Sebetulnya IMHO membahas KDE vs GNOME tidak sia-sia asalkan bisa jadi
masukan untuk memperbaiki kedua-duanya. Yang jelas level diskusinya
jangan sekedar ala Slashdot, misalnya sesuatu yang terlalu berhubungan
dengan selera ("KDE warnanya terlalu meriah", "Icon di GNOME terlalu
datar", siapa sih yang bisa menyalahkan selera?), atau klaim yang
tidak didukung fakta ("KDE boros memori", "GNOME lambat banget", tapi
tidak ada analisisnya), apalagi salah pemahaman lisensi (GPL vs
LGPL...) karena yang seperti ini justru cenderung menghasilkan
flamewar semata.Sebagai ilustrasi analisis performansi Nautilus versi lama (waktu masih jaman Eazel) oleh Alan Cox memungkinkan pekerjaan optimasi kecepatan di versi yang berikutnya. Navigasi Konqueror belakangan semakin mulus dengan optimasi rendering hasil Enrico Ros. Muncul mailing-list seperti kde-optimize untuk diskusi optimasi yang lebih luas. Valgrind dan KCacheGrind juga semakin banyak digunakan untuk menentukan letak masalah kecepatan dan pemakaian memori. Googlebar di Konqueror versi baru boleh jadi diinspirasi oleh Firefox. Masalah dan solusi a11y di GNOME juga membawa kemajuan dengan dibangkitkannya isu yang sama di KDE. Freedesktop.org lahir untuk lebih menyeragamkan desktop environment dengan beragam standar. (Sorry kalau terlalu developer point-of-view.) -- Ariya Hidayat http://www.google.com/search?q=ariya+kde&btnI -- Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis.php

