On Wed, 24 Apr 2002, adi wrote: > On Wed, Apr 24, 2002 at 01:08:36PM -0400, Utari W. J. wrote: > > klo perusahaannya ga ngerti linux, ingin merekrut pegawai yang memahami > > linux, apa mereka harus belajar linux dulu? > > Ada yang salah dengan itu? kalau perusahaan mau mengexplorasi > linux, ya mesti belajar dong. Untuk apa merekrut orang yang ngerti > linux, kalau nggak ngerti mau ngapain dengan linux? kalau perlu > membayar karyawannya agar ikutan training (pack :p).
ga semua perusahaan seperti itu .. some just want to change their system and their mainstream is not on IT. > > sebagai contoh kongkrit, bahasa inggris. ada tes TOEFL > > like, TOEFL institusional, ada juga yang standar internasional. > > TOEFL institusional? Ketoprak humor :p mboh ah .. kok malah mbablas ndek endi-endi :) > > .. saat dia menghasilkan produk yang kebablasan .. yang sudah lupa > > tujuan awal, orang-orang mempunyai landasan untuk mengingatkan. > > konsumen langsung dari sertifikat yang akan mengontrol. perusahaan. > itu pasti. dan kalau perusahaan kagak butuh. jangan harap akan ada > orang berpusing ria dengan sertifikat itu. klo dari diskusi yang kemarin-kemarin, peserta sertifikasi juga terkait karena muncul kekhawatiran bahwa sertifikasi akan menjadi suatu standar baru, tanpa sertifikasi kemampuan tidak akan mendapat pengakuan. sementara biaya untuk ikut sertifikasi mahal (padahal belum tentu). (dan dari diskusi yang ada, belum terbukti .. karena yang namanya sertifikasi pun bervariasi ragamnya). wassalam, oet -- Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED] Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3

