak distributor). Mau bikin modul sendiri? Paling-paling nggak 
diakuin sama si vendor. Paling banter kalo lobi+gosokannya jago, cuma dapet 
pengakuan dari pemerintah. Mau bikin modul generik? Bisa untuk sekedar 
pemakaian (end-user). Tapi kalau sudah menyangkut administrasi nggak jamin 
deh. Sudah ada yang ngasih contoh sebelumnya (mas Adi Nugroho kayaknya).

3. Gimana sih caranya untuk mendapatkan pengakuan pemerintah atas suatu 
sertifikasi? Bukannya pemerintah harus terlibat juga dalam pembuatan ujian 
sertifikasi itu (alias: audit). Sebelum audit, berarti pemerintah juga harus 
bikin suatu standar dulu dong buat melakukan audit. Emangnya sudah ada? 
(Ujung2nya, proyek lagi deh).


Kesimpulan pribadi:
Idenya manis, tapi baunya amis.

Saran pribadi:
Kalau mau nolong, nggak usah pake pamrih. Kalo mau usaha, nggak usah pake 
janji muluk2 (non-profit?). Bikin aja perusahaan komersial biasa. Atau 
asosiasi apa kek. Nggak usah maksa orang nyetor duit/modal, tapi kalo maksa 
pengakuan/legitimasi/semacamnya dari perusahaan lain boleh deh.

Hanya sekedar pendapat pribadi lhoooo! Boleh dikomentarin boleh nggak.

Salam,

Haris

-- 
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3

Kirim email ke