On Sun, 11 Jul 2004, PenguinMan wrote: > Made Wiryana wrote: > > > >Bisa dijelaskan maksud usability ini, terminologi ini makin sering > >diabuse mirip jaman terminologi "user friendly"
> Ok, tt masalah usability bisa dilihat pada link yang saya post pada imel > sebelumnya..... Link mana ? bisa diulang, saya menggunakan terminologi seperti yg biasa digunakan di buku-buku HCI (Schneiderman, Thimbleby.. dsb). > >atau Mandrake, SuSe, Fedora dsb. Lebih kepada kondisi lapangan alias > >keterbatasan materi utk sosialisasi. (Bayangkan dalam 1 kelas isi 40 anda > >harus sendirian mengajari semua siswa yang lebih sering pertanayaany > >"Pak kalau pakai Windows begini, terus ini bagaimana ?"), > saya pilih angka dua karena saya lahir tanggal dua.... :) Mudah-mudahan bukan karena terbiasa memilih nomor dua ketika pemilu he h ehe > banyak variasi ok, tapi sumber daya payah. Dua, sumber daya ok, variasi > ok. Maksudnya dua itu masih bisa ditoleransi untuk masalah sumber daya. > Saya juga kepikiran kok masalah sumber daya. Hm... kalau 2 desktop berarti anda harus membuat (misal mau mengajarkan ke anak SMK/A dan guru SMK/A) - Buku pegangan pengajar - Buku murid Ini semua dikali 2. Ini yang saya sebut masalah resource. > >pengguna tersebut (usability selalu bergantung environment, group of user, > >task). Berdasarkan polling di LN jelas akan memberikan hasil yg berbeda > >dg kondisi di lapangan (misal ketika mengajar ke hadapan siswa atau guru > >SMK, yg dihadapi Bona cs). > Yah, udahlah kalau sampai masalah lapangan..... itu hak istimewanya orang > yang terjun di lapangan. Cuma ingin menambahkan setidaknya kan Gnome 2.x > punya nilai plus, yaitu sudah ada terjemahan indonesianya. Kalau KDE 3.x > kan ( setahu saya ) masih belum selesai. Kan orang lebih familiar dengan > bahasa indonesia. Justru ini masalah lapangan je 8-), kendala mengajarkan kenapa akhirnya banyak pilihan teman-teman ke KDE adalah karena pertimbangan lapangan (familiaritas pengajar, familiaritas siswa), dan ini kurang/tidak terkait dg feature atau kemampuan dari KDE vs GNOME itu sendiri. > >Apalagi kalau adanya manual pengajaran yg pakai KDE, dan nggak ada yg > >nyumbang manual pengajran pakai GNOME. > What r u talking about, Mister I Made Wiryana? Mengajar desktop butuh > manual? Terus apa gunanya Help? Applications->Help.... Di situ kan sudah > ada manual Gnome..... Kita kan tidak mengajar orang untuk men-setup Hehe dari sini tampak Anda perlu merasakan mengajarkan ke orang banyak yg biasa-biasa saja (non techie), tanpa manual pengajaran walau ada Help->Application akan sulit sekali. Apalagi online Help ini tidak mengcover semuanya. (saya pernah menerjemahkan DocBOok utk KDE 2.x jadi tahu bagaimana masalah antara manual dg program itu sendiri). Justru karena buat mengajar user biasa, makanya tidak bisa hanya ber"modal"kan online help, man, info, dan howto saja. Perlu manual (atau panduan) lainnya. Jangankan di Indonesia (dengan online Help masih sangat terbatas dalam bahasa Indoensia), di Jerman yg orangnya dan sistemnya lebih lengkap bahasa Indonesianya saja, tetap dibutuhkan banyak buku pengantar utk penggunaan tersebut (yg mduah dicerena dan banyak gambar) > server. Kita kan mengajar orang untuk memakai desktop manager yang user > friendly. Kecuali masalah bahasa, kalau sampai orang mesti sering-sering > melihat manual, buku panduan, untuk menggunakan desktop manager, itu > berarti tujuan dari desktop manager yang user friendly seperti KDE atau > Gnome belum kesampaian. Tapi saya pikir KDE atau Gnome sudah > "melaksanakan" tugasnya dengan baik. Paling ajari mereka terminologi > komputer, "sedikit" linux, selesai deh. H eh ehe di lapangan bicara lain. Help, dsb tidak akan cukup. Utk sosialisasi akan dibutuhkan minimal buku yg saya sebutkan di atas (saya ulangi lagi) 1. Panduan buat siswa 2. Panduan buat pengajar Ditambah lainnya misal 1. Referensi singkat misal "di Windows gimana di KDE/GNOME gimana" 2. Slide buat mengajar di kelas Lain kalau yg diajar itu cuma 2-3 orang dan yg udah memang niat. Menghadpi 30 orang satu kelas dengan niatan yg berbeda-beda akan membutuhkan perangkat bantu yg utk persiapannya membutuhkan waktu. Akhirnya akan mentok-mentok di lapangan adala masalah resource 1. Pengajar biasanya pakai desktop apa atau distro apa 2. Materi pengajaran yg telah ada, berdasarkan distro/desktop apa. Kalau toh Anda tidak setuju, mudah saja. Yaitu lengkapi panduan/alat bantu agar mengajarkan lebih dari 1 desktop tersebut bisa terlaksana (secara pribadi saya juga mendukung). Bona tinggal menerima dan menggunakannya, dan akan bersedia sekali koq saya rasa. IMW -- Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED] Arsip dan info: http://linux.or.id/milis.php

